BERPIKIR DAN BERKERJA UNTUK MASA DEPAN
Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri
(Dumma Socratez
Sofyan)
Kau
yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, Tanah yang diberikan kepada TUHAN-mu
adalah milikmu, bukanlah untuk kau menjual kepada orang asing. Itu merupakan
hadia terindah yang telah diberikan kepadamu dengan cuma-cuma. Karena Ia mengorbankan
cintah-Nya kepadamu. Oleh karena kasih-Nya
yang
begitu besar, Ia menciptakan, memberikan, dan menempatkanmu di atas tanah yang
kamu sudah dan telah lama kau tempati. Tanah itu sebagai sumber kehidupan
bagimu. Tidak ada yang lain selain tanah yang penuh berharga itu. Jika dia
tidak mencintaimu, maka TUHAN pun tidak akan memberikan kau tanah dengan
cuma-cuma. Kau harus perlu tahu bahwa,
tanah yang TUHAN berikan kepadamu merupakan sebuah hasil karya tangan-Nya sendiri.
Dengan susah paya mengorbankan seluruh jiwaraga-Nya hanya demi kamu, Dia
menciptakan lalu memberikan kesuburan atas tanah yang kau cuma-cuma menjungkil
balik tanpa kau tidak bersyukur atas karya agung-Nya itu.
Bagimu
yang baru tumbuh dan menghirup udara segar, di sini saya meletakan pondasi
bagimu kau berpikir secara bijak seperti Raja Salomo. Kau harus kuat seperti
DAUT yang melawan dan menghancurkan tentara Firaun yang lengkap dengan senjatanya
dibawah pimpinan GOLIAT yang bila mana mereka ingin membunuh umat Israel Allah
Yakub, dan Allah Abraham yang mereka sembah. Katakan tidak dan katakan ya,
kalau itu menurutmu benar dan katakan tidak kalau itu salah. Luruskankanlah
jalan yang masih berliku-liku, hancurkanlah bukit-bukit yang tinggih, dan
ratakanlah semua itu. Kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, ingatlah
bahwa ular berlida bercabang itu selalu berada di sampingmu untuk mempengaruhi
seluruh jiwaragamu. Teguhkanlah imanmu. Jangan sampai kau dicelakai terus
menerus oleh ular-ular pecundang itu supaya kau dijadikan dalam kelinci
percobaan mereka. Namun demikian, akan ada hari penghakiman. Bertahanlah supaya
TUHANmu tidak menegurmu dengan kata ini,
‘’Dimanakah Imanmu? Seperti Yesus
menegur murid-murid-Nya di atas perahu seketika perahunya diombang-abingkan
oleh badai ombak saat Yesus sedang tidur nyenyak di atas perahu yang
ditumpanginya.
Kau
yang sudah telah dan sedang memanjat sebuah tebing yang tinggi, suram, terjal
dengan penuh berduri, kuatkanlah hatimu. Janganlah kau melihat ke belakang
karena mulut-mulut pencemoh. Fokuslah pandangamu ke depan entah itu susah sedih
dan membosankan. Ingat, tanah yang kau duduki merupakan lahan untuk kau
menumbuh kembangkan tunas-tunas baru untuk bertumbuh dan berkembang mengisi
lumbung-lumbung yang kosong sampai lumbung-lumbungmu itu penuh dan tidak ada
yang tertinggal. Jika tunas-tunasnya tidak bisa muat dalam tempayanmu,
biarkanlah ia bertunas dan membuat bejana bagi Rajamu. Banyak ular disekitarmu
yang tergila-gila dengan napsu duniawi sehingga mereka akan datang memainkanmu
seperti bola pimpong dan mengatasnamakanmu dan mengambil apa yang kau punya
daripadanya. Kau yang berpikir dan bekerja untuk masa depan, mereka adalah
tukang-tukang potret semata dan kesing ganti kesing. Padahal, jiwanya penuh
dengan berduri bagaikan sayur paku di hutan belanatara. Hatinya licik bagaikan
tupai.
Dari
mereka akan berani mengatakan sesuatu yang indah padamu untuk mengambil harta
karun darimu. Ingat, tanah merupakan harta karun yang tidak bisa kau digadaikan
dengan sebenda apapun kepada mereka. Jika kau berhasil menggadaikan tanahmu
kepada mereka, maka detik itu pun harta karunmu sudah diserahkan kepada tangan
penyamun. Dan saat itu pula kau kehilangan harta karunmu yang jatuh ditangan
musuhmu yang awalnya kau mengatakan dia sahabatmu. Kau kehilangan harapan akan
masa depan. Lalu bila waktunya tiba, kau akan mempersalahkan siapa? Di sana ia
duduk manis dan menertawakan atas kebodohanmu, mendirikan Vila bertingkat,
memiliki mobil mewah, tidur berpelukan bermesraan bersama ular-ular berbibir
merah tebal menunggangi bersama aneka kuda-kuda berparas wajah.
Di sana dia
hanya tinggal memilih mau yang putih, hitam, kuning, merah yang penting
‘’puas’’ dan happy. Itulah
pekerjaannya setiap hari. Dia seperti remot, dan kau adalah TVnya. Kau tinggal
diam kemudian ia memainkanmu memindahkan channel seperti bermain catur. Kau
adalah korbannya. Dia tidak pernah merasa malu, terhadapa apa yang ia
berlakukan padamu, bahkan dia takkan pernah takut pada-Nya. Dia tidak pernah
meminta banyak darimu. Tetapi segenggam beras merupakan ibarat satu meter tanah
yang kau berikan pada perampok itu. Keesokan harinya ia kembali dengan berwajah
yang muram,sedih, dan susah kemudian ia meminta kopi untuk minum. Kau berikan
dia minum. Tetapi ingat, Kopi itu dia tidak akan meminumnya sendiri. Ujung-ujungnya
ia mengajak anda minum bersama hasil buatan kopimu. Setelah itu, kau jatuh
cinta dengannya. Bagi penggemar Kopi, mungkin langsung saja masuk ke dalam
duniannya. Itukan nikmat. Dengan demikan, lezatnya aroma kopi darimu, kau sendiri
lupa akan segalanya. Dia lagi-dia lagi. Masuk lagi-masuk lagi. Jika kau
memberikan harta karunmu kepada mereka, berpikirlah dulu baru mengambil
keputusan.
Di dalam sebuah keluarga, kalau ibu berbelanja kebutuhan
keluarganya, sebelumnya sang ibu harus direncanakan dan sudah tahu mana yang
harus dibelanjakan kemudian itu bersifat mendesak dan harus dipenuhi. Dengan
singkat kata, Sang ibu harus punya notes
kecil. Kenapa demikian? Kata anak-anak zaman siwol manere, bahwa siwol
adalah bitki (setan). Bukan kau yang
mengatur uang, tetapi uang yang mengatur kau. Kepadamu yang berpikir dan
berkerja untuk masa depan, hidup ini banyak pilihan, banyak rasa. Maka dari
itu, untuk sementra waktu ini, pertama-tama kau mencoba mencicipi dulu. Jika
itu manis, teruskanlah mencicipi sampai habis. Jika ada yang merasa pahit, muntahkanlah kepada pemiliknya. Kau
yang berpikir dan berjuang untuk masa depan, didiklah anak-anakmu supaya suatu
kelak mereka menjadi pahlawan. Jika kau membiarkan mereka seperti air yang
mengalir tiada henti, suatu kelak mereka akan jadi pemberontak sejati dan akan
menggoreng tubuhmu seperti ikan kering. Setelah itu akan dibuang ke dalam api.
Demikian jasadmu akan hangus bagaikan debu. Mereka melihatmu seperti kelinci
percobaan. Jika kau mengerti hatinya, maka mereka akan keluar darimu. Jika kau
tidak mengerti sama sekali tentang jiwa mereka, maka kau kehilangan harapan
akan masa depan. Seorang yang berani berbuka-bukaan dengan ular, maka ekor
menjadi mata-matanya. Apabila kau jatuh dan terpleset oleh karena perbuatanya,
maka dia tidak akan pernah mempersoalkan dengan lukamu.
Kau
yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, ingat bahwa sekarang banyak yang
dijadikan kelinci percobaan yaitu keluargamu sendiri. Kelinci percobaan itu,
sudah ada dan sudah berlangsung selama berabad-abad. Sayangnya, mereka tidak
pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka sendiri. Sedangkan
kau hanya dijadikan buru kasar di dalam kelompok raja Firaun. Mereka sedang
menelanjangimu dan menidurimu selama-lamanya karena tulang kemaluannya telah
hilang dari hadapannya. Tentu malu kan? Itu ditonton oleh lalat-lalat yang lalu
lalang seperti barang rongsokan yang dilempar begitu saja. Saya mengatakan
bahwa dimana pun kau hidup dan bernapas, janganlah kamu nakal berbuka-bukaan di
hadapan ular-ular pancingan ala lain di hadapanmu. Mereka itu licik, pintar
bersilat-silatan, pintar menghitung dalam kancing baju. Mereka pandai mengunci
dan membuka. Kau memang belum tahu tabiat ular. Jangan kau coba-coba dengan
ular. Karena, ular bisa yang kau pelihara, lebih bisa dari pada ular-ularan.
Kau
yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, di telapak tanganmu ada
algojo-algojo buatan ular bisa. Tanah yang kamu menghidupkan keluargamu,
masyarakatmu, kampungmu, peliharalah dengan tangan besi. Sekali lagi katakan
tidak kalau itu salah. Katakan ya kalau itu benar. Seorang anak meminta ikan,
berikan pula ikan. Jangan ia meminta ikan tetapi kau meberikannya dengan ular.
Berarti kau tidak mengenal anak itu. Artinya, jika Bapamu memberikan roti,
berikan pada anakmu juga dengan roti. Itu berarti Dia mengenal kamu dan kamu
mengenal-Nya. Maka kau juga mengenal anak itu atau sebaliknya.
‘’Dalam masyarakat
kapitalisme, manusia dikontrol oleh hukum tanpa kasih sayang yang berada di
luar jangkauanya. Hukum kapitalisme, yang mengelabui dan tak tampak bagi orang
kebanyakan berlaku atas individu tanpa ia menyadarinya. Ia hanya melihat
keleluasan horizon tanpa batas di hadapannya’’
(Che Guavera).
Saya
melihat dengan kondisi saat ini, banyak manusia bertopeng yang menjual nama,
atas nama orang lain berlagak sebagai hakim di suatu wilayah tertentu. Jika
orang-orang bertingkah seperti itu, bagaimana dengan nasip anak mereka di masa
depan. Apabila bapanya atau mamanya meninggal, bagaimana anak daripada
orang-orang itu akan hidup dengan tenang? Sadarlah kawan-kawan! Jangan kau
hanya ingat untuk hari Senin saja. Ingatlah untuk selamanya supaya orang lain
juga bisa bernapas dengan tenang. Jangan mereka tersiksa di dalam penjara
karena perbuatanmu yang konyol itu. Tanah yang kau garap, tidak lain adalah
surgamu yang penuh dengan madu dan susu. Biarkan dari perut bumi tumbuhlah
tumuh-tumbuhan, berkembanglah segala jenis hewan melata, baik yang di darat,
laut maupun udara. Hiasilah dirimu dengan apa yang telah kau miliki dari-Nya.
Kau jangan terpancing dengan godaan-godaan duniawi yang serba instan.
Mereka
itu pemabuk, pelacur, tukang bermain togel, pencemoh, pendusta, dan tidak
memiliki adat-istiadat kasih sayang. Kau harus kembali dengan caramu,
sebagaimana sejak nenek moyangmu telah dijarkan. Kalau kau gila, maka batu-batu
akan lebih gila dari kegila-gilaanmu. Kau yang berpikir dan berkerja untuk masa
depan, kamu ingat bahwa mereka memberimu peti dan menyuru kau membawanya sampai
keluar keringat badan, karena beratnya peti itu. Kau jangan terlalu percaya
dengan benda itu. Itu sama halnya dengan buru satu hari satu jam atau kegiatan
buru singgaan. Singkat kata, namanya buru kasar. Waktumu untuk berkerja yang
halal, mala kau menghabiskan waktu dengan menjinjing peti mati seolah-olah itu
sebuah benda pusaka yang harus kau hormat-menghormati setiap hari.
Ingat,
kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan atas tanahmu, bahwa dalam buku
karanagn Paulo Freire, berjudul Pendidikan Kuam Tertindas, Ia menuliskan bahwa
dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan yang merupakan sebuah anugerah
yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka
yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Gaya ini mempertajamkan
kontradiksi melalui cara-cara dan kebiasaan-kebiasaan yang mencerminkan suatu
keadaan masyarakat tertindas secara keseluruhan. Dalam konsep gaya bank
tersebut adalah sbb:
1)
Guru mengajar, murid
diajar.
2)
Guru mengetahui segala
sesuatu, murid tidak tahu apa-apa.
3)
Guru berpikir, murid
dipikirkan.
4)
Guru bercerita, murid
patuh mendengarkan.
5)
Guru menentukan
peraturan, murid diatur.
6)
Guru memilih dan
memaksakan pilihannya, murid menyetujui.
7)
Guru berbuat, murid
membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya.
8)
Guru memilih bahan dan
isi pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan
pelajaran itu.
9)
Guru mencampuradukkan
kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk
menghalangi kebebasan murid
10) Guru
adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka.
Oleh
karena demikian, kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, perlu
mengetahui bahwa sesungguhnya guru yang mengajarkan Anda, saya bisa mengatakan
demikan; hati guru itu seperti pinang dibela dua. Dia memberikan kau kulit
luarnya tetapi inti dari pada itu ia menyebunyikan sampai kau tak bisa tahu.
Padahal, guru merupakan teladan yang baik yang memunujukan hal yang baik untuk memanusiakan
manusia bukan guru mendidik kau jadi dehumanisasi. Kau yang berpikir dan berkerja, jangan
terlalu percaya dengan teori gurumu. Karena sesungguhnya dia juga sama seperti
kamu. Ilmu yang dia miliki itu tidak semuanya tahu. Guru yang mampu dan mengajarkan
ilmunya kepada muridnya adalah dia mampu memahami segala situasi dan kondisi
yang ia turut merasakan. Itulah guru yang baik. Maka dari itu, jangan kau
terpropokasi dengan adu domba yang ceritanya penuh berdramatis yang fiktip
belaka yang ia memaksakan kehendakmu untuk mempraktekkannya. Guru yang tidak
mengerti akan kebudayaan, ia membutuhkan proses adaptasi yang cukup lama.
Yah,
setidaknya ia bisa berbahasa setempat. Itu menjadi jalan untuk sang guru tersebut
bisa mengerti kebiasaanmu yang sebenarnya. Misalnya, di daerah suku Yali,
Pegunungan Tengah, ada seorang missionaris yang mampu berbahasa Yali, ia sangat
memahami cara hidup suku Yali di Pegunungan tengah. Ketika dia membawa renungan
alkitab, dia tidak pernah menggunakan bahasa Ingris, ataupun Indonesia,
melainkan bahasa suku setempat. Itu membuat masyarakat mudah memahami renungan
missionaris tersebut. Di sana missionaris tersebut menggunakan bahasa suku Yali
disaat mereka mengadakan acara seperti acara doa bersama, berdiskusi, dan
lain-lain. Itulah salah satu keteladanan guru yang bisa menghargai manusia satu
dengan manususia lainnya. Bukanlah dia jadi satpam satu hari dan menceritakan
hidupmu dari A sampai Z tapi tak ada
hasilnya yang membawa keuntungan bagi anda, justeru kaulah yang menguntungkan
kepadanya.
Hukum
telah mengatakan kau jangan macam-macam dengan apa yang hukum telah ditetapkan.
Katanya, hukum itu adalah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah. Namun kenyataanya,
hukum sendirilah yang melangggar hukum. Hukum melindungi Ikan Paus. Sedangkan
ikan kecil diperkarakan oleh hukum. Di
lain pihak mengatakan, hukum itu hanya buatan dari dunia kedua. Maka hukum itu
bisa dibongkar kemudian dipasang kembali tanpa melihat, menghargai kau sebagai
tuan yang berhak mempertimbangkan hukum itu. Hukum itu kan mengatur tatanam
hidup suatu wilayah atau negara. Hukum mengatur segala aspek-aspek yang ada di
dalam suatu wilayah yakni tanah, air, udara dan manusia dan lain-lain. Kalau tanpa hukum akan timbul persekongkolan
anatara kelompok satu dengan kelompok yang lain, antara individu dan individu
lainya.
Namun demikian, hukum menjadi senjata yang menjepit kau sampai kamu tak
berdaya. Hukum bagaikan batu yang tak bisa bergerak, akan tetapi akibat dari pada
itu, tubuhmu menjadi sakit. Tidak hanya sakit di salah satu anggota tubuh saja,
melainkan rasa sakitnya menyebar ke seluruh anggota tubuh. Hukum yang mengatur
kamu, kamu jadi pelaksananya, bahkan dia memaksakan kehendakmu sampai kau
mengikuti kehendaknya tanpa ia memandangimu sebagai manusia yang beradab.
Sistem gaya bank memandang kau sebagai makhluk yang dapat disamakan dengan
sebuah benda dan gampang mengatur anda. Kamu memandang guru sebagai Tuhan yang
berdiri di depanmu dan mengajar mendidik Anda lalu kau takut padanya. Dengan
rasa takutmu, kau tidak bisa memecahkan persolan yang kau sedang hadapi.
Berusahalah kau keluar dari dunianya agar masalahmu dapat diatasi sesuai hukum
adatmu. Seandainya dia memberikan pertanyaan kepada Anda, dan kau menjawabnya
salah, guru yang tidak mengerti dengan baik tentang kehidupanmu, pasti dia akan
marah, meludai, memukul lalu memaksakan anda harus jawab dengan benar.
Sedangkan guru yang mengerti akan latar belakang kehidupanmu, ia akan
menanyakan pertanyaannya berangkat dari saat kau bangun dari tidur sampai kau
tibah di sekolah.
Kalau kamu mengerti, mulailah dengan pertanyaan. Misalnya
guru bertanya kepada anda misalnya, anda bernama Benny. Kemudian guru bertanya kepada
Anda demikian, Guru: Benny, 5+5 = ..... berapa? Anda (Benny) menjawab: 10 Pak
Guru. Apa kata guru tersebut? Pasti guru tersebut mengatakan good anak Benny. Guru yang berkompeten,
ia menghasilkan muridnya yang cerdas. Sedangkan, guru yang tidak berkompeten
dan tidak berpengalaman, akan mempersulit muridnya untuk cepat memahami dengan
pelajaran yang dijarkannya. Misalnya, saya ketika masih kelas 1 SD, saya pernah
dipukuli oleh Kepala sekolah gara-gara Matematika, karena jawaban saya bedah
dengan jawaban yang dijawab Kepala Sekolah tadi. Dengan hal itu, saya bisa
menggabarkan kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan ini, anda dididik
dengan guru yang tidak berkompten, bahkan penilaian guru tersebut kepada anda
dengan muncul kata-kata yang sembrono misalnya, kau bodoh, primitif,
ketertinggalan, keterbelakangan, miskin dan sebagainya.
Dengan kata-kata itu,
secara tidak langsung guru tersebut membunuh karakter anda sebagai orang mudah
yang bisa kamu mengelola IQ yang membuat kau jadi cerdas. Tingkahlaku guru itu
membuat kamu bingung, dan tidak mengerti apa yang kamu pelajari darinya. Maaf saya
tidak mengatakan kamu bodoh. Akan tetapi manusia itu pintar. Kau diajarkan
dengan adat-istiadat yang tidak sepadan denganya dan merugikanmu bahkan
menghancurkan cara berpikirmu yang mantap.
Kau
memelihara anjing-anjing dengan jumlah yang banyak. Kau yang memelihara anjing
majikanmu itu tidak pernah mengerti. Kenapa kau tidak pernah tahu dari majikanmu?
Anjing-anjing itu sengaja dia menyuru kau untuk menjaga, memlihara, dan
merawatnya atas namanya. Pekerjaanmu itu tentu menyebalkan kan? Berapa upah
yang kau peroleh darinya? Terkadang kau tidak dibayarkan upahmu, kau jadi
satpam satu hari atau ajudan satu hari hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupmu
sampai kau tertipu dengan pekerjaan konyol itu. Kau dijadikan sebagai anak tiri
yang setiap hari dicambuk, disiksa, diolok, diludai, di depan dombamu.
Sementara budak-budak peliharaan majikanmu itu membelakangimu dan berjalan
seperti ibu hamil yang sudah 8 bulan. Namu mereka tak kunjung melahirkan,
bahkan mereka sendiri yang menggugurkan bayinya sampai berdarah-darah dan tak
pernah habis-habisnya. Mereka itu adalah koridor majikanmu untuk menelan bumi dari
segalah arah.
Saya
mengatakan demikian, anjing itu tahu tentang bagaimana menyerang musuh, siapa
guruku, anakku, keluargaku dan tuanku. Dia itu sedikit bertingkah seperti
manusia, namun ia tak bisa berbicara. Yang ada hanya menggunakan insting.
Sedangkan binatang bunglon merupakan seekor binatang yang dapat berubah
mujudnya setiap saat. Dia menyesuaikan diri dan pintar mengelabui musuhnya.
Sifat dari majikanmu itu, sama seperti binatang bunglon. Lain ceritanya dengan
ular, ular lebih berbahaya karena dia berhasil membohongi Adam dan Hawa. Di kota
(A), Harimau minum darah. Sedangkan di kota (B) sapi-sapi memakan rumput. Sedangkan
di kota (O) sedang bingung mau berpihak pada Harimau atau Sapi. Pada akhirnya
menunda dan membuka agenda baru. Kemudian yang pertama lupah deh. Padahal kita
berbenturan dengan lida-lida api yang besar. Dari kita belum dipadamkan, bahkan
lida-lida api itu terus menyalah dan tak kunjung dipadamkan. Kita dikelilingi
oleh api, namun kita membiarkan seolah-olah kita kehabisan air. Tulisan ini
mungkin para pembaca yang baik hati tidak dapat mengerti dengan kata-kata saya.
Karena kata-kata ini memang aneh dan kolot. Banyak kata-kata asing. Tulisan
saya hanya ditujukan kepada kaum berpikir yang ingin melakukan suatu perubahan
dari kehidupan (change of life) yang
merasa diri, dirinya ditindas dengan sebuah sistem yang tidak memanusiakan.
Orang radikal,
yang merasa terpanggil bagi usaha pembebasan manusia, tak akan menjadi tawanan
dari sebuah ‘’lingkaran kepastian’’ di dalam mana ia juga memenjarakan
realitas. Sebaliknya, semakin radikal seseorang, semakin jauh ia masuk ke dalam
realitas sehingga, karena dapat mengetahuinya dengan lebih baik, ia dapat
mengubahnya dengan lebih baik. Ia tidak takut untuk berhadapan dengan apapun,
untuk mendengarkan, dan menyaksikan dunia yang terkuak. Ia menghadirkan dirinya
dalam sejarah untuk berjuang di pihak mereka, (Paulo
Freire, hal. 8).
Oleh karena hal
itu merupakan sebuah penyimpangan dari
suatu usaha untuk menjadi lebih manusiawi itu akan mendorong kaum tertindas
untuk berjuang menentang mereka yang telah membuat mereka jadi demikian. Agar
perjuangan itu jadi bermakna, maka berusaha merebut kembali kemanusiaan mereka
kaum tertindas tidak boleh berbalik menjadi penindas kaum penindas; tetapi
memulihkan kembali kemanusiaan keduanya. Kaum penindas, yang menindas, memeras,
dan memperkosa, melalui kekuasaannya itu kekuatan untuk membebaskan kaum
tertindas dan diri mereka sendiri.
Kau
yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, kau perlu tahu, bahwa Suatau
Bangsa yang tidak kau kenal, akan memakan hasil bumimu dan segala hasil jerih
payahmu; engkau akan ditindas dan dinjak. Banyak benih
yang akan kau bawah ke ladang, tetapi sedikit hasil yang akan kau kumpulkan,
sebab belalang akan menghabiskannya’’. Demikan realita yang ada, kau ditindas
dengan kekuasan yang semena-mena melupakanmu. Padahal, kau sendirilah yang
menjadi milik dan tuan atas negerimu. Janganlah kau berteriak di depan para
pecundang penguasa. Luruskan dan hitunglah sapu lidi yang ada padamu setelah dihitung
berapa banyak jumlahnya, ikatlah erat-erat dengan seutas tali agar tidak ada
yang jatuh berantakan dari ikatan.
Kalau itu sudah kuat, barulah melakukan aksi
yang benar-benar tepat pada sasaran. Bukan hanya lempar batu sembunyi tangan.
Ini merupakan tugas bagi kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan
berdasarkan kesejarahan dan kemanusiaan terbesar bagi kau, saya, dia, mereka
dan kita semua. Membebaskan diri kita sendiri dan juga kaum tertindas. Kaum
penindas yang menindas, memeras, dan memperkosa melalui kekuasaannya, tidak
dapat menemukan dalam kekuasaanya itu kekuatan untuk membebaskan kaum tertindas
dari mereka sendiri (Paulo
Freire, hal. 12).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar