TO
whom it may concern:
This
is to certify that Miss Saveeyah Chedo
has fulfilled all requirements for
obtaining master degree in the Linguistics study program, at Gadjah Mada University. She has passed these
following courses:
1. Academic
English (SAL-600): This course is intended to give insights about English
variation used in academic activities for enabling the students preparing
English academic writings and
participating in international seminars.
2. Philosophy
of science (SAL-602): This is the study about the philosophical principles
underlying of any scientific works, such
as what are science, method, theory,
etc. and how they interact in the scientific investigations.
3. General
Linguistics I (SAL 604), General Linguistics II (SAL 626): These are advance courses about theoretical linguistics that study in depth about linguistic
system of a language including phonology, morphology, syntax, and
semantics. This course is enriched with
linguistic problems exist in Bahasa Indonesia, Local languages of Indonesia and
Languages outside Indonesia.
4. Method
of Linguistics (SAL 605): This course
give insight to the students about the procedures have to be done by anyone conducting linguistics
research, such as how to collect data, how to analyze , and how to present them
in linguistic work.
5. Theory
of Linguistics (SAL 607): This is a course that intends to give the students
various theories that develop in linguistics, such as structural, relational
grammar, case grammar, transformation, tagmemic, etc.
6. Pragmatics
and Discourse analysis: This course is broadly discuss the use of language in
real context, and principles of how to handle the linguistic units above the
sentence, such as paragraph, conversation, passage, etc.
7. Applied
Linguistics (SAL 628): This is a course about the importance of linguistic
knowledge for handling practical activities, such as dictionary compilation,
language teaching, translating, interpreting, etc.
8. English
Linguistics (SAL 630): This course is especially prepared for students that
have interest in English Linguistic Problems. This course considers very
prospective and give a lot of benefit for their future career, as English
teacher, instructor, and scientist as well.
9. Language,
Cognition, and Culture (SAL 633): This is a course concerning the interrelation
of human cognition, linguistic expressions, and their culture. By following
this course, it is expected that the students will fully understand the they
are interdependent each other.
10. Local
Language (SAL 650): This course in designed to enable the students handling
various problems exist in their local or regional languages. In Indonesian
context, this course is considered very important because of the great number
of local languages that spread in the archipelago.
11. Psycholinguistics
(SAL 660): The course is about the relation between linguistic expressions and
human mind that include linguistic production, perception, acquisition, as well
as how human brain plays its role in producing and perceiving linguistic
expressions.
12. Historical
and Comparative Linguistics (SAL 603): This course is a study about genetic or
genealogical relation among languages that belong to the same language group.
In this course the students are taught how to reconstruct the related languages and determine the
etymons from their reflects by using various methods, such as lexicostatistics,
dialectology,
bottom up and top down
reconstructions.
13. Sociolinguistics
(SAL 606): This course subject deals with the linguistic variations as result
of the heterogeneity of its speech community. It discuss comprehensively
various linguistic variation, such as regional variation, social variation,
register, language contact and its consequences, such as bilingualism, multilingualism,
code choice, code switching, code mixing, interference, transference, borrowings, etc.
14. Language
Description (SAL 620); This subject is intended to give the students an
exercise of how to make a comprehensive description concerning a particular
aspect of linguistic problem found in any language. The description can relate
with phonological, morphological, syntactic, as well as semantic problem of
that language.
15. Dialectology
(SAL 621): This is a course about regional variation of a language. This course
give the students very extensive
discussions about topics related with the subject, such as
isogloss, bundle of
isogloss, linguistic variations, retentions, innovations, relic, enclave, etc.
16. Seminar
(SAL 780): This is a course that intended for preparing the students discussing
their
thesis proposal in
class seminar attended by the whole students and two senior lectures.
It is expected that the
students will get a lot of constructive comments for their thesis writing.
17. Thesis
(SAL 799): Before finishing their study, all students are required to write a
comprehensive thesis (about 10.000 words) concerning an actual linguistic
problem exists primarily in their mother tongue or their mostly or well mastered language. This
task can be written either in Bahasa
Indonesia or English. The thesis must be defended or maintained
In the front of Board
of examiner consisting of at least 4 lecturers.
Yogyakarta, July,
9th 2013
Coordinator of
post graduate linguistics study program
(Prof. Dr. I
Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.)
BAB I
LINGUISTIK DAN SOSIOLINGUISTIK
1.1 Linguistik
Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa. Bahasa
adalah alat komunikasi verbal manusia yang perwujudannya dapat berupa bahasa
lisan maupun bahasa tulisan. Dikatakan sebagai alat komunikasi verbal karena alat komunikasi ini didasarkan pada satuan-satuan lingual yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia. Satuan-satuan lingual itu berupa bunyi-bunyi
bahasa yang dikombinasikan berdasarkan sistem atau aturan-aturan yang berlaku
dalam bahasa tertentu. Bunyi-bunyi bahasa yang disusun menghasilkan berbagai
jenis satuan lingual, seperti suku kata, kata frase, klausa, kalimat, paragraf,
dan wacana. Pada hakikatnya bahasa yang
utama adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulisan adalah wakil dari bahasa
lisan. Bahasa tulisan dihasilkan bila para penutur karena alasan tertentu tidak
mungkin melakukan komunikasi yang langsung atau komunikasi semuka. Karena
sifatnya yang demikian itu bahasa lisan dikatakan sebagai objek primer
linguistik, sedangkan bahasa tulisan dikatakan sebagai objek sekundernya.
Walaupun merupakan objek sekunder,
tidaklah berarti orang-orang tidak memungkinkan menggunakan bahasa tulisan
sebagai data utama linguistik. Di dalam melakukan penelitian boleh saja seorang
menggunakan bahasa tulisan atau data yang bersifat tertulis, asal peneliti
secara pasti mengetahui bagaimana bentuk lisan dari data tertulis itu. Meskipun
patut diakui bahwa untuk penelitian-penelitian tertentu, seperti penelitian
terhadap bahasa-bahasa kuno atau bahasa yang sudah mati atau bahasa yang tidak
ada lagi penuturnya, penggunaan data lisan memang tidak memungkinkan.
Sistem
bahasa yang menjadi objek kajian linguistik mencakup aspek yang sangat luas.
Oleh karena itu, linguistik memerlukan berbagai cabang untuk menengani berbagai
macam aspek yang menjadi objek kajiannya. Dalam hubungan dengan ini
sekurang-kurangnya ada 5 macam cabang ilmu bahasa yang khusus menangani sistem
bahasa secara internal. Cabang-cabang itu adalah fonologi, morfologi,
sintaksis, semantik, dan analisis wacana.
Fonologi: adalah cabang ilmu bahasa yang menangani
sistem bunyi bahasa. Lingkup dari kajian fonologi adalah bunyi sampai dengan
suku kata. Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang menangani masalah seluk
beluk kata dengan berbagai proses pembentukannya. Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang bertugas menangani masalah
penggabungan kata menjadi satuan yang lebih besar, seperti frase, klausa, dan
kalimat. Semantik adalah cabang ilmu
bahasa yang mempelajari makna satuan kebahasaan. Satuan kebahasaan dari morfem,
leksem, kata, frase, kalimat, dan wacana memiliki makna. Bunyi dan suku kata
tidak memiliki makna walaupun ada yang berfungsi sebagai pembeda makna.
Analisis Wacana adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari satuan-satuan
kebahasaan yang memiliki amanat yang lengkap. Lazimnya satuan yang disebut
wacana memiliki tataran di atas kalimat. Wacana adalah satuan linguistik yang
paling besar, sedangkan satuan linguistik yang paling kecil adalah bunyi.
Kesemua cabang ilmu bahasa di atas
membahas elemen-elemen bahasa secara internal, tanpa melihat kemungkinan adanya
faktor-faktor eksternal (luar bahasa) yang memungkinkan untuk memunculkan
berbagai variasi kebahasaan. Dalam linguistik yang bersifat formal ini semua
variasi bahasa muncul murni akibat faktor linguistik, bukan karena faktor luar
bahasa. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh-contoh berikut ini.
(1) Membeli, memukul, menentang,
menendang, mencampur, menyumbat, mengambil, menghasut, dsb.
> Afiks Mә{N}- dapat bervariasi
menjadi mәm, mәn, mәny, mәŋ, dsb.
karena pengaruh jenis bunyi yang mengikutinya, yakni bilabial, apikoalveolar,
lamino palatal, dorsovelar, dsb.
(2) Bibi, bibir, bubu, bubur, lele,
leleh, toko, tokoh, dsb. > Vokal [i], [u], [e], dan [o]
dapat berubah menjadi [I], [U], [o], [E],
dan [O] karena hadirnya konsonan di
akhir kata sehingga mengubah suku terbuka menjadi suku terutup.
(3) Amba, ambane, kanca, kancane, teka,
tekane, dsb > Bunyi /O/ berubah menjade /a/ dalam
bahasa Jawa karena hadirnya morfem {-ne} yang dilekatkan di akhir bentuk dasar.
(4) Cats, cads, roots, rooms, dan bridges, dsb. >
Morfem jamak bahasa Inggris {S} dapat
berubah bentuk menjadi {s},{z}, dan {eZ} karena bunyi akhir bentuk dasar yang dilekatinya. Bila melekat
pada bentuk dasar yang berakhir bunyi tidak bersuara akan menjadi {s}, bila melekat pada bentuk dasar yang
berakhir bunyi bersuara akan menjadi {z},
sedangkan bila melekat pada bentuk dasar yang berakhir bunyi desis (sibilant) akan menjadi {eZ}
(5) Jahit, jahat, pahat, tahun,
dsb. > bunyi /h/ yang berdistribusi
di antara vokal akan berealisasi menjadi /h/ atau /φ/. Bila vokal yang mengapitnya sama, bunyi
ini cenderung akan muncul sebagai /h/, sedangkan bila tidak sama cenderung akan
berealisasi sebagai /φ/.
Lima
fenomena di atas adalah sedikit dari sekian banyak contoh yang mampu
menerangkan bahwa keberadaan variasi di dalam bahasa adalah semata-mata karena
pengaruh faktor internal bahasa. Linguistik adalah cabang ilmu bahasa yang
semata-mata mempelajari sistem bahasa yang bersifat internal, dan memandang
bahwa keberadaan variasi bahasa juga karena faktor-faktor kebahasaan.
Sehubungan dengan ini dikemukakan oleh Chomsky (1965, 3-4) bahwa:
“Teori
linguistik terutama berkenaan dengan penutur dan lawan tutur yang ideal, di
dalam masyarakat bahasa yang benar-benar homogen, yang secara sempurna
menguasai bahasanya, dan tidak terpengaruh oleh kondisi gramatikal yang tidak
relevan, seperti terbatasnya ingatan, kurang perhatian, dan berbagai kesalahan
di dalam menerapkan pengetahuan kebahasaannya pada tindak kebahasaan yang
aktual. … Di dalam mempelajari performansi linguistik yang sebenarnya,
seseorang memang harus mempertimbangkan interaksi berbagai macam faktor, tetapi
kompetensi yang mendasarinya hanya satu. Dalam hal ini studi bahasa tidak
ubahnya dengan studi empiris tentang berbagai fenomena yang kompleks”.
Kutipan
di atas menyarankan bahwa kompetensi yang dimiliki oleh penutur lebih penting
dibandingkan dengan performansi linguistiknya. Hal ini membawa konsekuensi
bahwa setiap performansi linguistik dianggap sebagai seuatu yang kurang
penting, dan kehadirannya selalu disebabkan oleh kondisi-kondisi gramatikal
yang tidak relevan. Hal inilah yang menjadi keberatan para ahli
sosiolinguistik, seperti yang akan diuraikan dalam 1.2 di bawah ini.
1.2 Sosiolinguistik
Sosiolinguistik
adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara bahasa dengan
faktor-faktor kemasyarakatan. Faktor
kemasyarakatan adalah faktor yang yang bersifat luar bahasa (ekstra
lingual). Sering juga disebut dengan
faktor eksternal. Bagi ahli-ahli sosiolinguistik (sosiolinguis), bahasa selalu
bervariasi, dan variasi bahasa ini disebabkan oleh faktor-faktor
kemasyarakatan, seperti siapa penuturnya, orang-orang yang terlibat di dalam
pertuturan, di mana pertuturan berlangsung, untuk apa pertuturan itu diutarakan,
dsb. Masyarakat bahasa di dalam kaca mata sosiolinguistik tidak pernah
homogeny, tetapi selalu heterogen. Artinya orang-orang yang menggunakan bahasa
selalu beragam-ragam, baik dilihat dari usia, status sosial, status ekonomi,
pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, dsb. Demikian juga identitas orang yang
diajak berbicara. Waktu diutarakannya tuturan juga bermacam-macam, dapat malam
hari, siang hari, tengah malam, dsb. Tempat berlangsungnya pertuturan juga
mungkin di tempat pernikahan, di sekolah, di pengadilan, di tempat ronda, dsb.
Suasana pertuturan juga mungkin beragam, bisa sangat resmi, setengah resmi,
sangat tidak resmi, dsb. Karena faktor kemasyarakatan yang tidak pernah homogen
inilah, kemudian muncul variasi bahasa yang sangat banyak jumlahnya, masing-masing
dengan karakteristiknya sendiri. Variasi bahasa inilah yang menjadi pusat
perhatian dari kajian sosiolinguistik. Dalam sudut pandang sosiolinguistik
masyarakat bahasa yang homogen tidak pernah ada dalam kenyataan, tetapi
hanyalah angan-angan yang direka untuk memudahkan para teoretisi bahasa untuk
menguraikan aspek-aspek bahasa yang bersifat internal.
Variasi bahasa
memang ada yang keberadaannya disebabkan oleh faktor-faktor yang internal. Akan
tetapi fakta ini hendaknya tidak boleh mengecilkan peranan faktor-faktor
ekstralingual di dalam mempengaruhi wujud bahasa. Jangan sampai semua variasi
bahasa yang ada dikatakan sebagai akibat dari adanya kondisi gramatikal yang kurang relevan. Di
dalam pemakaian bahasa jelas sekali dapat dibuktikan akan adanya variasi bahasa
yang keberadaannya dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti siapa yang
berbicara, dengan siapa orang itu berbicara, kapan dia berbicara, di mana ia
berbicara, dan untuk tujuan apa dia berbicara. Fakta-fakta inilah yang melatarbelakangi
timbulnya studi bahasa yang berusaha melihat keterkaitan bahasa dengan
faktor-faktor kemasyarakatan yang sekarang ini secara luas dikenal dengan
sosiolinguistik. Sebagai sekadar contoh adanya relasi bahasa dan masyarakat
dapat dilihat paparan berikut ini:
(1) Di
dalam pemakaian bahasa, tidak pernah ditemui dua individu yang memiliki bahasa
atau gaya berbahasa yang persis sama. Setiap individu tentu saja tidak memiliki
organ bicara yang benar-benar sama sehingga dimungkinkan masing-masing
menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dengan kualitas yang berbeda. Masing-masing
individu dimungkinkan pula memiliki kebiasaan menggunakan kosa kata tertentu
yang berbeda dengan individu yang lain sehingga bahasa yang ditampilkan juga
berbeda. Ada yang senang mengumpat dengan kata celaka. Ada yang senang menggunakan kata ngarang dalam kasus melihat orang yang berbohong . Ada yang gemar
menggunakan kata sesungguhnya. Ada
yang senang menggunakan kata ya di
akhir kalimat. Ada yang senang menggunakan tegun e..e.. sebagai sarana berpikir sebelum
melanjutan ujarannya, dsb. Variasi bahasa yang bersifat individual ini disebut idiolek.
(2) Orang-orang
yang bertempat tinggal di daerah yang berbeda-beda memungkinkan menggunakan
variasi bahasa yang berbeda dari sistem bahasa yang sama. Misalnya orang Jawa
yang berasal dari Jawa Timur menggunakan variasi bahasa yang berbeda dengan
orang Jawa yang berasal dari Jawa Tengah (Solo dan Yogya), orang Jawa yang
berasal dari dareah Banyumas.
Orang
Jawa Timur mengucapkan [tIkUs] ‘tikus’, orang Jawa di Solo dan Yogya
mengucapkan [tikUs]. Orang Jawa dari Banyumas mengucapkan [sega] ‘nasi’, [tEmpE]
‘tempe’, dan [tәka?] ‘datang’, sedangkan orang Jawa dari Jawa Tengah dan Jawa
Timur mengucapkannya dengan [sәgO], [tempe], dan [tәkO]. Orang Bali yang
berasal dari daerah selatan menggunakan kata [tәpu?] ‘lihat’, sedangkan yang di
Bali Utara menggunkan [nOt]. Variasi yang bersifat kedaerahan (regional) ini
disebut dengan dialek, dan ilmu yang mempelajari dialek disebut dialektologi.
3. Variasi bahasa dapat pula muncul
karena situasi pertuturan. Pertuturan yang bersifat resmi atau formal menggunakan variasi yang berbeda dengan
pertuturan yang tidak resmi. Kata-kata dalam bahasa Indonesia bikin, dulu, tak, kan, dsb. biasanya
digunakan dalam situasi yang tidak formal. Di dalam tuturan yang formal
digunakan kata membuat, dahulu, tidak,
akan, dsb. Frase ini anak, itu buku bersifat informal, sedangkan bentuk
formalnya adalah anak ini dan buku itu.
Dalam bahasa Inggris ada variasi I’m, you’d, I’ll, dsb. yang digunakan di
dalam pemakaian yang informal. Dalam situasi yang formal digunakan bentuk yang
lebih lengkap I am, you would atau you had, I will, dsb. Variasi bahasa
yang dibedakan berdasarkan situasi pertuturannya disebut dengan ragam (style).
4.
Orang yang memiliki usia yang berbeda memungkinkan pula memiliki bahasa
yang berbeda. Anak-anak memiliki bahasa yang berbeda dengan remaja, dengan
orang dewasa, dan orang tua. Kosa kata seperti bubuk ‘tidur’, maam
‘makan’, pipis ‘buang air kecil’, eek atau pup ‘buang air besar’ adalah kosa kata untuk anak-anak. Anak-anak
remaja juga memiliki kosa kata yang berbeda dengan kelompok usia lainnya.
Misalnya kata meneketehe
‘manakutahu’, konsen ‘konsentrasi’, BTW ‘by the way, omong-omong’, OTW ‘on the
way, di jalan’, BT ‘bad tempered, lagi marah’ adalah bentuk-bentuk yang
digunakan oleh para remaja di dalam situasi pertuturan yang akrab. Orang dewasa
mungkin juga menggunakan tuturan ini, tetapi dalam jumlah yang sangat terbatas.
Orang-orang tua mungkin sudah tidak
menggunakan variasi bahasa ini karena merasa sudah tidak pantas walaupun semasa
remaja mereka juga menggunakan.
5. Orang-orang yang termasuk ke dalam
kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi memiliki bahasa yang berbeda bila
dibandingkan dengan kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah. Kelompok sosial
ekonomi tinggi biasa menggunakan kosa kata mama
‘ibu, papa ‘ayah’, tante ‘bibi’, om ‘paman’, dsb. Sementara
itu, masyarakat kelas bawah menggunakan ibu, bapak, bibi, paman. Bila
berhubungan dengan penutur bahasa Jawa, akan digunakan kata bapak, ibu, si mbok ‘ibu’, Bulik ‘bibi’,
Pak Lik ‘paman’ atau Pak Dhe, dsb. Variasi bahasa yang didasarkan pada kelas sosial
disebut sosiolek.
Variasi
bahasa yang terdapat di dalam suatu bahasa sangat banyak jumlahnya dan sangat
rumit persoalannya. Satu sama lain sering kali sulit dibedakan, dan ada
kemungkinan pula antara variasi yang satu dengan yang lain berkombinasi di
dalam pemakaiannya. Variasi-variasi bahasa yang baru sempat sebagian kecil diuraikan di atas jelas bukan disebabkan oleh
kondisi gramatikal yang kurang relevan, tetapi benar-benar disadari oleh
pemakaiannya yang dilatarbelakangi oleh faktor-faktor eksternal yang telah disebutkan
di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar