Melihat
pulau yang jauh dari mata kita adalah pulau Papua. Sesungguhnya pulau itu,
pulau yang begitu indah akan pemandangan, penduduknya dengan ciri khas
kebudayaan yang unik di kota
ini. Dengan memiliki sejumlah pegunungan yang menjulang tinggi dan membentang sampai
ke pulau-pulau kecil di Pasifik Selatan,
danau, laut, yang begitu mempesona. Terlihat nun jauh di
sana, terdengar burung-burung surga
menyanyi dan menari mengelilingi alam,
sembari
menerangi bumi Papua yang sudah berabad-abad dihuni oleh masayarakat Papua-ras
Melanesia, berkulit hitam dan berambut keriting.
Pulau
ini disebut dengan pulau New Guinea (Papua) oleh para ekpedisi orang Eropa ketika itu. Kemudian dikenal
orang dengan sebutan negeri Burung Cenderawasih, bunga anggrek dan lain-lain.
Telah menjadi kesepakatan bagi para sejarawan dan ahli geografi, bahwa Papua
dipandang sebagai suatu kelangsungan dari Benua Australia yang terletak di zona
tropika atas dasar topografi alam, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Negeri yang
sangat kaya akan kekayaan alam ini, dibagian utara mengalir satu-satunya sungai
yaitu Sungai Mamberamo yang bermuara di Samudera Pasisifik. Sementara di bagian
selatan banyak terdapat sungai-sungai besar yang bermuara di laut Arafuru, di
antaranya Sungai Lorenz, Sungai Ps Utumbue, Sungai Baliem, Sungai Mappi, dan
Sungai Digul. Negeri ini sangat terkenal dengan kekayaan alamnya, seperti dari
emas, emas cair, nikel, tembaga, uranium, minyak tanah, hingga kulit pohon
masoe dan sejenisnya.
Papua
merupakan dapurnya Indonesia bahkan jantungnya kaum kapitalis dunia, tak terkecuali
negara super pawer Amerika serikat. Sejak mengadakan kontrak karya PT. Freeport
Mc. Moran ini dari sejak 1950an hingga sekarang. Dilihat dari kacamata orang
Papua sendiri PT. Freeport hadir sebagai lusiver dan menyesatkan bagi orang
pribumi Papua. Dengan hadirnya PT Freeport, kian terjadi persolan-persoalan
yang selama ini, negara tidak mampu mengatasi persoalan yang terus terjadi dari
tahun ke tahun, waktu demi waktu, hari demi hari, minggu ke minggu di tanah
Papua. Itu justeru negara berdiam diri dan tidur ngorok mengurus
kantong-kantong bola pribadi.
Papua
dari sejak tahun 1960an dicaplok ke dalam RIS dikala itu, dilakukan secara
kekerasan melalui TNI/POLRI, KOPASUS, dan BIN sampai pengorbanan penyiksaan,
pembunuhan, diskriminasi, marjinalisasi, perampasan tanah terjadi hingga saat
ini tak kunjung selesai. Lalu pertanyaannya, Kapan bangsa Papua dihargai sebagai manusia di
atas negerinya sendiri di mata Indonesia? Ataukah orang Papua terus dijadikan
seperti binatang? ‘’ Seakan Kitorang Setengah Binatang’’ (Filep Karma). Bangsa
Papua dari tahun ke tahun, hidup di atas tekanan militer Indonesia, orang Papua
hidup miskin karena dijajah melalui segala bidang seperti pendidikan,
kesehatan, berpemerintahan, ekonomi, tanah mereka dirampas, dan perempuan
diperkosa. Akibatnya orang asli Papua semakin hari termajinalkan di atas
negerinya sendiri. Kematian sili berganti datang dari berbagai uruh arah karena
alasan penyakit, pembunuhan datang karena teroris, dan lain-lain. Di mata para
kolonial dipandang sebela mata dan tak ada gunanya bagi mereka. Para kolonial
hanya berkeinginan memusnakan manusia dan ingin menguasai-merampas tanah Papua.
Hanya
itulah dibenak para kolonial yang hadir di negeri cenderawasih ini sebagai
bangsa yang semata-mata makhluk berhati baik. Sekalipun otonomi khusus sudah
diberlakukan oleh pemerintah pusat kepada provinsi Papua. Namun sampai saat ini
masih ada elit yang berperan dalam kepentingan pribadi akhirnya penderitaan
rakyat Papua terus berlanjut dimiskinkan oleh elit Jakarta dan elit Papua
sendiri. Kalau sudah ada kekhususan diberikan oleh Jakarta, Kenapa di Papua
selalu didominasi oleh orang non Papua? Apakah otonomi khusus diberikan untuk orang non Papua
yang berkedudukan di wilayah ini?
Sampai saat ini, negara sudah tahu inti dari pokok persoalan di Papua, namun
negara berpura-pura tidak tahu dan menutup telinga, menutup mata seperti orang
buta menuntun orang buta dan pada pada
akhirnya kedua-duanya masuk jurang yang sama besarnya.
Papua tidak terlepas dari pelanggaran
HAM dari sejak Papua dicaplok ke dalam RIS melalui PEPERA 1969 dimana,
pemerintah Indonesia melanggar peraturan mekanisme PBB yang disebut dengan satu
orang satu suara (one man one vout) guna
untuk menentukan nasip sendiri (Referendum)
yang dilaksanakan di Papua dengan cara PEPERA atau musyawara ala kolonial Jawa
yang sudah dikarantinakan sebanyak 10.25 orang, mereka ini diteror,
diintimidasi, oleh TNI, dan KOPASUS,
dengan bermaksud orang Papua harus memilih bergabung dengan Indonesia.
Hal ini dipimpin dengan suatu badan yaitu, Operasi
Khusus (OPSUS) adalah sebuah Operasi Inteligen di lingkungan KOSTRAD (Komando
Strategi Angkatan Darat) yang didirikan oleh Brigadir Jendral Alli Murtopo pada
Tahun 1963. Dia adalah seorang Inteligen dan juga anggota dari Kroni-kroni
Soeharto dan Sujono Humardani. Organisasi ini didirikan untuk perluasan merebut
Malaysia Timur (Serawak) dari tangan Inggris tetapi gagal karena Inggris cepat
memproklamasikan Malaysia dan mendaftarkannya di PBB. Maka Organisasi ini ikut
mengambil peranan dalam
proses persiapan Jajak Pendapat di Papua Tahun 1969 yang dikenal dengan sebutan
PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat). Masalah Papua berujung dari masa lalu yang
sangat misteri dalam diri orang Papua yang ingin akan kedamaian.
Namun
harapan itu selalu berbenturan dengan kesengsaraan yang tak pernah
habis-habisanya. Dalam sejarah bangsa kulit hitam Afrika, bangsa ini di jajah
oleh kolonial bangsa Eropa dengan budaya ala bangsa kulit putih sehingga bangsa
ini hampir saja kehilangan identitas mereka sejak itu. Namun sosok Nelson
Mandela memperjuangkan nasipnya dari kolonial bangsa kulit putih yang penuh
dengan rasisme ia ditahan selama 25 tahun penjara dalam pemerintahan kolonial
Eropa kulit putih. Kemudian ia
dibebasakan dan membebaskan bangsanya dan menghapuskan perbudakan aparteid di
Afrika Selatan. Semua bangsa kulit hitam di dunia menjadi inspirasi bagi seorang
Mandela, terlebih khusus bagi bangsa kulit hitam di tanah Papua, untuk berjuang dan merdeka sendiri seperti
bangsa-bangsa di dunia, yang memeperoleh kemerdekaan dari cengkermana
kolonialisme, imperialism, dan neokolonialisme yang tidak menguntungkan rakyat
pribumi.
Kita melihat dari segi politik hukum dan
hak asasi manusia di negara ini
dari dulu sampai sekarang,
sistem politik negara ini masih tidak jelas, hukum tidak pernah ditegakan
secara adil, pelanggaran HAM terus meningkat dimana-mana. Mau seperti apakah
negara ini? Egoisme kedareahan selalu tampil jadi nomor satu dan menjajah
bangsanya sendiri tanpa memikirkan satu dengan yang lain. Pantaskah kita
mengatakan bahwa kami cinta NKRI? Atau 100% mencintai merah putih? Pancasila
sebagai dasar negara yang mempersatukan bangsa Indonesia dengan motto’’Bineka
Tunggal Ika’’ tapi kenapa Pancasila diinjak oleh bangsa ini sendiri? Hal ini
menandakan bahwa
masih ada anak-anak anjing rezim suharto yang berkoar-koar menghimpit rakyatnya
sendiri.
Berpikir untuk mengurus Papua di mata
Indonesia ibarat berjalan kaki dari Jakarta ke Papua. Coba anda bayangkan saja,
masayarakat Papua atau Mahasiswa baik S1 maupun S2 dan S3 dari Papua ke Jawa
dengan menggunakan pesawat dalam perjalan membutuhkan kurang lebih 9 jam.
Betapa capeknya duduk di dalam pesawat salama 9 jam dalam perjalanan. Itu dengan pesawat.
Belum lagi dengan Kapal Laut. Dengan Kapal Laut, berminggu-minggu di atas air.
Misalnya seorang mahasiswa berlibur ke Papua menggunakan kapal dengan liburan
semester hanya satu bulan. Dua minggu dalam perjalan sampai tiba di Papua,
aktivitas kuliah kembali dimulai. Artinya, ia menghabiskan waktu liburannya
berlayar di atas laut. Karena ingin melihat sanak saudaranya di Papua. Kalau
begitu, Bagaimana dengan berjalan kaki dari Jakarta ke Papua?
Misalnya di era presiden SBY, sebelum
berkunjung dalam kenegaraannya di sencjen
China pada jumat malam beberapa tahun yang lalu, pernah menegaskan dirilis
dalam siaran Channel metro TV. Berikut, kutipnnya: ‘’ Indonesia sungguh serius, Indonesia sungguh menghormati, Indonesia
akan melaksanakan semua langkah-langkah bagi berlakunya otonomi khusus. Jangan
ada keragu-raguan bahwa kita tidak menjalankan otonomi khusus, karena itu
adalah solusi. Kita tentu tidak bisa menerima adanya pemisahan diri. Kita kitak
bisa menerima lepasnya Papua dari keluarlga besar bangsa Indonesia, jawabannya
adalah Special Otonomy (Otonomi khusus). Kemudian muncul pertanyaan dari
setipa pernyaatan di atas anatara lain:
1. Apakah
dengan berlakunya otonomi khusu ini, Indonesia
sungguh serius menjalankan otonomi khusus di Papua?
2. Apakah
Indonesia sunggu menghormati Papua?
3. Kenapa
Indonesia ragu-ragu mengambil
keputusan untuk melepaskan Papua dari Indonesia? Kalau ragu-ragu karena tentang integrasi, bagaimana caranya
menyelesaikan persoalan Papua diintegrasikan ke dalam RI?
4. Kalau
memang otonomi khusus adalah solusi,
kenapa ada pelanggaran HAM terjadi di Papua dan negara membiarkan begitu saja?
Katatnya; Indonesia
sungguh serius, dan Indonesia sunggu menghormati?
5. Sejauh
manakah Indonesia menghormati orang Papua?
6.
Kenapa Indonesia tidak menerima lepasnya Papua
memisahkan dari keluarga besar bangsa Indonesia?
7. Kalau
Papua bagian dari kelurga besar Indonesia,
seharunya apa yang Indonesia harus memperlakukan
terhadap orang asli Papua?
8. Kalau
special Otonomy adalah salah satu
jawaban, kenapa orang Papua mengatakan Otonomi khusus sudah gagal?
9. Kenapa
masyarakat Papua minta Indonesia untuk dialog
dan menuntut referendum di tanah
Papua?
10. Kenapa
mata, telinga Indonesia jadi kabur dan tuli?
11.
Kenapa
Indonesia mengatakan Papua itu sangat
Jauh?
Kemerdekaan ialah hak segala bangsa maka
penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. UUD 1945, alinea pertama. Seekor
semut yag badannya kurus kecil itu, pasti dia mengerti tentang hal ini. Tetapi
ikan hiu tidak akan mengerti. Karena ia tahunya adalah yang terpenting ada duit
dan hari ini ada makanan. Itu saja yang
dipikiran ikan hiu. Sedangkan seorang yang bodoh, ia
tahu kapan musim penghujan dan kapan musim panas. Sebelum musim penghujan, ia
mengumpulkan makanan disaat teriknya
panas matahari. Setelah tiba musim penghujan, ia berada di rumah dan mengurus
keluarganya. Melihat bola politik Papua yang terus bermain, Indonesia sudah semakin hilang
kepercayaannya di mata Internasional.
Namun, masih saja membohongi dirinya sendiri.
Sehingga Indonesia semakin hari
bongkar
pasang kuda-kuda untuk mempertahankan Papua di dalam wilayah NKRI.
Indonesia selalu menutup ruang gerak perjuangan Papua dengan segala macam
cara seperti suap menyuap, membohong di antara elit sendiri, melarang wartawan
asing untuk meliput berita di Papua, mencuci otak melalu pejabat pemerintah,
dari pemerintah sendiri mencuci otak masyarakat biasa dengan bermaksud
menghilangkan ideologi Papua Merdeka. Menyiapkan milisi-milisi Papua untuk membunuh orang
Papua sendiri, membuat program seperti OTSUS, UP4B, RESPEK, RASKIN, UANG
MISKIN, OTSUS plus dsb. Namun kenyataannya,
semua
gula-gula manis itu dibuat
bukan untuk orang Papua melainkan non Papua yang duduk manis dalam kursi
pemerintahan Papua, elit-elit Papua, dan militer yang ditempatkan di Papua.
Lalu apa yang didapat oleh masyarakat dari kado-kado Jakarta itu? Tanpa ada
pengawasan atau pengontrolan yang efesien. Akibatnya korupsi ditingkat provinsi sampai
ke dareh terus meresahkan masayarakat biasa. Ahkhirnya masyarakat menjadi
korban. Sebenarnya, maksud
Jakarta untuk Papua itu apa? Sedangkan
yang dituntut oleh masyarakat Papua kepada Jakarta juga sejatinya apa? Hal-hal
mendasar ini perlu kita merenungkan agar tidak terjadi kontak batin yang
menyinggung perasaan dan salah menafsirkan orang. Kalau
Jakarta mau menguasai tanah Papua, musanakan saja orang Papua. Mungkin itu yang
terbaik bagi kolonial Indonesia.
Di dunia ini, minyak goreng dan air tidak pernah bersatu dan berdiri dengan satu
pondasi. Demikian pula orang Papua tidak aka pernah ada berkeinginan untuk bersatu dengan NKRI.
Buktinya, dimana orang
Papua berada, mereka selalu bercerita tentang Papua Merdeka dari rumah ke
rumah, sekolah-sekolah, kampus, bahkan dimana pun mereka berada. Orang Papua
dimana-mana memakai baju berlogo Bintang Kejora. Sehingga pertanyaannya, NKRI
itu produknya siapa yang membohongi bangsanya sendiri.
Papua semenjak dimasukan ke RIS/NKRI
(sekarang), merupakan arah dan atau tujuan yang tidak jelas. Oleh karena itu,
banyak lapisan masayarakat yang bertanya-tanya kenapa kami bergabung bersama
bangsa yang kami tidak pernah kenal. Sampai-sampai kami jadi begini. Selama ini
Indonesia, Jakarta berpikir tentang Banjir Jakarta, KPK, KORUPSI, tetapi tidak
ada titik temua yang ditemukan pada akhirnya mereka buntuh dan bentrok
meyalahkan si A dan si B. Papua adalah Papua. Indonesia adalah Indonesia.
Melanesia adalah Melanesia. Melayu adalah Melayu. Maka dari itu, benahilah diri singkirkan
kotoran-kotoran yang tebal dalam hati itu, supaya anda dan saya kita bias mengerti
akan jati diri kita yang sebenarnya.
ISRAEL VS PALESTINA
Kenapa ada konflik di Timur Tengah
antara Israel dan Palestina? Apakah mereka perang karena ideologi Agama Zionisme-Yahudiisme dan Islamisme? Kalau ada
perang di negara Timur Tengah, Indonesia cenderung berbicara tentanag agama.
Mengapa demikian? Karena Indonesia merasa bahwa Indonesia adalah negara yang mayoritas Muslim terbesar
di kawasan Asia, bahkan kalau tidak salah,
terbesar
kedua di dunia. Dimana sejumlah media di Indonesia menyoroti dan mengutuk bagi
mereka (Isreal) yang menguasai dunia saat ini. Jelas-jelas saat Isreal dengan
Palestina kontak senjata, Indonesia mengirim tenaga medis, wartawan,
penggalangan dana, obat-obatan, bahkan melakukan
aksi disejumlah kota-kota di Indonesia. Tanpa Indonesia melihat dari dimensi
lainnya. Padahal, di Palestina bukan hanya Islam
saja. Ada juga umat Nasraniya
yang selama ini kita salah berpikir
bahwa semuanya negara di Timur Tengah mayoritas adalah Muslim. Fariz N. Mehdawi, duta besar
Palestina untuk Indonesia disaat diwawancarai di TVone, ia pernah mengatakan
bahawa di Palestina bukan kota bermayoritas Muslim. Tapi juga ada umat
Kristiani di sana seperti di Indonesia.
Berikut kutipannya: ‘’ Di
Palestina, Orang tidak bisa menebak agama seseorang dari namanya Abdullah belum
tentu Muslim. Isa dan Maryam belum tentu Kristen. Orang Palestina juga tidak
bisa dibedakan agamanya berdasarkan model pakaian yang dikenakan. Mungkin saja
di sini kesannya menjadi seperti itu karena perjuangan Palestina ini menarik
digunakan untuk kepentingan pencitraan kelompok-kelompok tertentu. Palestina,
juga mengambil dasar negara sekuler yang menghormati kemanusiaan. Kini, kami
punya dua wali kota Kristen, Vera Baboun di Betlehem, dan Janet Mikhail di
Ramallah.Di
Palestina saat Natal,orang yang datang kesana bakal mengira penduduknya mayoritas
Kristen, sebab semua merayakan dengan meriah. Saat Idul Fitri, orang akan
mengira warga Palestina semua Muslim. Yang menarik di palestina,kekristenan
bukanlah agama impor. Agama lain berasal dari luar Palestina. Namun,
kekristenan lahir di Palestina. Yesus lahir di Betlehem, Palestina. Orang Kristen
Palestina punya nenek moyang, yang bisa jadi adalah orang-orang yang pernah
bertatap muka dengan Yesus. Jadi, kekristenan adalah agama asli di Palestina.
Berangkat dari hal itu, pemilihan
presiden Indonesia usai, setelah beberapa bulan lewat, tibalah Konfrensi Asia
Afrika yang diadakan di Bandung dan Jakarta Rabu, 22/04/2015. Konferensi
tingkat tinggi yang dihadiri 107 pejabat tinggi negara-negara Asia Afrika itu,
Joko Widodo saat pembukaan KAA di Jakarta, Convention Center (22/04/) ia mempertegas
PBB untuk Perjuangan Palestina. Di KAA tersebut, ia berbicara tentang persoalan
Palestian ketimbang persoalan di negaranya sendiri. Apakah negara Indonesia
hidup dengan damai? Joko Widodo presiden RI mengatakan,
‘’
Ketidak adilan saat ini,
terasa menyesahkan karena masih ada negara yang terjajah. Hal itu menjadi utang
bangsa-bangsa Asia Afrika selama enam dekade. Kita dan dunia masih berutang
kepada rakyat Palestina’’. Dunia seperti tidak bisa membantu rakyat Palestina lepas dari
penderitaan, hidup dalam ketakutan, ketidakadilan, dan kependudukan selama
bertahun tahun. Ia mengajak negara-negara Asia Afrika tak berpangku tangan dan
melanjutakan perjuangan mendukung kemerdekaan rakyat Palestina.
Lalu kenapa Indonesia tidak
pernah berbicara tentang persoalan orang hilang dengan unsur kepaksaan di
Papua? Kemudian, kenapa Indonesia menutupi realita
yang terjadi di negerinya sendiri? Sebenarnya negara ini maunya yang mana
supaya harus puas. Terkadang, kita sering
lupa mencuci mata sehingga mata kita selalu dipenuhi dengan kotoran debu, sehingga kita melihat orang lain dengan
cela-cela mata kita sendiri. Hati kita masih tertutup. Yang ada hanyalah
kesombongan diri. Jadi, Israel vs Palestina bukanlah
karena konflik keagamaan, melainkan kekayaan alam yang dimana Israel dan
Amerika bekerja sama menguras hasil bumi negeri Palestina yaitu perusahan
minyak yang dimilik oleh kaum kapitalis seperti Amerika dan Israel. Palestina
berjuang untuk menuntut
kemerdekaan dari Zionis Israel. Karena selama ini, hak-hak mereka diinjak,
dirampas sehingga warga Palestina berani mengangkat senjata melawan penjajah
zioni Israel. Indonesia selalu buta melihat konflik Timur Tengah yang semakin
hari tak pernah mengerti akar
persoalan yang sebenarnya terjadi di sana. Atau sudah
tahu, tetapi seolah-olah itu menjadi tidak tahu, hanya sebagai liveservice. Demikian pula persoalan di
Papua, orang Papua tidak pernah minta nasi, ikan, ayam, tahu, supermi, bakso,
tetapi meminta hak mereka yang sudah dihancurkan oleh Indonesia dengan cara
yang tidak benar seperti PEPERA 1969 yang penuh rekayasa. Papua menuntut
Indonesia supaya Indonesia menghargai, dan menghormati Papua sebagai manusia
seperti manusia lain di dunia dan khususnya di Indonesia seperti masyarakat
lain dari luar Papua. Masa, orang Jawa, Orang Sumatra, Jakarta, Kalimanta,
Flores, Bugis, Makasar, Toraja, Maluku Aceh dihargai. Tetapi kenapa manusia
Papua itu diperlakukan seperti binatang?
INDONESIA
VS PAPUA
Dilihat dari permainan politik,
Indonesia
sedang mencampuri urusan Palestina. Dengan alasan bahwa, Palestina adalah mayoritas
Muslim. Maaf kalau saya katakan seperti itu. Selain itu, Indonesia mencampuri
urusan Palestina karena negeri Palestina dijajah oleh Zionis Israel, demi kepentingan ekonomi. Tanpa Indonesia menyadari,
melihat fakta yang sedang terjadi di negeri yang kaya akan minyak itu. Tentu ini
hal sangat menarik bagi kita yang belum tahu tentang budaya orang Palestina
dengan Israel. Berbedah dengan Papua sebagai saudaranya Indonesia yang setiap hari korban
kejahatan dari militer Indonesia. Dibenak Indonesia hanya masalah sepeleh saja,
tetapi ini masalah yang sangat serius dan perlu diselesaikan secara martabat,
dan adil. Justeru pemerintah selalu mengabaikan, sampai kejahatan itu terus tumbuh
dan tidak pernah terungkap siapa actor dari kejahatan luar biasa itu.
Namun demikian, akar daripada persoalan Papua
dan Palestina ada mirip-miripnya di negeri
itu. Palestina dijajah oleh AS, dan bangsanya sendiri
yaitu Israel demi kepentingan ekonomi.
Begitu pula Papua dijajah oleh Indonesia,
karena kepentingan ekonomi juga. Kedua negara ini
selalu berhadapan dengan militer. Namun, hal yang menarik adalah Palestina
memiliki senjata dan amunisi yang
cukup banyak sehingga melawan kaum penjajah.
Sedangkan Papua tidak memiliki senjata untuk melawan para penjajah di atas
negerinya dengan TNI, POLRI, KOPASSUS yang punya senjata yang cukup besar.
Tetapi orang Papua hanya bermodalkan dengan
otak (pikiran). Karena merupakan
salah satu senjata yang ampuh untuk mampu melawan militer Indonesia dari dulu
sampai saat ini. Dan itu terbukti bahwa,
dimana
orang Papua berbicara tentang Papua Merdeka,
baik di dalam negeri maupun di luar negeri, mereka lebih menguasai dari pada
Indonesia. Misalnay,
disaat diplomasi Indonesa lemah, orang Papua meloloskan diri mendirikan kantor Kemerdekaan
Papua Barat (West Papuan Campaign Ofice) di Oxford, Inggris oleh pemipin
Kemerdekaan Papua Barat (West Papuan
Leader) Mr. Benny Wenda. Kelemahan daripada negara Indonesia, memprotes kepada
pemerintah Inggris untuk segera menutup kantor tersebut. Namun, upaya itu tidak
berhasil dilakukan oleh Indonesia. Indonesia kalah dalam berdiplomasi dan tidak
mampu dalam berbicara secara konseptualnya, dan mereka (Indonesia) tentang
persoalan Papua tidak punya bukti yang jelas untuk bisa memperkuat argumen
mereka di tingkat Internasioanl.
Para penjajah Indonesia ingin membuat
Papua hancur seperti kota Sodom dan Gomora yang hancur berkeping-keping.
Buktinya militer Indonesia dimana-mana selalu hadir dan meneror, membunuh,
menangkap, memperkosa, melakukan penyisiran, merampas tanah untuk membangun
pos-pos militer di seluru tanah Papua. Kemudian apa yang dilakukan oleh
Indonesia di Papua? Misalnya, pada
tanggal 8 Desember 2014 militer Indonesia menembak 5 pelajar SMA di Paniai. Ini
adalah utangnya Indonesia dan PBB yang belum dilunasi terhadapa perjuangan
Papua Barat. Lalu kenapa harus Joko Widodo menuntut PBB untuk mendukung
kemerdekaan perjuangan kemerdekaan Palestina? Apakah ada maksud tertentu yang
Indonesia menyembunyikan darinya? Kalau Indonesia merasa punya utang terhadap
Palestina dan mendorong upaya PBB untuk perjuangan Palestina, Kenapa Jokowi sekaligus mendukung perjuangan
Papua Merdeka? Kenapa Indonesia lemah dan tidak mau mengadakan dialog dengan
pihak ketiga? Orang-orang Papua merasa terluka dengan tindakan aparat yang
brutal setiap hari bahkan membubarkan masa aksi damai diseluruh tanah Papua. Para aktivis KNPB
dikejar, ditangkap, ditahan, diteror, para jurnalis pun diancam. Keadilan di
Indonesia selalu berat sebelah. Kapan keadilan ini akan seimbang di Negara
Indonesia? Di depan mata kita ada sejumlah jutaan suara duka, derita, darah,
dan air mata menggoreskan tubuh kita, namun kita selalu melupakan dan melihat mereka
yang begitu nun jau di sana, seolah-olah di dalam diri kita tidak ada luka dan
goresan yang digoreskan. Kamu tidak melihat
aku, tetapi rumput kecil melihat kamu dengan jutaan mata. Namun itu selalu kau
bikin malas tahu dan menutup telinga bahkan pura-pura membutakan mata dengan
cairan supaya orang mengatakan ‘’ oh
orang itu matanya buta, kasian ya’’. Tetapi dilain pihak melihat kau dipenuhi
dengan butiran-butiran debu di tubuhmu, lalat bersarang dan bertelur tetapi
engkau tak bisa membersihkan itu.
Nasehat
bapaku, dia pernah mengatakan; ‘’Anak...
kalau kamu mau menegur temanmu, bawalah
kaca dan lihatlah
wajahmu sendiri dulu yang
sebenarnya. Tujukanlah bahwa inilah saya. Barulah kamu menegurnya. Supaya
dia jangan balik menegur
kamu. Kuatkanlah
amunisimu supaya kamu jangan tewas duluan’’. Indonesia selalu
jatuh bangun untuk menyelamatkan diri dari cengkeraman dunia (Internasional) terkait dengan pelanggaran HAM yang
dilakukan militer Indonesia di Papua dan berbohong, dengan alasan hubungan
diplomasi, disela-sela itu, Indonesia juga membawa uang dengan miliaran rupiah
untuk membayar pihak-pihak tertentu yang bersekongkol dengannya, guna meredam gerakan
Papua Merdeka di berbagai Negara yang mendukung gerakan Papua merdeka itu, terutama
di Negara-negara Melanesia, seperti Fiji, dan Papua New Guinea (PNG).
Itu benar-benar adanya dengan persoalan Papua yang menggema dihampir seleuruh
dunia khususnya di Eropa, Pasisfik, Belanda, Kanada dan Australia.
Di negara-negara
tersebut, setiap hari berkibar Bendera Bintang
Kejora, solah-olah Papua sudah merdeka.
Dimana-mana mereka membawa Bintang Fajar menyanyi disetiap sudut kota-kota di
Eropa. Tampak dari jau sang Fajar Timur terlihat tersenyum berkibar di atas
langit biru negeri Eropa, Australia, Pasifika, Prancis, Jerman, Belanda. Tak
terlepas dari itu, negeri kulit hitam Afrika pun turut mendukung Free West
Papua mengibarkan barang Pusaka milik negeri hitam Melanesia ini. Kemudian
Papua bertanya, Kenapa Indonesia mengatakan Papua separatis? Kenapa Indonesia
melarang orang Papua mengibarkan bendera Bintang Fajar di atas tanahnya sendiri? Bukankah Indonesia
memberikan otonomi khusus seluas-luasnya bagi Papua, terus kenapa Jakarta (
Indonesia) masih terus campur tangan dengan kepentingan orang Papua? Kenapa pejabat
Jakarata, Pejabat Papua selalu diam, sampai orang Papua selalu diperlakukan
secara tidak manusiawi oleh TNI, POLRI, KOPASSUS, dan sejenis militer lainya di
tanah Papua? Indonesia sengaja melakukan pemusnahan
orang pribumi Papua. Indonesia
sengaja membiarkan
apa yang terjadi di tanah Papua dan membiayai
para aktor-aktor yang selalu menghantui kenyamanan hidup orang asli Papua.
Melakukan pemusnahan adalah
bagian dari pemusnahan itu sendiri (Jean Baudriland) dan yang memukul lupa,
yang dilukai ingat (Peribahasa Haiti).
Ya, Indonesia membunuh orang Papua dan
lupa, itu kewajiban bagi mereka, yang penting pelaku dibayar mahal. Setiap perlakuan
itu, selalu ada momen yang orang Papua tidak akan pernah lupa, justeru orang Papua selalu teringat
akan setiap perlakuan
yang dilakukan oleh bangsa kolonial terhadap mereka, melalui
kaki tangan aparat militer Indonesia. Banyak orang Papua dibunuh oleh TNI
POLRI, namun tak pernah mereka nampak dan mengaku siapa pelakunya. TNI, POLRI,
KOPASUS itulah pelakunya, tetapi tidak
pernah mengaku, begitulah watak atau karakter penjajah.
Mereka membunuh orang Papua secara sistematis, setelah itu kembali menudu pelakunya
adalah kelompok separatis OPM dan lain-lain. Sejatinya, OPM adalah sebuah nama Organisasi
Papua Merdeka. Sehingga, dibagian sayap militernya adalah Tentara Nasional
Papua Barat (TNPB), bukan kolonial dengan seenaknya mengatakan kelompok
separatis. Perlakuan biadab yang dilakuakan militer Indonesia adalah asutan
dari setan. Dan itu aneh tapi nyata.
Negara Indonesia lebih memperduli bangsa
lain dari pada mengurus bangsanya sendiri. Setiap tahun dijemput dengan segala
macam bencana. Tetapi sungguh itu selalu lupa. Ceramah, kotbah, pidato di
panggung manis-manisan tapi kembali lupa. Indonesia dan Papua sampai kapan pun
tidak akan pernah bersatu. Di mulut Indonesia selalu mengatakan bahwa Papua
saudara kami, tetapi kata-kata itu selalu bertemu dengan darah dan air mata dikehidupan
masyarakat asli Papua. Indonesia anti Papua sebaliknya Papua anti Indonesia.
Kenapa demikian? Indonesia perlu merefleksikan kembali apa yang Indonesia
memperjuangan kemerdekaanya yang diproklamasihkan pada 17 Agustus 1945 yang
secara atminitrasinya hanya berlaku dari Sabang hingga Amboina. Dalam ikrar sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober
1928, orang Papua tidak pernah dilibatkan dalam perumusan teks sumpah pemuda
tersebut.
Berikut adalah Panitia Kongres Pemuda terdiri dari:
Ketua : Soegondo Djojopoespito
(PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
- Abdul Muthalib Sangadji
- Purnama Wulan
- Abdul Rachman
- Raden Soeharto
- Abu Hanifah
- Raden Soekamso
- Adnan Kapau Gani
- Ramelan
- Amir (Dienaren van Indie)
- Saerun (Keng Po)
- Anta Permana
- Sahardjo
- Anwari
- Sarbini
- Arnold Manonutu
- Sarmidi Mangunsarkoro
- Assaat
- Sartono
- Bahder Djohan
- S.M. Kartosoewirjo
- Dali
- Setiawan
- Darsa
- Sigit (Indonesische Studieclub)
- Dien Pantouw
- Siti Sundari
- Djuanda
- Sjahpuddin Latif
- Dr.Pijper
- Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
- Emma Puradiredja
- Soejono Djoenoed Poeponegoro
- Halim
- R.M. Djoko Marsaid
- Hamami
- Soekamto
- Jo Tumbuhan
- Soekmono
- Joesoepadi
- Soekowati (Volksraad)
- Jos Masdani
- Soemanang
- Kadir
- Soemarto
- Karto Menggolo
- Soenario (PAPI & INPO)
- Kasman Singodimedjo
- Soerjadi
- Koentjoro Poerbopranoto
- Soewadji Prawirohardjo
- Martakusuma
- Soewirjo
- Masmoen Rasid
- Soeworo
- Mohammad Ali Hanafiah
- Suhara
- Mohammad Nazif
- Sujono (Volksraad)
- Mohammad Roem
- Sulaeman
- Mohammad Tabrani
- Suwarni
- Mohammad Tamzil
- Tjahija
- Muhidin (Pasundan)
- Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
- Mukarno
- Wilopo
- Muwardi
- Wage Rudolf Soepratman
- Nona Tumbel
Itulahlah daftar nama Pemuda
serta anggota yang terlibat dalam menyusun teks sumpah pemuda. Dengan demikan,
kenapa harus kita berbohong pada diri sendiri. Mungkin
perlu belajar lagi dan mendewasakan
diri supaya mengerti akan kesalahan
yang sudah pernah kita lakukan. Semoga
saja itu tidak menjadi beban dalam hidup kita. Begitu saja kok repot (Almahrum: Gusdur). Kita harus benar-benar
mengerti akan makna dari pada kemerdekaan yang kita sudah capai dan terbebas
dari segala bentuk penjejahan kolonialisme asing (Belanda) itu. Jika
kita tidak mengerti makna
kemerdekaan, maka kemerdekaan tersebut
hanya sia-sia. Hanyalah tipu belaka. Padahal dulu Indonesia berjuang mengorbankan
tenaga, mandi darah, penuh dengan ketakutan,
dan namanya perang adalah taruan nyawa ’’
hidup dan mati’’. Tetapi toh, setelah mengusir penjajah dari bumi tercintah ini, mala
kembali
menjadi menderita lagi. Ini kan sesuatu hal yang aneh.Seharusnya kan tidak
menderita lagi? Kalau
sudah merdeka berarti, kita bisa hidup dengan bebas dari segala bentuk
diskriminasi, tidak saling membunuh, bahkan kita bisa hidup adil dan sejahtera,
kalau Negara ini jujur dan terbebas dari korupsi. Ada
catatan khusus yang penulis
menyampaikan kepada teman-teman, bahwa di Papua ada spesies orang, Ada orang asli
Papua, ada Jawa, Makasar, Toraja, Padang, Sumtra, Batak, Bali NTT, Kupang dan
banyak ragam suku bangsa dengan latar
belakang bahasa, budaya, agama yang berbeda.
Seharusnya keragaman itu bisa dipelihara dan saling
menghormati antar satu suku dengan suku yang lainnya.
Namun
faktanya, kehidupan orang pendatang di Papua memberikan keotonomian yang sangat
bebas, mereka bebas berekspresi. Akan
tetapi,
orang Papua sendiri, dijadikan sebagai binatang buruan. Sampai saat ini orang
Papua ditekan oleh militer Indonsia. Oleh karena itu, negara harus perlu
melihat secara jelih dan menyelesaikan pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah
Papua secara damai, secara martabat sebagaimana manusia itu sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia.
Perlu duduk bersama menyelesaikan
masalah dengan jujur dan martabat. Bukan datang mata ganti
mata dan gigi ganti gigi atau darah bayar darah. Kalau dengan cara ini, persoalan tak kunjung selesai. Pada initinya
bahwa kenapa sampai sejumlah masalah di Papua tidak bisa diselesaikan, karena
ada saling kecurigaan, ketidakpercayaan, ketidakadilan (pemerataan), dan
ketidakterbukaan antara pemerintah pusat
(Jakarta) dengan Pemerintah Papua ‘’ elit-elit politik yang ada di
Jakarta dan di Papua. Kemudian, timbul perlawanan anatara Indonesia dan masyarakat
Papua yang merasa kehidupannya terancam.
*****
BUAH
AJAKAN
Mari
teman-teman Indonesia
Kami
Papua menunggumu
Jangan
takut... Marilah duduklah
Kita
duduk bersama dan dialog
Jangan
takut ditembak OPM
OPM
bukanlah serigala berbulu domba
tetapi
kami adalah Orang Papua Melanesia
Kami
sangat menghargaimu
Tetapi
kau sendirilah yang takut dan tidak mau berbicara
Ayolah
Indonsia
Kami
Papua menunggumu
Jangan ada
keragu-raguan
karena dialog adalah
solusi terbaik
untuk menyelesaiakan
masalah ini
‘’ Masalahmu adalah masalah kami, Masalah kami,
adalah
masalahmu
juga’’
Mari
kita duduk dan berdialog dengan empat mata
Supaya
negeri ini menjadi negeri yang dami elok
nan indah permai
Jangan
kekerasan dibalas dengan kekerasan
Indonesia,
West Papua Waiting for you....
Yogyakarta,
02 September 2015
BUNGA
DAN TEMBOK
seumpama
bunga
kami
adalah bunga yang tak
kaukehendaki
tumbuh
engkau
lebih suka membangun
rumah
dan merampas tanah
seumpama
bunga
kami
adalah bunga yang tak
kaukehendaki
adanya
engkau
lebih suka membangun
jalan
raya dan pagar besi
seumpama
bunga
kami
adalah bunag yang
dirontokan
di bumi kami sendiri
jika
kami bunga
engkau
adalah tembok
tapi
di tubuh tembok itu
tela
kami sebar biji-biji
suatu
saat kami akan tumbuh bersama
dengan
keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam
keyakinan kami
Di
mana pun-tirani harus tumbang!
Wiji
Thukul, Solo, 87-88
PENYAIR
Jika tak ada
mesin ketik
Aku akan menulis
dengan tangan
Jika tak ada
tinta hitam
Aku akan menulis
dengan arang hitam
Jika tak ada
kertas
Aku akan menulis
pada dinding
Jika aku menulis
dilarang
Aku akan menulis
dengan
tetes darah!
Wijil Thukul,
Sarang Jagat Teater 19 Januari 1988

Tidak ada komentar:
Posting Komentar