Alam yang kaya ini bukan milik kami
Memang kami
disebut dengan anak-anak emas
Tetapi kami buta di negeri yang kaya akan emas
Dunia menyebutnya
anak nusantara
Adalah kaya akan
tambang emas...
Tetapi sayang...kami
hanya penonton
di atas negeri emas
Setiap kapal datang lalu pergi, entah berapa yang di bawa
Kami tak tahu
Oleh karenanya, itu bukan milik kami
Kami berdiri dan bersuara di atas kebenaran
Namun suara itu selalu datang dengan senjata dan
membungkam
Berapa kilogram air laut yang ditimba lalu bawa,
entahlah kami tak tahu
Karena itu bukan milik kami
Suara penderitaan sedang bergelombang di udara
Itu pun tak kunjung didengar para nabi-nabi penguasa
dunia
Di atas tanah kering hanyalah kami berdagang
buah-buah pinang
Bibir dan gigi kami bercat merah
Karena hasil bumi kami hanya buah pinang
Kalau pun kami disebut anak-anak emas
Tetapi sayang...itu
bukanlah milik kami
Suara kami selalu terbentur bersama tembok-tembok
penguasa
Ini salah siapa? Semua
yang bermain di hari kegelapan harus ditumbang
Suara penderitaan di bumi harus dihapuskan
Yogyakarta, 13 Februari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar