Kamis, 03 September 2015

KEADILAN DAN KEKERASAN YANG MEMBISU





Melihat pulau yang jauh dari mata kita adalah pulau Papua. Sesungguhnya pulau itu, pulau yang begitu indah akan pemandangan, penduduknya dengan ciri khas kebudayaan yang unik di kota ini. Dengan memiliki sejumlah pegunungan yang menjulang tinggi dan membentang sampai ke pulau-pulau kecil di Pasifik Selatan, danau, laut, yang begitu mempesona. Terlihat nun jauh di sana, terdengar burung-burung surga menyanyi dan menari mengelilingi alam, sembari menerangi bumi Papua yang sudah berabad-abad dihuni oleh masayarakat Papua-ras Melanesia, berkulit hitam dan berambut keriting.  

Pulau ini disebut dengan pulau New Guinea (Papua) oleh para ekpedisi orang Eropa ketika itu. Kemudian dikenal orang dengan sebutan negeri Burung Cenderawasih, bunga anggrek dan lain-lain. Telah menjadi kesepakatan bagi para sejarawan dan ahli geografi, bahwa Papua dipandang sebagai suatu kelangsungan dari Benua Australia yang terletak di zona tropika atas dasar topografi alam, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Negeri yang sangat kaya akan kekayaan alam ini, dibagian utara mengalir satu-satunya sungai yaitu Sungai Mamberamo yang bermuara di Samudera Pasisifik. Sementara di bagian selatan banyak terdapat sungai-sungai besar yang bermuara di laut Arafuru, di antaranya Sungai Lorenz, Sungai Ps Utumbue, Sungai Baliem, Sungai Mappi, dan Sungai Digul. Negeri ini sangat terkenal dengan kekayaan alamnya, seperti dari emas, emas cair, nikel, tembaga, uranium, minyak tanah, hingga kulit pohon masoe dan sejenisnya.

Papua merupakan dapurnya Indonesia bahkan jantungnya kaum kapitalis dunia, tak terkecuali negara super pawer Amerika serikat. Sejak mengadakan kontrak karya PT. Freeport Mc. Moran ini dari sejak 1950an hingga sekarang. Dilihat dari kacamata orang Papua sendiri PT. Freeport hadir sebagai lusiver dan menyesatkan bagi orang pribumi Papua. Dengan hadirnya PT Freeport, kian terjadi persolan-persoalan yang selama ini, negara tidak mampu mengatasi persoalan yang terus terjadi dari tahun ke tahun, waktu demi waktu, hari demi hari, minggu ke minggu di tanah Papua. Itu justeru negara berdiam diri dan tidur ngorok mengurus kantong-kantong bola pribadi.

Papua dari sejak tahun 1960an dicaplok ke dalam RIS dikala itu, dilakukan secara kekerasan melalui TNI/POLRI, KOPASUS, dan BIN sampai pengorbanan penyiksaan, pembunuhan, diskriminasi, marjinalisasi, perampasan tanah terjadi hingga saat ini tak kunjung selesai. Lalu pertanyaannya, Kapan bangsa Papua dihargai sebagai manusia di atas negerinya sendiri di mata Indonesia? Ataukah orang Papua terus dijadikan seperti binatang? ‘’ Seakan Kitorang Setengah Binatang’’ (Filep Karma). Bangsa Papua dari tahun ke tahun, hidup di atas tekanan militer Indonesia, orang Papua hidup miskin karena dijajah melalui segala bidang seperti pendidikan, kesehatan, berpemerintahan, ekonomi, tanah mereka dirampas, dan perempuan diperkosa. Akibatnya orang asli Papua semakin hari termajinalkan di atas negerinya sendiri. Kematian sili berganti datang dari berbagai uruh arah karena alasan penyakit, pembunuhan datang karena teroris, dan lain-lain. Di mata para kolonial dipandang sebela mata dan tak ada gunanya bagi mereka. Para kolonial hanya berkeinginan memusnakan manusia dan ingin menguasai-merampas tanah Papua.

Hanya itulah dibenak para kolonial yang hadir di negeri cenderawasih ini sebagai bangsa yang semata-mata makhluk berhati baik. Sekalipun otonomi khusus sudah diberlakukan oleh pemerintah pusat kepada provinsi Papua. Namun sampai saat ini masih ada elit yang berperan dalam kepentingan pribadi akhirnya penderitaan rakyat Papua terus berlanjut dimiskinkan oleh elit Jakarta dan elit Papua sendiri. Kalau sudah ada kekhususan diberikan oleh Jakarta, Kenapa di Papua selalu didominasi oleh orang non Papua? Apakah  otonomi khusus diberikan untuk orang non Papua yang berkedudukan di wilayah ini? Sampai saat ini, negara sudah tahu inti dari pokok persoalan di Papua, namun negara berpura-pura tidak tahu dan menutup telinga, menutup mata seperti orang buta menuntun orang buta dan pada pada akhirnya kedua-duanya masuk jurang yang sama besarnya.

Papua tidak terlepas dari pelanggaran HAM dari sejak Papua dicaplok ke dalam RIS melalui PEPERA 1969 dimana, pemerintah Indonesia melanggar peraturan mekanisme PBB yang disebut dengan satu orang satu suara (one man one vout) guna untuk menentukan nasip sendiri (Referendum) yang dilaksanakan di Papua dengan cara PEPERA atau musyawara ala kolonial Jawa yang sudah dikarantinakan sebanyak 10.25 orang, mereka ini diteror, diintimidasi, oleh TNI, dan KOPASUS, dengan bermaksud orang Papua harus memilih bergabung dengan Indonesia. Hal ini dipimpin dengan suatu badan yaitu, Operasi Khusus (OPSUS) adalah sebuah Operasi Inteligen di lingkungan KOSTRAD (Komando Strategi Angkatan Darat) yang didirikan oleh Brigadir Jendral Alli Murtopo pada Tahun 1963. Dia adalah seorang Inteligen dan juga anggota dari Kroni-kroni Soeharto dan Sujono Humardani. Organisasi ini didirikan untuk perluasan merebut Malaysia Timur (Serawak) dari tangan Inggris tetapi gagal karena Inggris cepat memproklamasikan Malaysia dan mendaftarkannya di PBB. Maka Organisasi ini ikut mengambil peranan dalam proses persiapan Jajak Pendapat di Papua Tahun 1969 yang dikenal dengan sebutan PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat). Masalah Papua berujung dari masa lalu yang sangat misteri dalam diri orang Papua yang ingin akan kedamaian.

Namun harapan itu selalu berbenturan dengan kesengsaraan yang tak pernah habis-habisanya. Dalam sejarah bangsa kulit hitam Afrika, bangsa ini di jajah oleh kolonial bangsa Eropa dengan budaya ala bangsa kulit putih sehingga bangsa ini hampir saja kehilangan identitas mereka sejak itu. Namun sosok Nelson Mandela memperjuangkan nasipnya dari kolonial bangsa kulit putih yang penuh dengan rasisme ia ditahan selama 25 tahun penjara dalam pemerintahan kolonial Eropa kulit putih. Kemudian ia dibebasakan dan membebaskan bangsanya dan menghapuskan perbudakan aparteid di Afrika Selatan. Semua bangsa kulit hitam di dunia menjadi inspirasi bagi seorang Mandela, terlebih khusus bagi bangsa kulit hitam di tanah Papua, untuk berjuang dan merdeka sendiri seperti bangsa-bangsa di dunia, yang memeperoleh kemerdekaan dari cengkermana kolonialisme, imperialism, dan neokolonialisme yang tidak menguntungkan rakyat pribumi.

Kita melihat dari segi politik hukum dan hak asasi manusia di negara ini dari dulu sampai sekarang, sistem politik negara ini masih tidak jelas, hukum tidak pernah ditegakan secara adil, pelanggaran HAM terus meningkat dimana-mana. Mau seperti apakah negara ini? Egoisme kedareahan selalu tampil jadi nomor satu dan menjajah bangsanya sendiri tanpa memikirkan satu dengan yang lain. Pantaskah kita mengatakan bahwa kami cinta NKRI? Atau 100% mencintai merah putih? Pancasila sebagai dasar negara yang mempersatukan bangsa Indonesia dengan motto’’Bineka Tunggal Ika’’ tapi kenapa Pancasila diinjak oleh bangsa ini sendiri? Hal ini menandakan bahwa masih ada anak-anak anjing rezim suharto yang berkoar-koar menghimpit rakyatnya sendiri.

Berpikir untuk mengurus Papua di mata Indonesia ibarat berjalan kaki dari Jakarta ke Papua. Coba anda bayangkan saja, masayarakat Papua atau Mahasiswa baik S1 maupun S2 dan S3 dari Papua ke Jawa dengan menggunakan pesawat dalam perjalan membutuhkan kurang lebih 9 jam. Betapa capeknya duduk di dalam pesawat salama 9 jam dalam perjalanan. Itu dengan pesawat. Belum lagi dengan Kapal Laut. Dengan Kapal Laut, berminggu-minggu di atas air. Misalnya seorang mahasiswa berlibur ke Papua menggunakan kapal dengan liburan semester hanya satu bulan. Dua minggu dalam perjalan sampai tiba di Papua, aktivitas kuliah kembali dimulai. Artinya, ia menghabiskan waktu liburannya berlayar di atas laut. Karena ingin melihat sanak saudaranya di Papua. Kalau begitu, Bagaimana dengan berjalan kaki dari Jakarta ke Papua?

Misalnya di era presiden SBY, sebelum berkunjung dalam kenegaraannya di sencjen China pada jumat malam beberapa tahun yang lalu, pernah menegaskan dirilis dalam siaran Channel metro TV. Berikut, kutipnnya: ‘’ Indonesia sungguh serius, Indonesia sungguh menghormati, Indonesia akan melaksanakan semua langkah-langkah bagi berlakunya otonomi khusus. Jangan ada keragu-raguan bahwa kita tidak menjalankan otonomi khusus, karena itu adalah solusi. Kita tentu tidak bisa menerima adanya pemisahan diri. Kita kitak bisa menerima lepasnya Papua dari keluarlga besar bangsa Indonesia, jawabannya adalah Special Otonomy (Otonomi khusus). Kemudian muncul pertanyaan dari setipa pernyaatan di atas anatara lain:
1.  Apakah dengan berlakunya otonomi khusu ini, Indonesia sungguh serius menjalankan otonomi khusus di Papua?
2.      Apakah Indonesia sunggu menghormati Papua?
3.      Kenapa Indonesia ragu-ragu mengambil keputusan untuk melepaskan Papua dari Indonesia? Kalau ragu-ragu karena tentang integrasi, bagaimana caranya menyelesaikan persoalan Papua diintegrasikan ke dalam RI?
4.      Kalau memang otonomi khusus adalah solusi, kenapa ada pelanggaran HAM terjadi di Papua dan negara membiarkan begitu saja? Katatnya; Indonesia sungguh serius, dan Indonesia sunggu menghormati?
5.      Sejauh manakah Indonesia menghormati orang Papua?
6.      Kenapa Indonesia tidak menerima lepasnya Papua memisahkan dari keluarga besar bangsa Indonesia?
7.      Kalau Papua bagian dari kelurga besar Indonesia, seharunya apa yang Indonesia harus memperlakukan terhadap orang asli Papua?
8.      Kalau special Otonomy adalah salah satu jawaban, kenapa orang Papua mengatakan Otonomi khusus sudah gagal?
9.      Kenapa masyarakat Papua minta Indonesia untuk dialog dan menuntut referendum di tanah Papua?
10.  Kenapa mata, telinga Indonesia jadi kabur dan tuli?
11.  Kenapa Indonesia mengatakan Papua itu sangat Jauh?

Kemerdekaan ialah hak segala bangsa maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. UUD 1945, alinea pertama. Seekor semut yag badannya kurus kecil itu, pasti dia mengerti tentang hal ini. Tetapi ikan hiu tidak akan mengerti. Karena ia tahunya adalah yang terpenting ada duit dan hari ini ada makanan. Itu saja yang dipikiran ikan hiu. Sedangkan seorang yang bodoh, ia tahu kapan musim penghujan dan kapan musim panas. Sebelum musim penghujan, ia mengumpulkan makanan disaat teriknya panas matahari. Setelah tiba musim penghujan, ia berada di rumah dan mengurus keluarganya. Melihat bola politik Papua yang terus bermain, Indonesia sudah semakin hilang kepercayaannya di mata Internasional. Namun, masih saja membohongi dirinya sendiri. Sehingga Indonesia semakin hari bongkar pasang kuda-kuda untuk mempertahankan Papua di dalam wilayah NKRI.

Indonesia selalu menutup ruang  gerak perjuangan Papua dengan segala macam cara seperti suap menyuap, membohong di antara elit sendiri, melarang wartawan asing untuk meliput berita di Papua, mencuci otak melalu pejabat pemerintah, dari pemerintah sendiri mencuci otak masyarakat biasa dengan bermaksud menghilangkan ideologi Papua Merdeka. Menyiapkan  milisi-milisi Papua untuk membunuh orang Papua sendiri, membuat program seperti OTSUS, UP4B, RESPEK, RASKIN, UANG MISKIN, OTSUS plus dsb. Namun kenyataannya, semua gula-gula manis itu dibuat bukan untuk orang Papua melainkan non Papua yang duduk manis dalam kursi pemerintahan Papua, elit-elit Papua, dan militer yang ditempatkan di Papua. Lalu apa yang didapat oleh masyarakat dari kado-kado Jakarta itu? Tanpa ada pengawasan atau pengontrolan yang efesien. Akibatnya korupsi ditingkat provinsi sampai ke dareh terus meresahkan masayarakat biasa. Ahkhirnya masyarakat menjadi korban. Sebenarnya, maksud Jakarta untuk Papua itu apa? Sedangkan yang dituntut oleh masyarakat Papua kepada Jakarta juga sejatinya apa? Hal-hal mendasar ini perlu kita merenungkan agar tidak terjadi kontak batin yang menyinggung perasaan dan salah menafsirkan orang. Kalau Jakarta mau menguasai tanah Papua, musanakan saja orang Papua. Mungkin itu yang terbaik bagi kolonial Indonesia.

Di dunia ini,  minyak goreng dan air  tidak pernah bersatu dan berdiri dengan satu pondasi. Demikian pula orang Papua tidak aka pernah ada berkeinginan untuk bersatu dengan NKRI. Buktinya, dimana orang Papua berada, mereka selalu bercerita tentang Papua Merdeka dari rumah ke rumah, sekolah-sekolah, kampus, bahkan dimana pun mereka berada. Orang Papua dimana-mana memakai baju berlogo Bintang Kejora. Sehingga pertanyaannya, NKRI itu produknya siapa yang membohongi bangsanya sendiri.

Papua semenjak dimasukan ke RIS/NKRI (sekarang), merupakan arah dan atau tujuan yang tidak jelas. Oleh karena itu, banyak lapisan masayarakat yang bertanya-tanya kenapa kami bergabung bersama bangsa yang kami tidak pernah kenal. Sampai-sampai kami jadi begini. Selama ini Indonesia, Jakarta berpikir tentang Banjir Jakarta, KPK, KORUPSI, tetapi tidak ada titik temua yang ditemukan pada akhirnya mereka buntuh dan bentrok meyalahkan si A dan si B. Papua adalah Papua. Indonesia adalah Indonesia. Melanesia adalah Melanesia. Melayu adalah Melayu. Maka dari itu, benahilah diri singkirkan kotoran-kotoran yang tebal dalam hati itu, supaya anda dan saya kita bias mengerti akan jati diri kita yang sebenarnya.

ISRAEL VS PALESTINA
Kenapa ada konflik di Timur Tengah antara Israel dan Palestina? Apakah mereka perang karena ideologi Agama Zionisme-Yahudiisme dan Islamisme? Kalau ada perang di negara Timur Tengah, Indonesia cenderung berbicara tentanag agama. Mengapa demikian? Karena Indonesia merasa bahwa Indonesia adalah negara yang mayoritas Muslim terbesar di kawasan Asia, bahkan kalau tidak salah, terbesar kedua di dunia. Dimana sejumlah media di Indonesia menyoroti dan mengutuk bagi mereka (Isreal) yang menguasai dunia saat ini. Jelas-jelas saat Isreal dengan Palestina kontak senjata, Indonesia mengirim tenaga medis, wartawan, penggalangan dana, obat-obatan, bahkan melakukan aksi disejumlah kota-kota di Indonesia. Tanpa Indonesia melihat dari dimensi lainnya. Padahal, di Palestina bukan hanya Islam saja. Ada juga umat Nasraniya yang selama ini kita salah berpikir bahwa semuanya negara di Timur Tengah mayoritas adalah Muslim. Fariz N. Mehdawi, duta besar Palestina untuk Indonesia disaat diwawancarai di TVone, ia pernah mengatakan bahawa di Palestina bukan kota bermayoritas Muslim. Tapi juga ada umat Kristiani di sana seperti di Indonesia.

Berikut kutipannya:  ‘’ Di Palestina, Orang tidak bisa menebak agama seseorang dari namanya Abdullah belum tentu Muslim. Isa dan Maryam belum tentu Kristen. Orang Palestina juga tidak bisa dibedakan agamanya berdasarkan model pakaian yang dikenakan. Mungkin saja di sini kesannya menjadi seperti itu karena perjuangan Palestina ini menarik digunakan untuk kepentingan pencitraan kelompok-kelompok tertentu. Palestina, juga mengambil dasar negara sekuler yang menghormati kemanusiaan. Kini, kami punya dua wali kota Kristen, Vera Baboun di Betlehem, dan Janet Mikhail di Ramallah.Di Palestina saat Natal,orang yang datang kesana bakal mengira penduduknya mayoritas Kristen, sebab semua merayakan dengan meriah. Saat Idul Fitri, orang akan mengira warga Palestina semua Muslim. Yang menarik di palestina,kekristenan bukanlah agama impor. Agama lain berasal dari luar Palestina. Namun, kekristenan lahir di Palestina. Yesus lahir di Betlehem, Palestina. Orang Kristen Palestina punya nenek moyang, yang bisa jadi adalah orang-orang yang pernah bertatap muka dengan Yesus. Jadi, kekristenan adalah agama asli di Palestina.

Berangkat dari hal itu, pemilihan presiden Indonesia usai, setelah beberapa bulan lewat, tibalah Konfrensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung dan Jakarta Rabu, 22/04/2015. Konferensi tingkat tinggi yang dihadiri 107 pejabat tinggi negara-negara Asia Afrika itu, Joko Widodo saat pembukaan KAA di Jakarta, Convention Center (22/04/) ia mempertegas PBB untuk Perjuangan Palestina. Di KAA tersebut, ia berbicara tentang persoalan Palestian ketimbang persoalan di negaranya sendiri. Apakah negara Indonesia hidup dengan damai? Joko Widodo presiden RI mengatakan, ‘’ Ketidak adilan saat ini, terasa menyesahkan karena masih ada negara yang terjajah. Hal itu menjadi utang bangsa-bangsa Asia Afrika selama enam dekade. Kita dan dunia masih berutang kepada rakyat Palestina’’. Dunia seperti tidak bisa membantu rakyat Palestina lepas dari penderitaan, hidup dalam ketakutan, ketidakadilan, dan kependudukan selama bertahun tahun. Ia mengajak negara-negara Asia Afrika tak berpangku tangan dan melanjutakan perjuangan mendukung kemerdekaan rakyat Palestina.

Lalu kenapa Indonesia tidak pernah berbicara tentang persoalan orang hilang dengan unsur kepaksaan di Papua? Kemudian, kenapa Indonesia menutupi realita yang terjadi di negerinya sendiri? Sebenarnya negara ini maunya yang mana supaya harus puas. Terkadang,  kita sering lupa mencuci mata sehingga mata kita selalu dipenuhi dengan kotoran debu, sehingga kita melihat orang lain dengan cela-cela mata kita sendiri. Hati kita masih tertutup. Yang ada hanyalah kesombongan diri. Jadi, Israel vs Palestina bukanlah karena konflik keagamaan, melainkan kekayaan alam yang dimana Israel dan Amerika bekerja sama menguras hasil bumi negeri Palestina yaitu perusahan minyak yang dimilik oleh kaum kapitalis seperti Amerika dan Israel. Palestina berjuang untuk menuntut kemerdekaan dari Zionis Israel. Karena selama ini, hak-hak mereka diinjak, dirampas sehingga warga Palestina berani mengangkat senjata melawan penjajah zioni Israel. Indonesia selalu buta melihat konflik Timur Tengah yang semakin hari tak pernah mengerti akar persoalan yang sebenarnya terjadi di sana. Atau sudah tahu, tetapi seolah-olah itu menjadi tidak tahu, hanya sebagai liveservice. Demikian pula persoalan di Papua, orang Papua tidak pernah minta nasi, ikan, ayam, tahu, supermi, bakso, tetapi meminta hak mereka yang sudah dihancurkan oleh Indonesia dengan cara yang tidak benar seperti PEPERA 1969 yang penuh rekayasa. Papua menuntut Indonesia supaya Indonesia menghargai, dan menghormati Papua sebagai manusia seperti manusia lain di dunia dan khususnya di Indonesia seperti masyarakat lain dari luar Papua. Masa, orang Jawa, Orang Sumatra, Jakarta, Kalimanta, Flores, Bugis, Makasar, Toraja, Maluku Aceh dihargai. Tetapi kenapa manusia Papua itu diperlakukan seperti binatang?

INDONESIA VS PAPUA
Dilihat dari permainan politik, Indonesia sedang mencampuri urusan Palestina. Dengan alasan bahwa, Palestina adalah mayoritas Muslim. Maaf kalau saya katakan seperti itu. Selain itu, Indonesia mencampuri urusan Palestina karena negeri Palestina dijajah oleh Zionis Israel,  demi kepentingan ekonomi. Tanpa Indonesia menyadari, melihat fakta yang sedang terjadi di negeri yang kaya akan minyak itu. Tentu ini hal sangat menarik bagi kita yang belum tahu tentang budaya orang Palestina dengan Israel. Berbedah dengan Papua sebagai saudaranya Indonesia yang setiap hari korban kejahatan dari militer Indonesia. Dibenak Indonesia hanya masalah sepeleh saja, tetapi ini masalah yang sangat serius dan perlu diselesaikan secara martabat, dan adil. Justeru pemerintah selalu mengabaikan, sampai kejahatan itu terus tumbuh dan tidak pernah terungkap siapa actor dari kejahatan luar biasa itu. Namun demikian, akar daripada persoalan Papua dan Palestina ada mirip-miripnya di negeri itu. Palestina dijajah oleh AS, dan bangsanya sendiri yaitu Israel demi kepentingan ekonomi. Begitu pula Papua dijajah oleh Indonesia, karena kepentingan ekonomi juga. Kedua negara ini selalu berhadapan dengan militer. Namun, hal yang menarik adalah Palestina memiliki senjata dan amunisi yang cukup banyak sehingga melawan kaum penjajah. Sedangkan Papua tidak memiliki senjata untuk melawan para penjajah di atas negerinya dengan TNI, POLRI, KOPASSUS yang punya senjata yang cukup besar.

Tetapi orang Papua hanya bermodalkan dengan otak (pikiran). Karena merupakan salah satu senjata yang ampuh untuk mampu melawan militer Indonesia dari dulu sampai saat ini. Dan itu terbukti bahwa, dimana orang Papua berbicara tentang Papua Merdeka, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, mereka lebih menguasai dari pada Indonesia. Misalnay, disaat diplomasi Indonesa lemah, orang Papua meloloskan diri mendirikan kantor Kemerdekaan Papua Barat  (West Papuan Campaign Ofice) di Oxford, Inggris oleh pemipin Kemerdekaan Papua Barat (West Papuan Leader) Mr. Benny Wenda. Kelemahan daripada negara Indonesia, memprotes kepada pemerintah Inggris untuk segera menutup kantor tersebut. Namun, upaya itu tidak berhasil dilakukan oleh Indonesia. Indonesia kalah dalam berdiplomasi dan tidak mampu dalam berbicara secara konseptualnya, dan mereka (Indonesia) tentang persoalan Papua tidak punya bukti yang jelas untuk bisa memperkuat argumen mereka di tingkat Internasioanl.

Para penjajah Indonesia ingin membuat Papua hancur seperti kota Sodom dan Gomora yang hancur berkeping-keping. Buktinya militer Indonesia dimana-mana selalu hadir dan meneror, membunuh, menangkap, memperkosa, melakukan penyisiran, merampas tanah untuk membangun pos-pos militer di seluru tanah Papua. Kemudian apa yang dilakukan oleh Indonesia di Papua? Misalnya, pada tanggal 8 Desember 2014 militer Indonesia menembak 5 pelajar SMA di Paniai. Ini adalah utangnya Indonesia dan PBB yang belum dilunasi terhadapa perjuangan Papua Barat. Lalu kenapa harus Joko Widodo menuntut PBB untuk mendukung kemerdekaan perjuangan kemerdekaan Palestina? Apakah ada maksud tertentu yang Indonesia menyembunyikan darinya? Kalau Indonesia merasa punya utang terhadap Palestina dan mendorong upaya PBB untuk perjuangan Palestina, Kenapa Jokowi sekaligus mendukung perjuangan Papua Merdeka? Kenapa Indonesia lemah dan tidak mau mengadakan dialog dengan pihak ketiga? Orang-orang Papua merasa terluka dengan tindakan aparat yang brutal setiap hari bahkan membubarkan masa aksi damai diseluruh tanah Papua. Para aktivis KNPB dikejar, ditangkap, ditahan, diteror, para jurnalis pun diancam. Keadilan di Indonesia selalu berat sebelah. Kapan keadilan ini akan seimbang di Negara Indonesia? Di depan mata kita ada sejumlah jutaan suara duka, derita, darah, dan air mata menggoreskan tubuh kita, namun kita selalu melupakan dan melihat mereka yang begitu nun jau di sana, seolah-olah di dalam diri kita tidak ada luka dan goresan yang digoreskan. Kamu tidak melihat aku, tetapi rumput kecil melihat kamu dengan jutaan mata. Namun itu selalu kau bikin malas tahu dan menutup telinga bahkan pura-pura membutakan mata dengan cairan supaya orang mengatakan ‘’ oh orang itu matanya buta, kasian ya’’. Tetapi dilain pihak melihat kau dipenuhi dengan butiran-butiran debu di tubuhmu, lalat bersarang dan bertelur tetapi engkau tak bisa membersihkan itu.

Nasehat bapaku, dia pernah mengatakan; ‘’Anak... kalau kamu mau menegur temanmu, bawalah kaca dan lihatlah wajahmu sendiri  dulu yang sebenarnya. Tujukanlah bahwa inilah saya. Barulah kamu menegurnya. Supaya dia jangan balik menegur kamu. Kuatkanlah amunisimu supaya kamu jangan tewas duluan’’. Indonesia selalu jatuh bangun untuk menyelamatkan diri dari cengkeraman dunia (Internasional) terkait dengan pelanggaran HAM yang dilakukan militer Indonesia di Papua dan berbohong, dengan alasan hubungan diplomasi, disela-sela itu, Indonesia juga membawa uang dengan miliaran rupiah untuk membayar pihak-pihak tertentu yang bersekongkol dengannya, guna meredam gerakan Papua Merdeka di berbagai Negara yang mendukung gerakan Papua merdeka itu, terutama di Negara-negara Melanesia, seperti Fiji, dan Papua New Guinea (PNG). Itu benar-benar adanya dengan persoalan Papua yang menggema dihampir seleuruh dunia khususnya di Eropa, Pasisfik, Belanda, Kanada dan Australia.

Di negara-negara tersebut, setiap hari berkibar Bendera Bintang Kejora, solah-olah Papua sudah merdeka. Dimana-mana mereka membawa Bintang Fajar menyanyi disetiap sudut kota-kota di Eropa. Tampak dari jau sang Fajar Timur terlihat tersenyum berkibar di atas langit biru negeri Eropa, Australia, Pasifika, Prancis, Jerman, Belanda. Tak terlepas dari itu, negeri kulit hitam Afrika pun turut mendukung Free West Papua mengibarkan barang Pusaka milik negeri hitam Melanesia ini. Kemudian Papua bertanya, Kenapa Indonesia mengatakan Papua separatis? Kenapa Indonesia melarang orang Papua mengibarkan bendera Bintang Fajar di atas tanahnya sendiri? Bukankah Indonesia memberikan otonomi khusus seluas-luasnya bagi Papua, terus kenapa Jakarta ( Indonesia) masih terus campur tangan dengan kepentingan orang Papua? Kenapa pejabat Jakarata, Pejabat Papua selalu diam, sampai orang Papua selalu diperlakukan secara tidak manusiawi oleh TNI, POLRI, KOPASSUS, dan sejenis militer lainya di tanah Papua? Indonesia sengaja melakukan pemusnahan orang pribumi Papua. Indonesia sengaja membiarkan apa yang terjadi di tanah Papua dan membiayai para aktor-aktor yang selalu menghantui kenyamanan hidup orang asli Papua. Melakukan pemusnahan adalah bagian dari pemusnahan itu sendiri (Jean Baudriland) dan yang memukul lupa, yang dilukai ingat (Peribahasa Haiti).

Ya, Indonesia membunuh orang Papua dan lupa, itu kewajiban bagi mereka, yang penting pelaku dibayar mahal. Setiap perlakuan itu, selalu ada momen yang orang Papua tidak akan pernah lupa, justeru orang Papua selalu teringat akan setiap perlakuan yang dilakukan oleh bangsa kolonial terhadap mereka, melalui kaki tangan aparat militer Indonesia. Banyak orang Papua dibunuh oleh TNI POLRI, namun tak pernah mereka nampak dan mengaku siapa pelakunya. TNI, POLRI, KOPASUS itulah pelakunya, tetapi tidak pernah mengaku, begitulah watak atau karakter penjajah. Mereka membunuh orang Papua secara sistematis, setelah itu kembali menudu pelakunya adalah kelompok separatis OPM dan lain-lain. Sejatinya, OPM adalah sebuah nama Organisasi Papua Merdeka. Sehingga, dibagian sayap militernya adalah Tentara Nasional Papua Barat (TNPB), bukan kolonial dengan seenaknya mengatakan kelompok separatis. Perlakuan biadab yang dilakuakan militer Indonesia adalah asutan dari setan. Dan itu aneh tapi nyata.

Negara Indonesia lebih memperduli bangsa lain dari pada mengurus bangsanya sendiri. Setiap tahun dijemput dengan segala macam bencana. Tetapi sungguh itu selalu lupa. Ceramah, kotbah, pidato di panggung manis-manisan tapi kembali lupa. Indonesia dan Papua sampai kapan pun tidak akan pernah bersatu. Di mulut Indonesia selalu mengatakan bahwa Papua saudara kami, tetapi kata-kata itu selalu bertemu dengan darah dan air mata dikehidupan masyarakat asli Papua. Indonesia anti Papua sebaliknya Papua anti Indonesia. Kenapa demikian? Indonesia perlu merefleksikan kembali apa yang Indonesia memperjuangan kemerdekaanya yang diproklamasihkan pada 17 Agustus 1945 yang secara atminitrasinya hanya berlaku dari Sabang hingga Amboina. Dalam ikrar sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, orang Papua tidak pernah dilibatkan dalam perumusan teks sumpah pemuda tersebut.

Berikut adalah Panitia Kongres Pemuda terdiri dari:
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
  1.     Abdul Muthalib Sangadji
  2.     Purnama Wulan
  3.     Abdul Rachman
  4.     Raden Soeharto
  5.     Abu Hanifah
  6.     Raden Soekamso
  7.     Adnan Kapau Gani
  8.     Ramelan
  9.     Amir (Dienaren van Indie)
  10.     Saerun (Keng Po)
  11.     Anta Permana
  12.     Sahardjo
  13.     Anwari
  14.     Sarbini
  15.     Arnold Manonutu
  16.     Sarmidi Mangunsarkoro
  17.     Assaat
  18.     Sartono
  19.     Bahder Djohan
  20.     S.M. Kartosoewirjo
  21.     Dali
  22.     Setiawan
  23.     Darsa
  24.     Sigit (Indonesische Studieclub)
  25.     Dien Pantouw
  26.     Siti Sundari
  27.     Djuanda
  28.     Sjahpuddin Latif
  29.     Dr.Pijper
  30.     Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
  31.     Emma Puradiredja
  32.     Soejono Djoenoed Poeponegoro
  33.     Halim
  34.     R.M. Djoko Marsaid
  35.     Hamami
  36.     Soekamto
  37.     Jo Tumbuhan
  38.     Soekmono
  39.     Joesoepadi
  40.     Soekowati (Volksraad)
  41.     Jos Masdani
  42.     Soemanang
  43.     Kadir
  44.     Soemarto
  45.     Karto Menggolo
  46.     Soenario (PAPI & INPO)
  47.     Kasman Singodimedjo
  48.     Soerjadi
  49.     Koentjoro Poerbopranoto
  50.     Soewadji Prawirohardjo
  51.     Martakusuma
  52.     Soewirjo
  53.     Masmoen Rasid
  54.     Soeworo
  55.     Mohammad Ali Hanafiah
  56.     Suhara
  57.     Mohammad Nazif
  58.     Sujono (Volksraad)
  59.     Mohammad Roem
  60.     Sulaeman
  61.     Mohammad Tabrani
  62.     Suwarni
  63.     Mohammad Tamzil
  64.     Tjahija
  65.     Muhidin (Pasundan)
  66.     Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
  67.     Mukarno
  68.     Wilopo
  69.     Muwardi
  70.     Wage Rudolf Soepratman
  71.     Nona Tumbel
Itulahlah daftar nama Pemuda serta anggota yang terlibat dalam menyusun teks sumpah pemuda. Dengan demikan, kenapa harus kita berbohong pada diri sendiri. Mungkin perlu belajar lagi dan mendewasakan diri supaya mengerti akan kesalahan yang sudah pernah kita lakukan. Semoga saja itu tidak menjadi beban dalam hidup kita. Begitu saja kok repot (Almahrum: Gusdur). Kita harus benar-benar mengerti akan makna dari pada kemerdekaan yang kita sudah capai dan terbebas dari segala bentuk penjejahan kolonialisme asing (Belanda) itu. Jika kita tidak mengerti makna kemerdekaan, maka kemerdekaan tersebut hanya sia-sia. Hanyalah tipu belaka. Padahal dulu Indonesia berjuang mengorbankan tenaga, mandi darah, penuh dengan ketakutan, dan namanya perang adalah taruan nyawa ’’ hidup dan mati’’. Tetapi toh, setelah mengusir penjajah dari bumi tercintah ini, mala kembali menjadi menderita lagi. Ini kan sesuatu hal yang aneh.Seharusnya kan tidak menderita lagi? Kalau sudah merdeka berarti, kita bisa hidup dengan bebas dari segala bentuk diskriminasi, tidak saling membunuh, bahkan kita bisa hidup adil dan sejahtera, kalau Negara ini jujur dan terbebas dari korupsi. Ada catatan khusus yang penulis menyampaikan kepada teman-teman, bahwa di Papua ada spesies orang, Ada orang asli Papua, ada Jawa, Makasar, Toraja, Padang, Sumtra, Batak, Bali NTT, Kupang dan banyak ragam suku bangsa dengan latar belakang bahasa, budaya, agama yang berbeda. Seharusnya keragaman itu bisa dipelihara dan saling menghormati antar satu suku dengan suku yang lainnya.  

Namun faktanya, kehidupan orang pendatang di Papua memberikan keotonomian yang sangat bebas, mereka bebas berekspresi. Akan tetapi, orang Papua sendiri, dijadikan sebagai binatang buruan. Sampai saat ini orang Papua ditekan oleh militer Indonsia. Oleh karena itu, negara harus perlu melihat secara jelih dan menyelesaikan pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua secara damai, secara martabat sebagaimana manusia itu sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia. Perlu duduk bersama menyelesaikan masalah dengan jujur dan martabat. Bukan datang mata ganti mata dan gigi ganti gigi atau darah bayar darah. Kalau dengan cara ini, persoalan tak kunjung selesai. Pada initinya bahwa kenapa sampai sejumlah masalah di Papua tidak bisa diselesaikan, karena ada saling kecurigaan, ketidakpercayaan, ketidakadilan (pemerataan), dan ketidakterbukaan antara pemerintah pusat  (Jakarta) dengan Pemerintah Papua ‘’ elit-elit politik yang ada di Jakarta dan di Papua. Kemudian, timbul perlawanan anatara Indonesia dan masyarakat Papua yang merasa kehidupannya terancam.
                                                      *****

BUAH AJAKAN
Mari teman-teman Indonesia
Kami Papua menunggumu
Jangan takut... Marilah duduklah
Kita duduk bersama dan dialog
Jangan takut ditembak OPM
OPM bukanlah serigala berbulu domba
tetapi kami adalah Orang Papua Melanesia

Kami sangat menghargaimu
Tetapi kau sendirilah yang takut dan tidak mau berbicara
Ayolah Indonsia
Kami Papua menunggumu
Jangan ada keragu-raguan
karena dialog adalah solusi terbaik
untuk menyelesaiakan masalah ini
‘’ Masalahmu adalah masalah kami, Masalah kami, adalah masalahmu juga’’

Mari kita duduk dan berdialog dengan empat mata
Supaya negeri ini  menjadi negeri yang dami elok nan indah permai
Jangan kekerasan dibalas dengan kekerasan
Indonesia, West Papua Waiting for you....

Yogyakarta, 02 September 2015




BUNGA DAN TEMBOK

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunag yang
dirontokan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
tela kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di mana pun-tirani harus tumbang!

Wiji Thukul, Solo, 87-88






PENYAIR

Jika tak ada mesin ketik
Aku akan menulis dengan tangan
Jika tak ada tinta hitam
Aku akan menulis dengan arang hitam
Jika tak ada kertas
Aku akan menulis pada dinding
Jika aku menulis dilarang
Aku akan menulis dengan
tetes darah!

Wijil Thukul, Sarang Jagat Teater 19 Januari 1988




















Tidak ada komentar: