Rabu, 26 Agustus 2015

BERPIKIR DAN BERKERJA UNTUK MASA DEPAN

BERPIKIR DAN BERKERJA UNTUK MASA DEPAN

Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri
(Dumma Socratez Sofyan)

Kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, Tanah yang diberikan kepada TUHAN-mu adalah milikmu, bukanlah untuk kau menjual kepada orang asing. Itu merupakan hadia terindah yang telah diberikan kepadamu dengan cuma-cuma. Karena Ia mengorbankan cintah-Nya kepadamu. Oleh karena kasih-Nya

yang begitu besar, Ia menciptakan, memberikan, dan menempatkanmu di atas tanah yang kamu sudah dan telah lama kau tempati. Tanah itu sebagai sumber kehidupan bagimu. Tidak ada yang lain selain tanah yang penuh berharga itu. Jika dia tidak mencintaimu, maka TUHAN pun tidak akan memberikan kau tanah dengan cuma-cuma.  Kau harus perlu tahu bahwa, tanah yang TUHAN berikan kepadamu merupakan sebuah hasil karya tangan-Nya sendiri. Dengan susah paya mengorbankan seluruh jiwaraga-Nya hanya demi kamu, Dia menciptakan lalu memberikan kesuburan atas tanah yang kau cuma-cuma menjungkil balik tanpa kau tidak bersyukur atas karya agung-Nya itu.
          
 Bagimu yang baru tumbuh dan menghirup udara segar, di sini saya meletakan pondasi bagimu kau berpikir secara bijak seperti Raja Salomo. Kau harus kuat seperti DAUT yang melawan dan menghancurkan tentara Firaun yang lengkap dengan senjatanya dibawah pimpinan GOLIAT yang bila mana mereka ingin membunuh umat Israel Allah Yakub, dan Allah Abraham yang mereka sembah. Katakan tidak dan katakan ya, kalau itu menurutmu benar dan katakan tidak kalau itu salah. Luruskankanlah jalan yang masih berliku-liku, hancurkanlah bukit-bukit yang tinggih, dan ratakanlah semua itu. Kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, ingatlah bahwa ular berlida bercabang itu selalu berada di sampingmu untuk mempengaruhi seluruh jiwaragamu. Teguhkanlah imanmu. Jangan sampai kau dicelakai terus menerus oleh ular-ular pecundang itu supaya kau dijadikan dalam kelinci percobaan mereka. Namun demikian, akan ada hari penghakiman. Bertahanlah supaya TUHANmu tidak menegurmu  dengan kata ini, ‘’Dimanakah Imanmu? Seperti Yesus menegur murid-murid-Nya di atas perahu seketika perahunya diombang-abingkan oleh badai ombak saat Yesus sedang tidur nyenyak di atas perahu yang ditumpanginya.

Kau yang sudah telah dan sedang memanjat sebuah tebing yang tinggi, suram, terjal dengan penuh berduri, kuatkanlah hatimu. Janganlah kau melihat ke belakang karena mulut-mulut pencemoh. Fokuslah pandangamu ke depan entah itu susah sedih dan membosankan. Ingat, tanah yang kau duduki merupakan lahan untuk kau menumbuh kembangkan tunas-tunas baru untuk bertumbuh dan berkembang mengisi lumbung-lumbung yang kosong sampai lumbung-lumbungmu itu penuh dan tidak ada yang tertinggal. Jika tunas-tunasnya tidak bisa muat dalam tempayanmu, biarkanlah ia bertunas dan membuat bejana bagi Rajamu. Banyak ular disekitarmu yang tergila-gila dengan napsu duniawi sehingga mereka akan datang memainkanmu seperti bola pimpong dan mengatasnamakanmu dan mengambil apa yang kau punya daripadanya. Kau yang berpikir dan bekerja untuk masa depan, mereka adalah tukang-tukang potret semata dan kesing ganti kesing. Padahal, jiwanya penuh dengan berduri bagaikan sayur paku di hutan belanatara. Hatinya licik bagaikan tupai.

Dari mereka akan berani mengatakan sesuatu yang indah padamu untuk mengambil harta karun darimu. Ingat, tanah merupakan harta karun yang tidak bisa kau digadaikan dengan sebenda apapun kepada mereka. Jika kau berhasil menggadaikan tanahmu kepada mereka, maka detik itu pun harta karunmu sudah diserahkan kepada tangan penyamun. Dan saat itu pula kau kehilangan harta karunmu yang jatuh ditangan musuhmu yang awalnya kau mengatakan dia sahabatmu. Kau kehilangan harapan akan masa depan. Lalu bila waktunya tiba, kau akan mempersalahkan siapa? Di sana ia duduk manis dan menertawakan atas kebodohanmu, mendirikan Vila bertingkat, memiliki mobil mewah, tidur berpelukan bermesraan bersama ular-ular berbibir merah tebal menunggangi bersama aneka kuda-kuda berparas wajah. 

Di sana dia hanya tinggal memilih mau yang putih, hitam, kuning, merah yang penting ‘’puas’’ dan happy. Itulah pekerjaannya setiap hari. Dia seperti remot, dan kau adalah TVnya. Kau tinggal diam kemudian ia memainkanmu memindahkan channel seperti bermain catur. Kau adalah korbannya. Dia tidak pernah merasa malu, terhadapa apa yang ia berlakukan padamu, bahkan dia takkan pernah takut pada-Nya. Dia tidak pernah meminta banyak darimu. Tetapi segenggam beras merupakan ibarat satu meter tanah yang kau berikan pada perampok itu. Keesokan harinya ia kembali dengan berwajah yang muram,sedih, dan susah kemudian ia meminta kopi untuk minum. Kau berikan dia minum. Tetapi ingat, Kopi itu dia tidak akan meminumnya sendiri. Ujung-ujungnya ia mengajak anda minum bersama hasil buatan kopimu. Setelah itu, kau jatuh cinta dengannya. Bagi penggemar Kopi, mungkin langsung saja masuk ke dalam duniannya. Itukan nikmat. Dengan demikan, lezatnya aroma kopi darimu, kau sendiri lupa akan segalanya. Dia lagi-dia lagi. Masuk lagi-masuk lagi. Jika kau memberikan harta karunmu kepada mereka, berpikirlah dulu baru mengambil keputusan. 

Di dalam sebuah keluarga, kalau ibu berbelanja kebutuhan keluarganya, sebelumnya sang ibu harus direncanakan dan sudah tahu mana yang harus dibelanjakan kemudian itu bersifat mendesak dan harus dipenuhi. Dengan singkat kata, Sang ibu harus punya notes kecil. Kenapa demikian? Kata anak-anak zaman siwol manere, bahwa siwol adalah bitki (setan). Bukan kau yang mengatur uang, tetapi uang yang mengatur kau. Kepadamu yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, hidup ini banyak pilihan, banyak rasa. Maka dari itu, untuk sementra waktu ini, pertama-tama kau mencoba mencicipi dulu. Jika itu manis, teruskanlah mencicipi sampai habis. Jika ada yang merasa  pahit, muntahkanlah kepada pemiliknya. Kau yang berpikir dan berjuang untuk masa depan, didiklah anak-anakmu supaya suatu kelak mereka menjadi pahlawan. Jika kau membiarkan mereka seperti air yang mengalir tiada henti, suatu kelak mereka akan jadi pemberontak sejati dan akan menggoreng tubuhmu seperti ikan kering. Setelah itu akan dibuang ke dalam api. Demikian jasadmu akan hangus bagaikan debu. Mereka melihatmu seperti kelinci percobaan. Jika kau mengerti hatinya, maka mereka akan keluar darimu. Jika kau tidak mengerti sama sekali tentang jiwa mereka, maka kau kehilangan harapan akan masa depan. Seorang yang berani berbuka-bukaan dengan ular, maka ekor menjadi mata-matanya. Apabila kau jatuh dan terpleset oleh karena perbuatanya, maka dia tidak akan pernah mempersoalkan dengan lukamu.

Kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, ingat bahwa sekarang banyak yang dijadikan kelinci percobaan yaitu keluargamu sendiri. Kelinci percobaan itu, sudah ada dan sudah berlangsung selama berabad-abad. Sayangnya, mereka tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka sendiri. Sedangkan kau hanya dijadikan buru kasar di dalam kelompok raja Firaun. Mereka sedang menelanjangimu dan menidurimu selama-lamanya karena tulang kemaluannya telah hilang dari hadapannya. Tentu malu kan? Itu ditonton oleh lalat-lalat yang lalu lalang seperti barang rongsokan yang dilempar begitu saja. Saya mengatakan bahwa dimana pun kau hidup dan bernapas, janganlah kamu nakal berbuka-bukaan di hadapan ular-ular pancingan ala lain di hadapanmu. Mereka itu licik, pintar bersilat-silatan, pintar menghitung dalam kancing baju. Mereka pandai mengunci dan membuka. Kau memang belum tahu tabiat ular. Jangan kau coba-coba dengan ular. Karena, ular bisa yang kau pelihara, lebih bisa dari pada ular-ularan.
Kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, di telapak tanganmu ada algojo-algojo buatan ular bisa. Tanah yang kamu menghidupkan keluargamu, masyarakatmu, kampungmu, peliharalah dengan tangan besi. Sekali lagi katakan tidak kalau itu salah. Katakan ya kalau itu benar. Seorang anak meminta ikan, berikan pula ikan. Jangan ia meminta ikan tetapi kau meberikannya dengan ular. Berarti kau tidak mengenal anak itu. Artinya, jika Bapamu memberikan roti, berikan pada anakmu juga dengan roti. Itu berarti Dia mengenal kamu dan kamu mengenal-Nya. Maka kau juga mengenal anak itu atau sebaliknya.

‘’Dalam masyarakat kapitalisme, manusia dikontrol oleh hukum tanpa kasih sayang yang berada di luar jangkauanya. Hukum kapitalisme, yang mengelabui dan tak tampak bagi orang kebanyakan berlaku atas individu tanpa ia menyadarinya. Ia hanya melihat keleluasan horizon tanpa batas di hadapannya’’ (Che Guavera). 

Saya melihat dengan kondisi saat ini, banyak manusia bertopeng yang menjual nama, atas nama orang lain berlagak sebagai hakim di suatu wilayah tertentu. Jika orang-orang bertingkah seperti itu, bagaimana dengan nasip anak mereka di masa depan. Apabila bapanya atau mamanya meninggal, bagaimana anak daripada orang-orang itu akan hidup dengan tenang? Sadarlah kawan-kawan! Jangan kau hanya ingat untuk hari Senin saja. Ingatlah untuk selamanya supaya orang lain juga bisa bernapas dengan tenang. Jangan mereka tersiksa di dalam penjara karena perbuatanmu yang konyol itu. Tanah yang kau garap, tidak lain adalah surgamu yang penuh dengan madu dan susu. Biarkan dari perut bumi tumbuhlah tumuh-tumbuhan, berkembanglah segala jenis hewan melata, baik yang di darat, laut maupun udara. Hiasilah dirimu dengan apa yang telah kau miliki dari-Nya. Kau jangan terpancing dengan godaan-godaan duniawi yang serba instan.

Mereka itu pemabuk, pelacur, tukang bermain togel, pencemoh, pendusta, dan tidak memiliki adat-istiadat kasih sayang. Kau harus kembali dengan caramu, sebagaimana sejak nenek moyangmu telah dijarkan. Kalau kau gila, maka batu-batu akan lebih gila dari kegila-gilaanmu. Kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, kamu ingat bahwa mereka memberimu peti dan menyuru kau membawanya sampai keluar keringat badan, karena beratnya peti itu. Kau jangan terlalu percaya dengan benda itu. Itu sama halnya dengan buru satu hari satu jam atau kegiatan buru singgaan. Singkat kata, namanya buru kasar. Waktumu untuk berkerja yang halal, mala kau menghabiskan waktu dengan menjinjing peti mati seolah-olah itu sebuah benda pusaka yang harus kau hormat-menghormati setiap hari.

Ingat, kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan atas tanahmu, bahwa dalam buku karanagn Paulo Freire, berjudul Pendidikan Kuam Tertindas, Ia menuliskan bahwa dalam konsep pendidikan gaya bank, pengetahuan yang merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Gaya ini mempertajamkan kontradiksi melalui cara-cara dan kebiasaan-kebiasaan yang mencerminkan suatu keadaan masyarakat tertindas secara keseluruhan. Dalam konsep gaya bank tersebut adalah sbb:
1)        Guru mengajar, murid diajar.
2)        Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa.
3)        Guru berpikir, murid dipikirkan.
4)        Guru bercerita, murid patuh mendengarkan.
5)        Guru menentukan peraturan, murid diatur.
6)        Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui.
7)        Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan gurunya.
8)        Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.
9)        Guru mencampuradukkan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid
10)    Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka.

Oleh karena demikian, kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, perlu mengetahui bahwa sesungguhnya guru yang mengajarkan Anda, saya bisa mengatakan demikan; hati guru itu seperti pinang dibela dua. Dia memberikan kau kulit luarnya tetapi inti dari pada itu ia menyebunyikan sampai kau tak bisa tahu. Padahal, guru merupakan teladan yang baik yang memunujukan hal yang baik untuk memanusiakan manusia bukan guru mendidik kau jadi dehumanisasi.  Kau yang berpikir dan berkerja, jangan terlalu percaya dengan teori gurumu. Karena sesungguhnya dia juga sama seperti kamu. Ilmu yang dia miliki itu tidak semuanya tahu. Guru yang mampu dan mengajarkan ilmunya kepada muridnya adalah dia mampu memahami segala situasi dan kondisi yang ia turut merasakan. Itulah guru yang baik. Maka dari itu, jangan kau terpropokasi dengan adu domba yang ceritanya penuh berdramatis yang fiktip belaka yang ia memaksakan kehendakmu untuk mempraktekkannya. Guru yang tidak mengerti akan kebudayaan, ia membutuhkan proses adaptasi yang cukup lama. 

Yah, setidaknya ia bisa berbahasa setempat. Itu menjadi jalan untuk sang guru tersebut bisa mengerti kebiasaanmu yang sebenarnya. Misalnya, di daerah suku Yali, Pegunungan Tengah, ada seorang missionaris yang mampu berbahasa Yali, ia sangat memahami cara hidup suku Yali di Pegunungan tengah. Ketika dia membawa renungan alkitab, dia tidak pernah menggunakan bahasa Ingris, ataupun Indonesia, melainkan bahasa suku setempat. Itu membuat masyarakat mudah memahami renungan missionaris tersebut. Di sana missionaris tersebut menggunakan bahasa suku Yali disaat mereka mengadakan acara seperti acara doa bersama, berdiskusi, dan lain-lain. Itulah salah satu keteladanan guru yang bisa menghargai manusia satu dengan manususia lainnya. Bukanlah dia jadi satpam satu hari dan menceritakan hidupmu dari A sampai Z  tapi tak ada hasilnya yang membawa keuntungan bagi anda, justeru kaulah yang menguntungkan kepadanya.

Hukum telah mengatakan kau jangan macam-macam dengan apa yang hukum telah ditetapkan. Katanya, hukum itu adalah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah. Namun kenyataanya, hukum sendirilah yang melangggar hukum. Hukum melindungi Ikan Paus. Sedangkan ikan kecil diperkarakan  oleh hukum. Di lain pihak mengatakan, hukum itu hanya buatan dari dunia kedua. Maka hukum itu bisa dibongkar kemudian dipasang kembali tanpa melihat, menghargai kau sebagai tuan yang berhak mempertimbangkan hukum itu. Hukum itu kan mengatur tatanam hidup suatu wilayah atau negara. Hukum mengatur segala aspek-aspek yang ada di dalam suatu wilayah yakni tanah, air, udara dan manusia dan lain-lain.  Kalau tanpa hukum akan timbul persekongkolan anatara kelompok satu dengan kelompok yang lain, antara individu dan individu lainya. 

Namun demikian, hukum menjadi senjata yang menjepit kau sampai kamu tak berdaya. Hukum bagaikan batu yang tak bisa bergerak, akan tetapi akibat dari pada itu, tubuhmu menjadi sakit. Tidak hanya sakit di salah satu anggota tubuh saja, melainkan rasa sakitnya menyebar ke seluruh anggota tubuh. Hukum yang mengatur kamu, kamu jadi pelaksananya, bahkan dia memaksakan kehendakmu sampai kau mengikuti kehendaknya tanpa ia memandangimu sebagai manusia yang beradab. Sistem gaya bank memandang kau sebagai makhluk yang dapat disamakan dengan sebuah benda dan gampang mengatur anda. Kamu memandang guru sebagai Tuhan yang berdiri di depanmu dan mengajar mendidik Anda lalu kau takut padanya. Dengan rasa takutmu, kau tidak bisa memecahkan persolan yang kau sedang hadapi. Berusahalah kau keluar dari dunianya agar masalahmu dapat diatasi sesuai hukum adatmu. Seandainya dia memberikan pertanyaan kepada Anda, dan kau menjawabnya salah, guru yang tidak mengerti dengan baik tentang kehidupanmu, pasti dia akan marah, meludai, memukul lalu memaksakan anda harus jawab dengan benar. Sedangkan guru yang mengerti akan latar belakang kehidupanmu, ia akan menanyakan pertanyaannya berangkat dari saat kau bangun dari tidur sampai kau tibah di sekolah. 

Kalau kamu mengerti, mulailah dengan pertanyaan. Misalnya guru bertanya kepada anda misalnya, anda bernama Benny. Kemudian guru bertanya kepada Anda demikian, Guru: Benny, 5+5 = ..... berapa? Anda (Benny) menjawab: 10 Pak Guru. Apa kata guru tersebut? Pasti guru tersebut mengatakan good anak Benny. Guru yang berkompeten, ia menghasilkan muridnya yang cerdas. Sedangkan, guru yang tidak berkompeten dan tidak berpengalaman, akan mempersulit muridnya untuk cepat memahami dengan pelajaran yang dijarkannya. Misalnya, saya ketika masih kelas 1 SD, saya pernah dipukuli oleh Kepala sekolah gara-gara Matematika, karena jawaban saya bedah dengan jawaban yang dijawab Kepala Sekolah tadi. Dengan hal itu, saya bisa menggabarkan kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan ini, anda dididik dengan guru yang tidak berkompten, bahkan penilaian guru tersebut kepada anda dengan muncul kata-kata yang sembrono misalnya, kau bodoh, primitif, ketertinggalan, keterbelakangan, miskin dan sebagainya. 

Dengan kata-kata itu, secara tidak langsung guru tersebut membunuh karakter anda sebagai orang mudah yang bisa kamu mengelola IQ yang membuat kau jadi cerdas. Tingkahlaku guru itu membuat kamu bingung, dan tidak mengerti apa yang kamu pelajari darinya. Maaf saya tidak mengatakan kamu bodoh. Akan tetapi manusia itu pintar. Kau diajarkan dengan adat-istiadat yang tidak sepadan denganya dan merugikanmu bahkan menghancurkan cara berpikirmu yang mantap.

Kau memelihara anjing-anjing dengan jumlah yang banyak. Kau yang memelihara anjing majikanmu itu tidak pernah mengerti. Kenapa kau tidak pernah tahu dari majikanmu? Anjing-anjing itu sengaja dia menyuru kau untuk menjaga, memlihara, dan merawatnya atas namanya. Pekerjaanmu itu tentu menyebalkan kan? Berapa upah yang kau peroleh darinya? Terkadang kau tidak dibayarkan upahmu, kau jadi satpam satu hari atau ajudan satu hari hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupmu sampai kau tertipu dengan pekerjaan konyol itu. Kau dijadikan sebagai anak tiri yang setiap hari dicambuk, disiksa, diolok, diludai, di depan dombamu. Sementara budak-budak peliharaan majikanmu itu membelakangimu dan berjalan seperti ibu hamil yang sudah 8 bulan. Namu mereka tak kunjung melahirkan, bahkan mereka sendiri yang menggugurkan bayinya sampai berdarah-darah dan tak pernah habis-habisnya. Mereka itu adalah koridor majikanmu untuk menelan bumi dari segalah arah.

Saya mengatakan demikian, anjing itu tahu tentang bagaimana menyerang musuh, siapa guruku, anakku, keluargaku dan tuanku. Dia itu sedikit bertingkah seperti manusia, namun ia tak bisa berbicara. Yang ada hanya menggunakan insting. Sedangkan binatang bunglon merupakan seekor binatang yang dapat berubah mujudnya setiap saat. Dia menyesuaikan diri dan pintar mengelabui musuhnya. Sifat dari majikanmu itu, sama seperti binatang bunglon. Lain ceritanya dengan ular, ular lebih berbahaya karena dia berhasil membohongi Adam dan Hawa. Di kota (A), Harimau minum darah. Sedangkan di kota (B) sapi-sapi memakan rumput. Sedangkan di kota (O) sedang bingung mau berpihak pada Harimau atau Sapi. Pada akhirnya menunda dan membuka agenda baru. Kemudian yang pertama lupah deh. Padahal kita berbenturan dengan lida-lida api yang besar. Dari kita belum dipadamkan, bahkan lida-lida api itu terus menyalah dan tak kunjung dipadamkan. Kita dikelilingi oleh api, namun kita membiarkan seolah-olah kita kehabisan air. Tulisan ini mungkin para pembaca yang baik hati tidak dapat mengerti dengan kata-kata saya. Karena kata-kata ini memang aneh dan kolot. Banyak kata-kata asing. Tulisan saya hanya ditujukan kepada kaum berpikir yang ingin melakukan suatu perubahan dari kehidupan (change of life) yang merasa diri, dirinya ditindas dengan sebuah sistem yang tidak memanusiakan.

Orang radikal, yang merasa terpanggil bagi usaha pembebasan manusia, tak akan menjadi tawanan dari sebuah ‘’lingkaran kepastian’’ di dalam mana ia juga memenjarakan realitas. Sebaliknya, semakin radikal seseorang, semakin jauh ia masuk ke dalam realitas sehingga, karena dapat mengetahuinya dengan lebih baik, ia dapat mengubahnya dengan lebih baik. Ia tidak takut untuk berhadapan dengan apapun, untuk mendengarkan, dan menyaksikan dunia yang terkuak. Ia menghadirkan dirinya dalam sejarah untuk berjuang di pihak mereka, (Paulo Freire, hal. 8).

Oleh karena hal itu merupakan  sebuah penyimpangan dari suatu usaha untuk menjadi lebih manusiawi itu akan mendorong kaum tertindas untuk berjuang menentang mereka yang telah membuat mereka jadi demikian. Agar perjuangan itu jadi bermakna, maka berusaha merebut kembali kemanusiaan mereka kaum tertindas tidak boleh berbalik menjadi penindas kaum penindas; tetapi memulihkan kembali kemanusiaan keduanya. Kaum penindas, yang menindas, memeras, dan memperkosa, melalui kekuasaannya itu kekuatan untuk membebaskan kaum tertindas dan diri mereka sendiri.
Kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan, kau perlu tahu, bahwa Suatau Bangsa yang tidak kau kenal, akan memakan hasil bumimu dan segala hasil jerih payahmu; engkau akan ditindas dan dinjak. Banyak benih yang akan kau bawah ke ladang, tetapi sedikit hasil yang akan kau kumpulkan, sebab belalang akan menghabiskannya’’. Demikan realita yang ada, kau ditindas dengan kekuasan yang semena-mena melupakanmu. Padahal, kau sendirilah yang menjadi milik dan tuan atas negerimu. Janganlah kau berteriak di depan para pecundang penguasa. Luruskan dan hitunglah sapu lidi yang ada padamu setelah dihitung berapa banyak jumlahnya, ikatlah erat-erat dengan seutas tali agar tidak ada yang jatuh berantakan dari ikatan. 

Kalau itu sudah kuat, barulah melakukan aksi yang benar-benar tepat pada sasaran. Bukan hanya lempar batu sembunyi tangan. Ini merupakan tugas bagi kau yang berpikir dan berkerja untuk masa depan berdasarkan kesejarahan dan kemanusiaan terbesar bagi kau, saya, dia, mereka dan kita semua. Membebaskan diri kita sendiri dan juga kaum tertindas. Kaum penindas yang menindas, memeras, dan memperkosa melalui kekuasaannya, tidak dapat menemukan dalam kekuasaanya itu kekuatan untuk membebaskan kaum tertindas dari mereka sendiri (Paulo Freire,  hal. 12).

Tidak ada komentar: