(Kisah
Nyata Seorang Perempuan Asal Desa Bupul, Merauke)
Kabupaten
Merauke Provinsi Papua
Maria
Goreti dan anaknya bernama Anita Maryani
(Foto:
Dokument Papuan Voice)
Surat
Cinta Kepada Sang PRADA. Kisah ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh
seorang siswi SMK di Desa Bupul, Merauke. Kisah tersebut didokumentasikan oleh Papuan Voice. Seorang siswi SMK ini
bernama Ety. Ety kemudian berkenalan dan jatuh cinta dengan seorang anggota TNI
yang bertugas di perbatasan RI-PNG di Kabupaten Merauke. Tepatnya di Desa
Bupul, Perbatasan Indonesia Papua New Guinea (PNG). Kemudian, waktu yang tidak
begitu lama, Ety berhubungan gelap dengan Sang PRADA alias Samsul tanpa tidak
melalui prosesi pernikahaan resmi dan tidak direstui oleh kedua orangtunya Ety.
Tetapi sayangnya, si Samsul alias PRADA ini meninggalkan Ety seorang diri
sampai ia melahirkan anaknya.
Dia
pergi meninggalkan kekasihnya itu, karena tugas kemiliteran. Sudah sekian lama
Sang PRADA meninggalkannya. Padahal, kekasihnya sudah lama menunggu dan
merinduhkan atas kedatangan Samsul pulang ke rumah dari tempat tugasnya untuk
melanjutkan hubungan mereka. Namun hal itu apa yang terjadi? Sang PRADA (Samsul)
pergi selamanya dan tak kunjung datang-datang. Ety pun selalu menanti, berdoa
dan berharap agar Samsul ini bisa kembali ke rumah untuk membangun rumah tangga
mereka yang baik dan mengasu bua kekasihnya. Namun sayangnya, sang PRADA (Samsul)
tidak pernah kelihatan di depan kehidupan kekasihnya itu di Desa Bupul, Merauke.
Berikut Suara Ety Menuliskan
Surat Kepada Sang PRADA (Samsul)
Kaka Samsul yang
baik. Kaka, sudah dua kali Ety tulis surat ke kaka. Tapi kaka tidak pernah
balas. Mudah-mudahan dengan surat video ini, kaka bisa melihat anak kaka dan
dapat tergerak untuk memberi kabar. Surat video ini Ety antarkan dari Bupul
ke Merauke. Dan muda-mudahan kaka dapat
menonton.
Kaka, selama ini
Ety tinggal di kampung Bupul bersama bapa, kampung masih seperti dulu, udara
masih segar, tapi sampai sekarang listrik dan telpon juga belum masuk. Dalam
perjalanan ke Merauke, Ety lewat banyak pos pengamanan perbatasan. Pos TNI yang
dulunya didekat jembatan kali Maro sekarang sudah pindah ke dekat kantor
distrik Elipubil. Kaka kasi tinggal handphone, beberapa pakaian, selimut, dan
kasur, yang Ety masih simpan. Ety rindu kaka. Setelah kaka pulang meninggalkan Ety
dan anak kita, yang waktu itu masih di rahim, hidup sangat susah.
Banyak
masyarakat terus menanyakan siapa bapak dari anak itu. Bagi yang tahu, kalau anak
yang Ety kandung itu, anak prajurit tentara. Mereka sering menyebutnya ‘’Anak
Kolong’’. Biasanya kalau Yani rewel dan menangis, bapa dan mama sering emosi
dan bilang ‘’ makanya ko pu bapa itu asal buat saja tetapi tidak tahu
bertanggungjawab’’. Kaka Samsul masih ingat ka? Waktu kita kenalan pertama di
awal tahun 2008? Kaka sangat sopan dan baik. Waktu itu, kaka berkunjung ke
rumah, membawa biskuit Transom, Emergen, dan Susu. Kaka setiap hari datang ke
rumah. Sampai kita mulai pacaran.
Ety waktu itu
msih duduk di bangku SMK. Ety pikir kita akan menikah. Tetapi kaka pulang ke
Bandung, ketika Ety hamil 5 bulan. Kaka janji pinda tugas ke Merauke, dan minta
Ety untuk jaga anak kita.
Pada tanggal 17
Maret 2009, anak putri kita, Anita Maryani lahir di kampung Bupul, Ety panggil
dia Yani. Sekarang Yani sudah besar. Yani sudah berumur 3 tahun. Ia ingin
sekali sekolah dan bercita-cita menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan
negara. Kaka, bapa dan mama sekarang sudah tua, mereka sudah tidak sanggup lagi
untuk mencari uang apalagi untuk membiayai untuk kita. Ety sulit mencari uang
karena harus menggendong dan menjaga Yani terus-menerus. Tapi Ety tetap
berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Jika kaka kembali, Ety tentu
menerima kaka dengan iklas dan dengan sepenuh hati. Ety akan terus tunggu kaka
Samsul, terserah orang mau bicara apa.
‘’Salam dari
Bupul, Merauke 21 November 2011, ‘’Maria Gorety Mekiu’’
Kelompok
Gereja Katolik JPIC MSC mencatat, setidaknya terjadi 19 kasus kekerasan seksual
yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), Pengamanan di Perbatasan
Desa Bupul, Merauke sejak tahun 1992 sampai 2009. Perempuan tersebut dirayu,
dihamili, lalu diabaikan begitu saja . Beberapa permpuan juga diperkosa. Bupul merupakan desa Adminitrasi dari
kabupaten Elikobel, Merauke. Desa ini terletak di perbatasan Indonesa PNG
karena lokasinya Bupul di jaga oleh TNI Pengamanan Perbatasan.
Kita
perlu ketahui, bahwa dimana pun penempatan militer, itu sangat berpariasi dan
muncul banyak kepentingan. Kemudian, banyak penomena yang selalu terjadi,
dimana tempat yang ditempati oleh militer. Dengan berbagai alasan mendasar yang
mengacuh pada pola-pola kepentingan elit tertentu. Misalnya, penempatan militer
di daerah-daerah perbatasan seperti di Indonesia. Di Indonesia sendiri, ada
beberapa tempat yang berbatasan dengan negara lain seperti Kalimantan
(Indoesia)-Malaysia, Papua Barat (Indonesia)-PNG, dan Kupang (Indonesia)- Timor
Leste. Hal ini terjadi karena status sebuah batas negara atau wilayah di RI.
Dengan hal itu, negara menempatkan militer di tempat perbatasan dengan jumlah
yang begitu banyak, dengan tujuan untuk mempertahankan kedaulatan negara RI.
Kalau melihat dari sisi tersebut, bisa dikatakan bahwa itu diharuskan, akan
tetapi fungsi daripada setiap kompi atau anggota militer yang ditempatkan di
perbatasan bukanlah melakukan hal yang merugikan warga dimana militer itu
ditempati. Hal itu sangat konyol dan melanggar hukum Internasional, dan juga
melanggar tugas pokok seorang militer.
Seorang
prajurit (tentara) ditugaskan bukan untuk memilih dan menebang pohon sembarang
tanpa melihat, mengukur, dan membedakan mana yang besar dan mana yang kecil,
melainkan ditugaskan untuk melindungi wilayah serta masyarakat dari bahaya atau
ancaman dari luar. Sungguh sangat
disayangkan terhadap apa yang dilakukan oleh TNI di berbagai wilayah di
Indonesia, terlebih khusus yang dilakuakn sang PRADA (Samsul) terhadap saudari
Ety. Seharusnya, seorang prajurit harus menjalani tugas pokok yang diberlakukan
sesuai konstitusional. Bukan main tebang-tebangan, alias latihan lain main
lain. Hal inilah yang dilakukan oleh TNI di seluruh daerah di Indonesia.
Melihat dari kisah saudari Maria Gorety Mekiu di atas, saya mengajak kepada
masyarakat Papua dari Sorong-Merauke, hal ini perlu diperhatikan agar tidak
terulang lagi kegenerasi berikutnya. Mari
kita menjaga harkat dan martabat orang asli Papua supaya bangsa asing jangan
mempermainkan kita seperti bola pimpong yang dimainkan di atas meja. Semua
lembaga, seperti LSM, Agama, pemerintah dan toko perempuan terutama. Agar kita
semua buka mata dan menyelamatkan perempuan Melanesian dari tindakan-tindakan
ketidakmanusiawian yang dilakuan oleh TNI di seluruh tanah Papua. Genarasi baru
anak-anak Papua perlu tahu bahwa, Papua merupakan lahan yang subur. Lahan subur
itu, banyak orang-orang asing sedang berlomba-lomba untuk mendapatinya. Kita harus
tahu bahwa, orang asing selalu berbondong-bondong ke tanah Papua bukan karena mereka
mencintai tanah Papua, atau oranga Papua, melainkan mereka datang untuk
mencuri, memperkosa, merampas, membunuh dan menghambat pertumbuhan pembangunan
di tanah Papua dari berbagai sektor yang mereka kuasai dan menggiring kamu ke
jurang maut.
Oleh
karena lahan suburmu itu, makhluk-makhluk hidung belang, pesek pun mengembara
mengisap madu dan susu yang ada padamu. Jika kau mengerti, sesungguhnya mereka
itu hanya tipu belaka. Tanah Papua merupakan lahan persinggahan bagi
orang-orang asing, baik dari Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Ada yang datang
atas nama ipar, saudara, kaka, om, paman, kakek, dan sangat berbahaya lagi
adalah atas nama AGAMA. Saya berpikir bahwa, AGAMA itu baik. Ternyata, atas
nama AGAMA dijadikan sebagai senjata untuk mengukur kekuatan siapa yang kuat
dan siapa yang lemah. Sesungguhnya agama merupakan suatu perhimpunan yang
kemudian menjadi sebuah semiotik semata yang menuju pada kehancuran tatanan
hidup manusia sejati.
Budaya
merupakan suatu tolak ukur. Jika kita mengenal budaya, maka kita juga mengenal
siapa diri kita yang sebenarnya. Di sini saya menekankan kepada perempuan
Papua, Melanesia, dimanpun kamu berada, berhati-hatilah dengan perkkataan manis
orang asing yang datang mengajak, memberikana rayuan gombal, dan mengobrol
dengan kamu. Karena sesungguhnya ia datang bukan untuk mendidikmu, melainkan
merusak habitatmu dari kehidupanmu. Sekali hancur dan kau dianggap sebagai
barang sampah yang tidak ada nilainya yang bisa difungsikan lagi. Maka darisitu
akan timbul ejekan apabila ada hal buruk yang terjadi dan menimpa bagi
orang-orang disekitarmu. Padahal, harga dirimu sangatlah mahal dari berbagai
jenis barang. Maukah anakmu dilahirkan oleh orang asing dan ia pergi dari
kehidupanmu kemudian orang-orang disekitarmu menyebutnya ‘’anak rumput atau anak haram’’?. Tentu itu sangat malu, ada
istilah ‘’ Brani berbuat, Berani bertanggungjawab’’. Meskipun demikian, hidup
itu selalu datang dengan persoalan, dan itulah yang harus diterima. Syukuri apa
yang ada, karena itu adalah anugerah Tuhan. Janganlah kita membenci, melainkan
mencintai, mengasih, dan melayani bukan dilayani.
Berangkat
dari pengalaman saudari Ety, saya mengasumsikan bahwa, mungkinkah hal ini
terjadi karena kurang adanya perhatian dari orang tua terhadap anak, sehingga
mereka melakukan hal yang tidak diinginkannya? Sebenarnya, anak itu berasal
dari mana? Kenapa dari orang tua tidak pernah menegur anaknya atau memberikan
nasehat kepada anaknya? Dimana peran orang tua yang sesungguhnya untuk
melindungi anaknya dari hal-hal yang merugikan masa depan anak? Ini adalah persoalan
mendasar yang mungkin saja kita sebagai orang tua perlu merenungkan dan
mengintropeksi diri, agar kedepannya, anak kita tidak terjadi seperti nasip
saudara kita Ety di Desa Bupul, Merauke.
Tentu
ini adalah pelajaran bagi kita untuk menjaga dan merawat anak dengan
sungguh-sungguh agar rasa kasih sayang dari orang tua terhadap anak benar-benar
tumbuh dan melekat di hati sanubari anak tersebut atau sebaliknya. Orang tua
adalah kunci atau pondasi untuk mendidik anak, di situlah peran orangtua
berlaku tak ada henti-hentinya sampai dia benar-benar menjadi anak yang dewasa.
Jika orang tua membiarkan begitu saja sampai anak tersebut belajar sesuatu hal
tanpa ada pengontrolan, maka orang tua akan mengalami kesulitan dalam
mengendalikan emosional anak yang timbul ketika ia berbenturan dengan pendapat
orang tua.
Jangan
pernah kita lari dari masalah, karena kalau kita lari dari masalah, maka
masalah itu tidak akan pernah kita selesai. Orang Papua menghadai dengan
monster besar. Dan salah satu masalah mendasar kita adalah bagaimana kita
berpikir dan menyelamatkan generasi Papua menjadi manusia yang mengerti akan
harkat dan martabat manusia Papua sebagai manusia yang bermakhluk mulia
sederjat dengan manusia-manusia lain di dunia. Kita juga perlu hidup, bernapas
dan berinteraksi dengan individu dan kelompok di sekitar lingkup yang kecil
maupun kepada lingkup yang besar. Kita perlu belajar dari diri kita sendiri
sebelum melangkah ke fase berikut untuk belajar dengan orang lain.
Orang
Papua perlu tahu bahawa, TNI yang ditempatkan di seluruh tanah Papua, diluar
penampilan mereka sangat Halo Hai. Akan tetapi kita tidak tahu, apa isi hati
mereka yang sebenarnya. Karena, sifat mereka diibaratkan dengan cicak yang
melepaskan ekor dari serangan musunya lalu lari menyembunyikan tubuhnya.
Setelah ekornya mengalami metamorfose, dan terbiasa seperti semula, ia mulai
kembali menjadi cicak yang jinak. Secara tidak langsung menjadi orang yang baik
hati, menarik perhatian dengan apa yang dia bawa dijadikan sebagai umpan, dan
kau jadi ikannya. Lama-kelamahan, dia menjadikan kau sebagai permen semata.
Sesungguhnya, orang-orang seperti itu bukan bagian dari tubuh dan darahmu.
Orang-orang tersebut sebagai media perantara untuk mengumpul makanan dari kamu
untuk memberikan makan kepada ikan hiu.
Kita
diibaratkan sebagai ikan dan dia sebagai mangsanya. Dia itu tidak mengenal rasa
malu, kawan-kawan. Apa yang kamu ciptakan, tidak ada gunanya baginya. Karena saya sudah mengatakan di atas
bahwa sesungguhnya dia tidak mencintai orang Papua atau mencintai tanah Papua. Dia
merupakan gurita yang selalu menelan kehidupanmu. Bahkan dia memiliki banyak
istri simpanan dimana dia bertugas. Dengan kata lain, namanya tentara, itu
tidak mengenal kapan saya mati, kapan saya makan, dimana istri dan anak mereka,
sedang apa dan lain sebagainya. Bagaimana seorang prajurit meninggalkan
istrinya, misalnya tentara Indonesia yang ditugaskan di Papua. Seketika dia
ingin menghilangkan rasa napsu birainya, dan pulang ke Jawa untuk bersenang-senang
bersama istrinya, ia harus berpikir dua atau tiga kali lipat. Takut dipecat,
gaji dipotong, pikir tiket PP dan sebagainya, repotlah sudah. Kemudian,
prajurit tersebut apa yang dia harus lakukan ditempat tugasnya, terpaksa dia
harus mencari kesempatan dalam kesempitan.
Bagi
tentara yang ditugaskan di kampung-kampung atau pedalaman, sasaranya kepada
anak-anak sekolah atau remaja, baik SMP maupun SMA. Sedangkan di kota-kota,
langsung saja ke barr atau diskotik dan menutup mata langsung tidur seakan-akan
berada di dalam taman firdaus. Oarang-orang seperti itu adalah mereka membawa
sejuta penyakit. Kita perlu sadar bahwa orang-orang asing seperti itu bukanlah
mendatangkan kedamaian, justeru mendatangkan kematian. Menggangu kehidupan
kita, sebagaimana yang kita lakukan yang terbaik, namun mereka datang
menimbulkan sejumlah persoalan yang kita tidak diinginkan. Karena sesungguhnya
mereka bukanlah bagian dari kita. Maka dari itu, kita perlu hindari dari
praktek-praktek kolonialisme, neokolonialisme imperialisme, maupun kapitalisme
yang tentu merugikan bagi kita. Pengalaman-pengalaman ini menjadi tugas kita
semua, terutama pemerintah turut andil dalam tindakan-tindak ketidakmanusiawian
yang dilakukan oleh aparat TNI, maupun oknum-oknum tertentu yang mengacaukan
kehidupan bermasyarakat yang ingin memuaskan diri mencari kesempatan dalam
kesempitan. Persoalan-persoalan ini, pemerintah tidak harus menutup mata, duduk
manis, menelan uang rakyat, dan membohongi rakayat.
Kalian
duduk di kursi empuk karena ada rakayat, kalau bukan rakayat, siapa lagi yang
mendorong kalian untuk menjadi pejabat. Abraham Lincholin berpendapat bahwa, ‘’Demokrasi adalah dari rakyat oleh rakayat
dan untuk rakyat’’. Namun, dalam prakteknya dari rakyat, oleh rakyat, untuk
pejabat. Kemudian itulah yang terjadi, sementara masyarakat menderita. Dari
pengalaman seorang siswi SMK yang bernama Maria Gorety Mekiu dari Desa Bupul,
Merauke, kemudian ia berkenalan, lalu berpacaran bersama seorang anggota
prajurit TNI. Akhir dari pada itu ia mendatangkan penderitaan. Maukah supaya
anakmu juga seperti itu? Kalau bagi saya tidak. Masa depan Ety pun sangat
dirugikan, padahal masa depan bagi Ety sangat terbuka lebar untuk belajar
menjadi manusia yang baik.
Akhir
dari pada tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal penting bagi
kita untuk tetap menjaga, mewaspadai dari ancaman yang merugikan kita, yaitu;
Pertama, Orang tua harus benar-benar mendidik anak dari usia dini. Kedua,
Pendidikan anak di rumah bersama orang tua merupakan suatu keharusan. Perlu
mengajarkan ajaran kasih agar dia meniru apa yang orang tua ajarkan ke anak
tersebut. Ketiga, pemerintah turut andil dan mengambil resiko melindungi
rakayatnya, terlebih pada kaum perempuan agar tidak terjadi pelecehan seksual.
Seorang pemimpin yang baik adalah berani mengambil resiko dan mengorbankan diri
demi rakyatnya. Pendidikan orang tua di rumah sebagai tolak ukur bagi anak
untuk menjadi dewasa.
Akhirnya
tulisan ini menjadi bermanfaat bagi kita semua dan membuka mata kita untuk
melihat perempuan-perempuan Papua untuk mengarahkan mereka ke jalan yang benar
agar tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan oleh semua rakayat Papua di seluruh Tanah Papua. Ety sebagai bahan
pembelajaran bagi kita untuk memperbaiki diri kita sendiri untuk membangun
tanah Papua yang damai bebas dari segalah ancaman, masalah yang selalu kita
hadapi saat ini. Saya menekankan kepada kita semua bahwa jangan main-main
bersama TNI, karena mereka adalah api. Mereka membawa kesengsaraan. Mereka
bukan manusia sungguhan. Tetapi mereka adalah manusia-manusiaan, tidak puya
harga diri dan tidak punya rasa malu. Mereka hanya asal tebang pilih dan tidak
tahu adat.
‘’Untuk mengubah
hidupnya, ia harus mengubah caranya berpikir. Ia menemukan bahwa indra perasa
bukan terletak pada lidah, melainkan pada pikiran. Ia mulai memandang setiap
kesulitan sebagai peluang untuk pelayanan, sebuah tantangan yang bisa memancing
sumber kecerdasan dan imajinasi yang lebih besar dari dalam dirinya. Untuk
mengubah orang lain, terlebih dahulu kamu harus mengubah dirimu sendiri’’, (Mahatma
Gandhi).
Bunga Dan Tembok
Seumpama
bunga
Kami
adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh
Engkau
lebih suka membangun rumah dan merampas tanah
Seumpama
bunga
Kami
adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya
Engkau
lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi
Seumpama
bunga
Kami
adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika
kami bunga
Engkau
adalah tembok, tetapi di tubuh tembok itu
telah
kami sebar biji-biji, suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan
keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam
keyakinan kami
Di
mana pun tirani harus tumbang
(Wiji Thukul: Solo, 87-88)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar