Selasa, 01 September 2015

KENAPA INDONESIA TAKUT MELEPASKAN PAPUA


         Yogyakarta, Minggu 20/1/14, sekitar pukul 10.15 menit waktu Yogyakarta, saya berada di salah satu warnet Terban GK.V dekat Fakultas Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, di sana saya sambil membaca berita lokal seperti, TabloidJubi dan beberapa media lainnya. Selain itu, saya pun membaca sebuah berita yang sangat menarik dari salah satu media adalah Rajawalinews.com. 
        Topik dari pada  berita tersebut adalah Pasukan AS di Australia Antisipasi Papua Keluar Dari NKRI?. Berita ini tidak lain adalah mengenai keberadaan 2.500 personil militer USA yang ditempati di Darwin Australia Utara. Pada akhir dari berita tersebut, ada seseorang yang bernama Ferry mengomentari tentang berita tersebut sejak 14 hari yang lalu.
Berikut isi Comentarnya: ‘’Untuk menyelamatkan Papua perbanyak transmigarasi, segera buka pangkalan Meliter, kerjasama dengan Rusia, lalu buat pemekaran minimal 6, Propinsi maka segera buat undang undang bela negara. Beri insentif bagi ormas yang berhasil menangkap sparatis, dirikan FPI di Papua. Buat ormas islam sebanyak mungkin di papua sebab nasrani antek antek barat sekutu untuk memecah belah NKRI’’. Kemudian muncul pertanyaan:
1.      Apa hubunannya antara Papua dengan FPI?
2.      Pantaskah Papua mendirikan ormas Islam di Papua?
3.      Apakah dengan cara mengirim trasnmigran, membuat pemekaran, membuka pangkalan militer bisa mendamaikan Papua dan menemukan solusi terhadap persoalan yang sangat panjang itu?.

         Oleh karenanya, penulis mengajak orang Papua enta dari gunung, pantai, mari bersatu dan bergandeng tangan untuk berjuang demi merebut hak kita dari tangan para penjajah. Papua harus segera merdeka, kalau tidak, ras Melanesia di Papua Barat  20 kedepan lagi akan punah di  negerinya sendiri. Tuhan sedang mempersiapkan jalan keluar bagi Bangsa Papua, sehingga jangan orang Papua banyak memakai topeng. Karena suatu saat nanti, orang Papua tidak akan membutuhkan manusia topeng karena dia adalah Yudas Iskariot yang menyerahkan Yesus ke algojo sampai Dia dibunuh dan disalipkan di bukit Golgota. Orang Papua atau milisi mera putih akan diperhitungkan apabila waktunya telah tiba.

        Papua Merdeka bukan soal makan minum seperti bakso, tahu, tempe , es teh, es jeruk, es milo es krim, dan burjo. Melaninkan berjuang demi harga diri martabat orang Papua yang mana dihancurkan oleh negara Indonesia dari sejaka tahun 1969 di bawah kekuasaan militer Indonesia melalui PEPERA. Fernando Ortiz Sanz pernah mengatakan, sikap pemerintah Indonesia yang menipu perwakilan PBB tentang metode Pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat Papua. Ortiz Sanz mengatakan, pemerintah Indonesia pikirannya tidak tetap tentang metode PEPERA.

“Ini berarti bahwa pemerintah Indonesia masih bermaksud melengkapi metode musyawarah untuk keputusan melalui perwakilan rakyat tetapi berlawanan dengan ide yang disampaikan pada 1 Oktober itu direncanakan untuk melaksanakan pemilihan bebas tidak melalui satu badan 200 perwakilan, tetapi sebagai akibatnya melalui delapan wakil (perawakilan) terdiri dari 1.025 perwakilan” (paragraph 85, hal. 30). 

        Yang sampai saat ini negara Indonesia tidak menghormati bangsa Papua sebagai manusia ciptaan Tuhan. Kalau bangsa/negara Indonesia menghargai Bangsa Papua, tidaklah mungkin ada pembunuhan, pemerkosaan, intimidasi, teror, diskriminasi, marjinalisasi, membakar rumah-rumah, dan menembak mati orang Papua secara sengaja maupun tidak sengaja. Tetapi kenapa sampai saat ini, Indonesia masih  membunuh, menyiksa, meneror, mengintimidasi, mengejar, menangkap, membubarkan masa aksi demo damai, dan tidak mau membuka ruang demokrasi di tanah Papua dengan cara adil. Hal ini sangatlah tidak adil yang dilakukan oleh negara melalui kaki tangan militer terhadap orang pribumi Papua Barat .

        Tidak ada yang  bisa membohongi sejarah masa lalu bagi orang Papua, karena sejarah yang akan membuktikan bahwa; disuatu kelak Bangsa itu akan ‘’Berdiri dan memimpin bangsanya sendiri. Sekalipun orang memilki kepandaian tinggi, hikmat dan marifat (I.S. Kinjne-1925). Sekarang Papua Ibarat Indonesia Superligue (ISL) Antara Persija Jakarta VS Mutiara Hitam Persipura yang saat ini bertanding memasukan bola ke gawang Persija Jakarta. Nah pertanyaannya adalah kenapa Mutiara Hitam bertururt-turut mendapatkan peringkata pertama? . Namun waktu yang sangat berharga yang diberikan Tuhan kepada Bangsa Papua ini, orang Papua tidak akan pernah menyerah dari segala macam bentuk yang dilakukan oleh Militer Indonesia terhadapa bangsa Papua.

        Papua terus berjuang samapi Fajar Timur akan menyinari seluruh cakrawala bumi The Bird Of Paradise. Tuhan Allah Bangsa Papua tahu penderitaan orang Papua, Dia tahu berapa banyak jiwa-jiwa orang Papua yang korban di atas tangan Militer Indonesia. Apapun yang dilakukan oleh negara Indonesia untuk mensejahterakan Bangsa Papua melalui kaki tangn Militer, sampai kapanpun tidak akan menemukan jawaban dan tidak akan pernah membawa keuntungan bagi rakyat bangsa Papua (Melanesia) . Karena yang bisa menjawab semua penderitaan orang Papua adalah Orang Asli Papua sendiri yang keluar dari perut bumi Papua, bukan yang keluar dari perut bumi daerah lain yang makan minum di tanah Papua kemudian memukul dada lalu mengatakan saya orang Papua. Sekali lagi, yang menemukan jawaban yang tepat adalah Orang Papua sejati yang menjawab nasip masa depannya sendiri, bukan orang non Papua. Orang-orang non Papua adalah kaki tangan serigala kolonial. 

        Orang asli Papua diintegrasikan ke dalam wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS) sejak 1963 sampai sekarang adalah ilegal, mengapa demikian? Karena, Dr. Hans Meijer, Sejarawan asal Belanda dalam penelitiannya yang berhubungan dengan hasil PEPERA 1969 di Papua Barat menyatakan, PEPERA 1969 di Papua Barat  benar-benar  tidak demokratis. Sebagian besar hal menarik adalah tentang dokumen-dokumen yang benar-benar tertulis dalam arsip. Sebab Menteri Luar Negeri, Lunz, dia menyatakan secara jelas dalam arsip surat bahwa dia percaya PEPERA 1969 dilaksanakan dengan cara tidak jujur sebab jikalau jujur orang-orang Papua bersuara melawan  Indonesia, sungguh-sungguh itu tidak demokratis dan itu lelucon.
PEPERA 1969 adalah suatu penghinaan bagi orang asli Papua Barat dan itu sesungguhnya tidak jujur. PBB, Belanda dan Indonesia gagal dan sengaja sejak dalam penandatanganan tidak pernah melibatkan orang-orang Papua untuk menentukan nasib sendiri secara jujur (John Salford: United Nations Involment With the Act of Free Self-Determination in West Papua (Indonesia West New Guinea) 1968 to 1969). Oleh karena itu, kita perlu belajar sejarah dan mengatakan yang sebenarnya dengan disertakan bukti-bukti yang akurat tanpa memberatkan kedua bela pihak.


Tidak ada komentar: