Minggu, 30 Agustus 2015

SOSIOLINGUISTIK





TO whom it may concern:
This is to certify that  Miss Saveeyah Chedo has fulfilled  all requirements for obtaining master degree in the Linguistics study program, at  Gadjah Mada University. She has passed these following courses:

1.      Academic English (SAL-600): This course is intended to give insights about English variation used in academic activities for enabling the students preparing English academic  writings and participating in international seminars.
2.      Philosophy of science (SAL-602): This is the study about the philosophical principles underlying of any scientific  works, such as what are science,  method, theory, etc. and how they interact in the scientific investigations.
3.      General Linguistics I (SAL 604), General Linguistics II (SAL 626): These  are advance courses about  theoretical linguistics that  study in depth about  linguistic  system of a language including phonology, morphology, syntax, and semantics. This course is enriched  with linguistic problems exist in Bahasa Indonesia, Local languages of Indonesia and Languages outside Indonesia.  
4.      Method of Linguistics (SAL  605): This course give insight to the students about the procedures have  to be done by anyone conducting linguistics research, such as how to collect data, how to analyze , and how to present them in linguistic work.
5.      Theory of Linguistics (SAL 607): This is a course that intends to give the students various theories that develop in linguistics, such as structural, relational grammar, case grammar, transformation, tagmemic, etc.   
6.      Pragmatics and Discourse analysis: This course is broadly discuss the use of language in real context, and principles of how to handle the linguistic units above the sentence, such as paragraph, conversation, passage, etc.             
7.      Applied Linguistics (SAL 628): This is a course about the importance of linguistic knowledge for handling practical activities, such as dictionary compilation, language teaching, translating, interpreting, etc. 
8.      English Linguistics (SAL 630): This course is especially prepared for students that have interest in English Linguistic Problems. This course considers very prospective and give a lot of benefit for their future career, as English teacher, instructor, and scientist as well.  
9.      Language, Cognition, and Culture (SAL 633): This is a course concerning the interrelation of human cognition, linguistic expressions, and their culture. By following this course, it is expected that the students will fully understand the they are interdependent each other.
10.  Local Language (SAL 650): This course in designed to enable the students handling various problems exist in their local or regional languages. In Indonesian context, this course is considered very important because of the great number of local languages that spread in the archipelago.
11.  Psycholinguistics (SAL 660): The course is about the relation between linguistic expressions and human mind that include linguistic production, perception, acquisition, as well as how human brain plays its role in producing and perceiving linguistic expressions.     
12.  Historical and Comparative Linguistics (SAL 603): This course is a study about genetic or genealogical relation among languages that belong to the same language group. In this course the students are taught how to reconstruct  the related languages and determine the etymons from their reflects by using various methods, such as lexicostatistics, dialectology,
bottom up and top down reconstructions.
13.  Sociolinguistics (SAL 606): This course subject deals with the linguistic variations as result of the heterogeneity of its speech community. It discuss comprehensively various linguistic variation, such as regional variation, social variation, register, language contact and its consequences, such as bilingualism, multilingualism, code choice, code switching, code mixing, interference, transference,  borrowings, etc. 
14.  Language Description (SAL 620); This subject is intended to give the students an exercise of how to make a comprehensive description concerning a particular aspect of linguistic problem found in any language. The description can relate with phonological, morphological, syntactic, as well as semantic problem of that language.
15.  Dialectology (SAL 621): This is a course about regional variation of a language. This course give the students  very extensive discussions about topics related with the subject, such as
isogloss, bundle of isogloss, linguistic variations, retentions, innovations, relic, enclave, etc.
16.  Seminar (SAL 780): This is a course that intended for preparing the students discussing their
thesis proposal in class seminar attended by the whole students and two senior lectures.
It is expected that the students will get a lot of constructive comments for their thesis writing.
17.  Thesis (SAL 799): Before finishing their study, all students are required to write a comprehensive thesis (about 10.000 words) concerning an actual linguistic problem exists primarily in their mother tongue or  their mostly or well mastered language. This task can be written either in  Bahasa Indonesia or English. The thesis must be defended or maintained
In the front of Board of examiner consisting of at least 4 lecturers.

 

                                                                 
Yogyakarta, July, 9th 2013
Coordinator of post graduate linguistics study program


(Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.)

                 
        

              
BAB I
LINGUISTIK DAN SOSIOLINGUISTIK
1.1  Linguistik
       Linguistik  adalah ilmu yang mempelajari bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi verbal manusia yang perwujudannya dapat berupa bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Dikatakan sebagai alat komunikasi verbal  karena alat komunikasi ini  didasarkan pada satuan-satuan lingual yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Satuan-satuan lingual itu berupa bunyi-bunyi bahasa yang dikombinasikan berdasarkan sistem atau aturan-aturan yang berlaku dalam bahasa tertentu. Bunyi-bunyi bahasa yang disusun menghasilkan berbagai jenis satuan lingual, seperti suku kata, kata frase, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana.  Pada hakikatnya bahasa yang utama adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulisan adalah wakil dari bahasa lisan. Bahasa tulisan dihasilkan bila para penutur karena alasan tertentu tidak mungkin melakukan komunikasi yang langsung atau komunikasi semuka. Karena sifatnya yang demikian itu bahasa lisan dikatakan sebagai objek primer linguistik, sedangkan bahasa tulisan dikatakan sebagai objek sekundernya.
       Walaupun merupakan objek sekunder, tidaklah berarti orang-orang tidak memungkinkan menggunakan bahasa tulisan sebagai data utama linguistik. Di dalam melakukan penelitian boleh saja seorang menggunakan bahasa tulisan atau data yang bersifat tertulis, asal peneliti secara pasti mengetahui bagaimana bentuk lisan dari data tertulis itu. Meskipun patut diakui bahwa untuk penelitian-penelitian tertentu, seperti penelitian terhadap bahasa-bahasa kuno atau bahasa yang sudah mati atau bahasa yang tidak ada lagi penuturnya, penggunaan data lisan memang tidak memungkinkan.    
Sistem bahasa yang menjadi objek kajian linguistik mencakup aspek yang sangat luas. Oleh karena itu, linguistik memerlukan berbagai cabang untuk menengani berbagai macam aspek yang menjadi objek kajiannya. Dalam hubungan dengan ini sekurang-kurangnya ada 5 macam cabang ilmu bahasa yang khusus menangani sistem bahasa secara internal. Cabang-cabang itu adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan analisis wacana.
Fonologi:  adalah cabang ilmu bahasa yang menangani sistem bunyi bahasa. Lingkup dari kajian fonologi adalah bunyi sampai dengan suku kata.  Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang menangani masalah seluk beluk kata dengan berbagai proses pembentukannya. Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang bertugas menangani masalah penggabungan kata menjadi satuan yang lebih besar, seperti frase, klausa, dan kalimat. Semantik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari makna satuan kebahasaan. Satuan kebahasaan dari morfem, leksem, kata, frase, kalimat, dan wacana memiliki makna. Bunyi dan suku kata tidak memiliki makna walaupun ada yang berfungsi sebagai pembeda makna. Analisis Wacana adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari satuan-satuan kebahasaan yang memiliki amanat yang lengkap. Lazimnya satuan yang disebut wacana memiliki tataran di atas kalimat. Wacana adalah satuan linguistik yang paling besar, sedangkan satuan linguistik yang paling kecil adalah bunyi.
       Kesemua cabang ilmu bahasa di atas membahas elemen-elemen bahasa secara internal, tanpa melihat kemungkinan adanya faktor-faktor eksternal (luar bahasa) yang memungkinkan untuk memunculkan berbagai variasi kebahasaan. Dalam linguistik yang bersifat formal ini semua variasi bahasa muncul murni akibat faktor linguistik, bukan karena faktor luar bahasa. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh-contoh berikut ini. 
(1)   Membeli, memukul, menentang, menendang, mencampur, menyumbat, mengambil, menghasut, dsb. > Afiks Mә{N}- dapat bervariasi menjadi mәm, mәn, mәny, mәŋ, dsb. karena pengaruh jenis bunyi yang mengikutinya, yakni bilabial, apikoalveolar, lamino palatal, dorsovelar, dsb.      
(2)   Bibi, bibir, bubu, bubur, lele, leleh, toko, tokoh, dsb. > Vokal [i], [u], [e], dan [o] dapat berubah menjadi [I], [U], [o], [E], dan [O] karena hadirnya konsonan di akhir kata sehingga mengubah suku terbuka menjadi suku terutup.
(3)   Amba, ambane, kanca, kancane, teka, tekane, dsb > Bunyi /O/ berubah menjade /a/ dalam bahasa Jawa karena hadirnya morfem {-ne} yang dilekatkan di akhir bentuk dasar.
(4)   Cats, cads, roots, rooms, dan  bridges, dsb. > Morfem jamak bahasa Inggris {S} dapat berubah bentuk menjadi  {s},{z}, dan {eZ} karena bunyi akhir bentuk dasar yang dilekatinya. Bila melekat pada bentuk dasar yang berakhir bunyi tidak bersuara akan menjadi {s}, bila melekat pada bentuk dasar yang berakhir bunyi bersuara akan menjadi {z}, sedangkan bila melekat pada bentuk dasar yang berakhir bunyi desis (sibilant) akan menjadi {eZ}
(5)   Jahit, jahat, pahat, tahun, dsb. >  bunyi /h/ yang berdistribusi di antara vokal akan berealisasi menjadi /h/ atau  /φ/. Bila vokal yang mengapitnya sama, bunyi ini cenderung akan muncul sebagai /h/, sedangkan bila tidak sama cenderung akan berealisasi sebagai /φ/. 
Lima fenomena di atas adalah sedikit dari sekian banyak contoh yang mampu menerangkan bahwa keberadaan variasi di dalam bahasa adalah semata-mata karena pengaruh faktor internal bahasa. Linguistik adalah cabang ilmu bahasa yang semata-mata mempelajari sistem bahasa yang bersifat internal, dan memandang bahwa keberadaan variasi bahasa juga karena faktor-faktor kebahasaan. Sehubungan dengan ini dikemukakan oleh Chomsky (1965, 3-4) bahwa:
“Teori linguistik terutama berkenaan dengan penutur dan lawan tutur yang ideal, di dalam masyarakat bahasa yang benar-benar homogen, yang secara sempurna menguasai bahasanya, dan tidak terpengaruh oleh kondisi gramatikal yang tidak relevan, seperti terbatasnya ingatan, kurang perhatian, dan berbagai kesalahan di dalam menerapkan pengetahuan kebahasaannya pada tindak kebahasaan yang aktual. … Di dalam mempelajari performansi linguistik yang sebenarnya, seseorang memang harus mempertimbangkan interaksi berbagai macam faktor, tetapi kompetensi yang mendasarinya hanya satu. Dalam hal ini studi bahasa tidak ubahnya dengan studi empiris tentang berbagai fenomena yang kompleks”.      
Kutipan di atas menyarankan bahwa kompetensi yang dimiliki oleh penutur lebih penting dibandingkan dengan performansi linguistiknya. Hal ini membawa konsekuensi bahwa setiap performansi linguistik dianggap sebagai seuatu yang kurang penting, dan kehadirannya selalu disebabkan oleh kondisi-kondisi gramatikal yang tidak relevan. Hal inilah yang menjadi keberatan para ahli sosiolinguistik, seperti yang akan diuraikan dalam 1.2 di bawah ini.
1.2  Sosiolinguistik
Sosiolinguistik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor kemasyarakatan. Faktor  kemasyarakatan adalah faktor yang yang bersifat luar bahasa (ekstra lingual).  Sering juga disebut dengan faktor eksternal. Bagi ahli-ahli sosiolinguistik (sosiolinguis), bahasa selalu bervariasi, dan variasi bahasa ini disebabkan oleh faktor-faktor kemasyarakatan, seperti siapa penuturnya, orang-orang yang terlibat di dalam pertuturan, di mana pertuturan berlangsung, untuk apa pertuturan itu diutarakan, dsb. Masyarakat bahasa di dalam kaca mata sosiolinguistik tidak pernah homogeny, tetapi selalu heterogen. Artinya orang-orang yang menggunakan bahasa selalu beragam-ragam, baik dilihat dari usia, status sosial, status ekonomi, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, dsb. Demikian juga identitas orang yang diajak berbicara. Waktu diutarakannya tuturan juga bermacam-macam, dapat malam hari, siang hari, tengah malam, dsb. Tempat berlangsungnya pertuturan juga mungkin di tempat pernikahan, di sekolah, di pengadilan, di tempat ronda, dsb. Suasana pertuturan juga mungkin beragam, bisa sangat resmi, setengah resmi, sangat tidak resmi, dsb. Karena faktor kemasyarakatan yang tidak pernah homogen inilah, kemudian muncul variasi bahasa yang sangat banyak jumlahnya, masing-masing dengan karakteristiknya sendiri. Variasi bahasa inilah yang menjadi pusat perhatian dari kajian sosiolinguistik. Dalam sudut pandang sosiolinguistik masyarakat bahasa yang homogen tidak pernah ada dalam kenyataan, tetapi hanyalah angan-angan yang direka untuk memudahkan para teoretisi bahasa untuk menguraikan aspek-aspek bahasa yang bersifat internal.     
Variasi bahasa memang ada yang keberadaannya disebabkan oleh faktor-faktor yang internal. Akan tetapi fakta ini hendaknya tidak boleh mengecilkan peranan faktor-faktor ekstralingual di dalam mempengaruhi wujud bahasa. Jangan sampai semua variasi bahasa yang ada dikatakan sebagai akibat dari adanya  kondisi gramatikal yang kurang relevan. Di dalam pemakaian bahasa jelas sekali dapat dibuktikan akan adanya variasi bahasa yang keberadaannya dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti siapa yang berbicara, dengan siapa orang itu berbicara, kapan dia berbicara, di mana ia berbicara, dan untuk tujuan apa dia berbicara. Fakta-fakta inilah yang melatarbelakangi timbulnya studi bahasa yang berusaha melihat keterkaitan bahasa dengan faktor-faktor kemasyarakatan yang sekarang ini secara luas dikenal dengan sosiolinguistik. Sebagai sekadar contoh adanya relasi bahasa dan masyarakat dapat dilihat paparan berikut ini:
(1)   Di dalam pemakaian bahasa, tidak pernah ditemui dua individu yang memiliki bahasa atau gaya berbahasa yang persis sama. Setiap individu tentu saja tidak memiliki organ bicara yang benar-benar sama sehingga dimungkinkan masing-masing menghasilkan bunyi-bunyi bahasa dengan kualitas yang berbeda. Masing-masing individu dimungkinkan pula memiliki kebiasaan menggunakan kosa kata tertentu yang berbeda dengan individu yang lain sehingga bahasa yang ditampilkan juga berbeda. Ada yang senang mengumpat dengan kata celaka. Ada yang senang menggunakan kata ngarang dalam kasus melihat orang yang berbohong . Ada yang gemar menggunakan kata sesungguhnya. Ada yang senang menggunakan kata ya di akhir kalimat. Ada yang senang menggunakan tegun  e..e.. sebagai sarana berpikir sebelum melanjutan ujarannya, dsb. Variasi bahasa yang bersifat individual ini disebut idiolek.   
(2)   Orang-orang yang bertempat tinggal di daerah yang berbeda-beda memungkinkan menggunakan variasi bahasa yang berbeda dari sistem bahasa yang sama. Misalnya orang Jawa yang berasal dari Jawa Timur menggunakan variasi bahasa yang berbeda dengan orang Jawa yang berasal dari Jawa Tengah (Solo dan Yogya), orang Jawa yang berasal dari dareah Banyumas.
Orang Jawa Timur mengucapkan [tIkUs] ‘tikus’, orang Jawa di Solo dan Yogya mengucapkan [tikUs]. Orang Jawa dari Banyumas mengucapkan [sega] ‘nasi’, [tEmpE] ‘tempe’, dan [tәka?] ‘datang’, sedangkan orang Jawa dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mengucapkannya dengan [sәgO], [tempe], dan [tәkO]. Orang Bali yang berasal dari daerah selatan menggunakan kata [tәpu?] ‘lihat’, sedangkan yang di Bali Utara menggunkan [nOt]. Variasi yang bersifat kedaerahan (regional) ini disebut dengan dialek, dan ilmu yang mempelajari dialek disebut dialektologi.       
3. Variasi bahasa dapat pula muncul karena situasi pertuturan. Pertuturan yang bersifat resmi atau formal  menggunakan variasi yang berbeda dengan pertuturan yang tidak resmi. Kata-kata dalam bahasa Indonesia bikin, dulu, tak, kan, dsb. biasanya digunakan dalam situasi yang tidak formal. Di dalam tuturan yang formal digunakan kata membuat, dahulu, tidak, akan, dsb. Frase ini anak, itu buku bersifat informal, sedangkan bentuk formalnya adalah  anak ini dan buku itu. Dalam bahasa Inggris ada variasi  I’m, you’d, I’ll, dsb. yang digunakan di dalam pemakaian yang informal. Dalam situasi yang formal digunakan bentuk yang lebih lengkap I am, you would atau you had, I will, dsb. Variasi bahasa yang dibedakan berdasarkan situasi pertuturannya disebut dengan ragam (style).
4.  Orang yang memiliki usia yang berbeda memungkinkan pula memiliki bahasa yang berbeda. Anak-anak memiliki bahasa yang berbeda dengan remaja, dengan orang dewasa, dan orang tua. Kosa kata seperti bubuk ‘tidur’, maam ‘makan’, pipis ‘buang air kecil’, eek atau pup ‘buang air besar’ adalah kosa kata untuk anak-anak. Anak-anak remaja juga memiliki kosa kata yang berbeda dengan kelompok usia lainnya. Misalnya kata meneketehe ‘manakutahu’, konsen ‘konsentrasi’, BTW ‘by the way, omong-omong’, OTW ‘on the way, di jalan’, BT ‘bad tempered, lagi marah’ adalah bentuk-bentuk yang digunakan oleh para remaja di dalam situasi pertuturan yang akrab. Orang dewasa mungkin juga menggunakan tuturan ini, tetapi dalam jumlah yang sangat terbatas. Orang-orang  tua mungkin sudah tidak menggunakan variasi bahasa ini karena merasa sudah tidak pantas walaupun semasa remaja mereka juga menggunakan.
5. Orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi memiliki bahasa yang berbeda bila dibandingkan dengan kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah. Kelompok sosial ekonomi tinggi biasa menggunakan kosa kata mama ‘ibu, papa ‘ayah’, tante ‘bibi’, om ‘paman’, dsb.  Sementara itu, masyarakat kelas bawah menggunakan ibu, bapak, bibi, paman. Bila berhubungan dengan penutur bahasa Jawa, akan digunakan kata bapak, ibu, si mbok ‘ibu’, Bulik ‘bibi’, Pak Lik   ‘paman’ atau Pak Dhe, dsb. Variasi bahasa yang didasarkan pada kelas sosial disebut sosiolek.
Variasi bahasa yang terdapat di dalam suatu bahasa sangat banyak jumlahnya dan sangat rumit persoalannya. Satu sama lain sering kali sulit dibedakan, dan ada kemungkinan pula antara variasi yang satu dengan yang lain berkombinasi di dalam pemakaiannya. Variasi-variasi bahasa yang baru sempat sebagian kecil  diuraikan di atas jelas bukan disebabkan oleh kondisi gramatikal yang kurang relevan, tetapi benar-benar disadari oleh pemakaiannya yang dilatarbelakangi oleh faktor-faktor eksternal yang telah disebutkan di atas.




    

Tidak ada komentar: