Suara-suara itu menangis di atas bukit emas
Itu takkan pernah sirna dari hadapannya
Kau utus monster-monster itu datang mengahalangi
suara emas dengan senjata
Suara emas itu selalu menangis dan meminta tolong pada
bumi
Namun kau hanya membiarkan dia menderita di atas bukit
emas
Kau hanya menikmati hasil curian dari sang suara emas itu
Ketika ia menangis seperti anak kecil di hadapanmu,
kau lihat dan membiarkannya ia terus menangis
Menurutmu ia tak layak bagimu
Karenanya kau mencuri dan merampas darinya
Suara piluh dibukit emas itu
ia hanya bermodalkan niat dan keberanian
Tapi kau hanya bermental senjata
memaksakan dia harus mati di atas butiran emas
Mungkin bagimu hanya sekedar kata dan bisu
Baginya ingin kembalikan surga yang telah kau hancurkan
Suara-suara emas itu selalu hilang ditelan bumi
darah terus mengalir mengetuk di depan pintu sang surya
Air mata merayap mencari kedamaian di negeri asing
Suara emas di gunung-gunung dan di lemba-lemba
terus ditutup oleh orang berjiwa senjata, uang dan
kesombongan
Baginya surga yang menunggu
Bagimu neraka yang menjemputmu
Karena kau adalah pencuri dan pembunuh suar-suara emas
Yogyakarta, 5 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar