Selasa, 25 Agustus 2015

SURAT CINTA KEPADA SANG PRADA (Seorang Anggota TNI)


(Kisah Nyata Seorang Perempuan Asal Desa Bupul, Merauke)

Kabupaten Merauke Provinsi Papua
Maria Goreti dan anaknya bernama Anita Maryani
(Foto: Dokument Papuan Voice)

Surat Cinta Kepada Sang PRADA. Kisah ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh seorang siswi SMK di Desa Bupul, Merauke. Kisah tersebut didokumentasikan oleh Papuan Voice. Seorang siswi SMK ini bernama Ety. Ety kemudian berkenalan dan jatuh cinta dengan seorang anggota TNI yang bertugas di perbatasan RI-PNG di Kabupaten Merauke. Tepatnya di Desa Bupul, Perbatasan Indonesia Papua New Guinea (PNG). Kemudian, waktu yang tidak begitu lama, Ety berhubungan gelap dengan Sang PRADA alias Samsul tanpa tidak melalui prosesi pernikahaan resmi dan tidak direstui oleh kedua orangtunya Ety. Tetapi sayangnya, si Samsul alias PRADA ini meninggalkan Ety seorang diri sampai ia melahirkan anaknya.
Dia pergi meninggalkan kekasihnya itu, karena tugas kemiliteran. Sudah sekian lama Sang PRADA meninggalkannya. Padahal, kekasihnya sudah lama menunggu dan merinduhkan atas kedatangan Samsul pulang ke rumah dari tempat tugasnya untuk melanjutkan hubungan mereka. Namun hal itu apa yang terjadi? Sang PRADA (Samsul) pergi selamanya dan tak kunjung datang-datang. Ety pun selalu menanti, berdoa dan berharap agar Samsul ini bisa kembali ke rumah untuk membangun rumah tangga mereka yang baik dan mengasu bua kekasihnya. Namun sayangnya, sang PRADA (Samsul) tidak pernah kelihatan di depan kehidupan kekasihnya itu di Desa Bupul, Merauke.

Berikut Suara Ety Menuliskan Surat Kepada Sang PRADA (Samsul)
Kaka Samsul yang baik. Kaka, sudah dua kali Ety tulis surat ke kaka. Tapi kaka tidak pernah balas. Mudah-mudahan dengan surat video ini, kaka bisa melihat anak kaka dan dapat tergerak untuk memberi kabar. Surat video ini Ety antarkan dari Bupul ke  Merauke. Dan muda-mudahan kaka dapat menonton.
Kaka, selama ini Ety tinggal di kampung Bupul bersama bapa, kampung masih seperti dulu, udara masih segar, tapi sampai sekarang listrik dan telpon juga belum masuk. Dalam perjalanan ke Merauke, Ety lewat banyak pos pengamanan perbatasan. Pos TNI yang dulunya didekat jembatan kali Maro sekarang sudah pindah ke dekat kantor distrik Elipubil. Kaka kasi tinggal handphone, beberapa pakaian, selimut, dan kasur, yang Ety masih simpan. Ety rindu kaka. Setelah kaka pulang meninggalkan Ety dan anak kita, yang waktu itu masih di rahim, hidup sangat susah.
Banyak masyarakat terus menanyakan siapa bapak dari anak itu. Bagi yang tahu, kalau anak yang Ety kandung itu, anak prajurit tentara. Mereka sering menyebutnya ‘’Anak Kolong’’. Biasanya kalau Yani rewel dan menangis, bapa dan mama sering emosi dan bilang ‘’ makanya ko pu bapa itu asal buat saja tetapi tidak tahu bertanggungjawab’’. Kaka Samsul masih ingat ka? Waktu kita kenalan pertama di awal tahun 2008? Kaka sangat sopan dan baik. Waktu itu, kaka berkunjung ke rumah, membawa biskuit Transom, Emergen, dan Susu. Kaka setiap hari datang ke rumah. Sampai kita mulai pacaran.
Ety waktu itu msih duduk di bangku SMK. Ety pikir kita akan menikah. Tetapi kaka pulang ke Bandung, ketika Ety hamil 5 bulan. Kaka janji pinda tugas ke Merauke, dan minta Ety untuk jaga anak kita.
Pada tanggal 17 Maret 2009, anak putri kita, Anita Maryani lahir di kampung Bupul, Ety panggil dia Yani. Sekarang Yani sudah besar. Yani sudah berumur 3 tahun. Ia ingin sekali sekolah dan bercita-cita menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara. Kaka, bapa dan mama sekarang sudah tua, mereka sudah tidak sanggup lagi untuk mencari uang apalagi untuk membiayai untuk kita. Ety sulit mencari uang karena harus menggendong dan menjaga Yani terus-menerus. Tapi Ety tetap berjuang untuk memenuhi kebutuhan anak kita. Jika kaka kembali, Ety tentu menerima kaka dengan iklas dan dengan sepenuh hati. Ety akan terus tunggu kaka Samsul, terserah orang mau bicara apa.
‘’Salam dari Bupul, Merauke 21 November 2011, ‘’Maria Gorety Mekiu’’

Kelompok Gereja Katolik JPIC MSC mencatat, setidaknya terjadi 19 kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), Pengamanan di Perbatasan Desa Bupul, Merauke sejak tahun 1992 sampai 2009. Perempuan tersebut dirayu, dihamili, lalu diabaikan begitu saja . Beberapa permpuan juga diperkosa.  Bupul merupakan desa Adminitrasi dari kabupaten Elikobel, Merauke. Desa ini terletak di perbatasan Indonesa PNG karena lokasinya Bupul di jaga oleh TNI Pengamanan Perbatasan.
Kita perlu ketahui, bahwa dimana pun penempatan militer, itu sangat berpariasi dan muncul banyak kepentingan. Kemudian, banyak penomena yang selalu terjadi, dimana tempat yang ditempati oleh militer. Dengan berbagai alasan mendasar yang mengacuh pada pola-pola kepentingan elit tertentu. Misalnya, penempatan militer di daerah-daerah perbatasan seperti di Indonesia. Di Indonesia sendiri, ada beberapa tempat yang berbatasan dengan negara lain seperti Kalimantan (Indoesia)-Malaysia, Papua Barat (Indonesia)-PNG, dan Kupang (Indonesia)- Timor Leste. Hal ini terjadi karena status sebuah batas negara atau wilayah di RI. Dengan hal itu, negara menempatkan militer di tempat perbatasan dengan jumlah yang begitu banyak, dengan tujuan untuk mempertahankan kedaulatan negara RI. Kalau melihat dari sisi tersebut, bisa dikatakan bahwa itu diharuskan, akan tetapi fungsi daripada setiap kompi atau anggota militer yang ditempatkan di perbatasan bukanlah melakukan hal yang merugikan warga dimana militer itu ditempati. Hal itu sangat konyol dan melanggar hukum Internasional, dan juga melanggar tugas pokok seorang militer.
Seorang prajurit (tentara) ditugaskan bukan untuk memilih dan menebang pohon sembarang tanpa melihat, mengukur, dan membedakan mana yang besar dan mana yang kecil, melainkan ditugaskan untuk melindungi wilayah serta masyarakat dari bahaya atau ancaman dari luar.  Sungguh sangat disayangkan terhadap apa yang dilakukan oleh TNI di berbagai wilayah di Indonesia, terlebih khusus yang dilakuakn sang PRADA (Samsul) terhadap saudari Ety. Seharusnya, seorang prajurit harus menjalani tugas pokok yang diberlakukan sesuai konstitusional. Bukan main tebang-tebangan, alias latihan lain main lain. Hal inilah yang dilakukan oleh TNI di seluruh daerah di Indonesia. Melihat dari kisah saudari Maria Gorety Mekiu di atas, saya mengajak kepada masyarakat Papua dari Sorong-Merauke, hal ini perlu diperhatikan agar tidak terulang lagi kegenerasi berikutnya.  Mari kita menjaga harkat dan martabat orang asli Papua supaya bangsa asing jangan mempermainkan kita seperti bola pimpong yang dimainkan di atas meja. Semua lembaga, seperti LSM, Agama, pemerintah dan toko perempuan terutama. Agar kita semua buka mata dan menyelamatkan perempuan Melanesian dari tindakan-tindakan ketidakmanusiawian yang dilakuan oleh TNI di seluruh tanah Papua. Genarasi baru anak-anak Papua perlu tahu bahwa, Papua merupakan lahan yang subur. Lahan subur itu, banyak orang-orang asing sedang berlomba-lomba untuk mendapatinya. Kita harus tahu bahwa, orang asing selalu berbondong-bondong ke tanah Papua bukan karena mereka mencintai tanah Papua, atau oranga Papua, melainkan mereka datang untuk mencuri, memperkosa, merampas, membunuh dan menghambat pertumbuhan pembangunan di tanah Papua dari berbagai sektor yang mereka kuasai dan menggiring kamu ke jurang maut.
Oleh karena lahan suburmu itu, makhluk-makhluk hidung belang, pesek pun mengembara mengisap madu dan susu yang ada padamu. Jika kau mengerti, sesungguhnya mereka itu hanya tipu belaka. Tanah Papua merupakan lahan persinggahan bagi orang-orang asing, baik dari Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Ada yang datang atas nama ipar, saudara, kaka, om, paman, kakek, dan sangat berbahaya lagi adalah atas nama AGAMA. Saya berpikir bahwa, AGAMA itu baik. Ternyata, atas nama AGAMA dijadikan sebagai senjata untuk mengukur kekuatan siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Sesungguhnya agama merupakan suatu perhimpunan yang kemudian menjadi sebuah semiotik semata yang menuju pada kehancuran tatanan hidup manusia sejati.
Budaya merupakan suatu tolak ukur. Jika kita mengenal budaya, maka kita juga mengenal siapa diri kita yang sebenarnya. Di sini saya menekankan kepada perempuan Papua, Melanesia, dimanpun kamu berada, berhati-hatilah dengan perkkataan manis orang asing yang datang mengajak, memberikana rayuan gombal, dan mengobrol dengan kamu. Karena sesungguhnya ia datang bukan untuk mendidikmu, melainkan merusak habitatmu dari kehidupanmu. Sekali hancur dan kau dianggap sebagai barang sampah yang tidak ada nilainya yang bisa difungsikan lagi. Maka darisitu akan timbul ejekan apabila ada hal buruk yang terjadi dan menimpa bagi orang-orang disekitarmu. Padahal, harga dirimu sangatlah mahal dari berbagai jenis barang. Maukah anakmu dilahirkan oleh orang asing dan ia pergi dari kehidupanmu kemudian orang-orang disekitarmu menyebutnya ‘’anak rumput atau anak haram’’?. Tentu itu sangat malu, ada istilah ‘’ Brani berbuat, Berani bertanggungjawab’’. Meskipun demikian, hidup itu selalu datang dengan persoalan, dan itulah yang harus diterima. Syukuri apa yang ada, karena itu adalah anugerah Tuhan. Janganlah kita membenci, melainkan mencintai, mengasih, dan melayani bukan dilayani.
Berangkat dari pengalaman saudari Ety, saya mengasumsikan bahwa, mungkinkah hal ini terjadi karena kurang adanya perhatian dari orang tua terhadap anak, sehingga mereka melakukan hal yang tidak diinginkannya? Sebenarnya, anak itu berasal dari mana? Kenapa dari orang tua tidak pernah menegur anaknya atau memberikan nasehat kepada anaknya? Dimana peran orang tua yang sesungguhnya untuk melindungi anaknya dari hal-hal yang merugikan masa depan anak? Ini adalah persoalan mendasar yang mungkin saja kita sebagai orang tua perlu merenungkan dan mengintropeksi diri, agar kedepannya, anak kita tidak terjadi seperti nasip saudara kita Ety di Desa Bupul, Merauke.
Tentu ini adalah pelajaran bagi kita untuk menjaga dan merawat anak dengan sungguh-sungguh agar rasa kasih sayang dari orang tua terhadap anak benar-benar tumbuh dan melekat di hati sanubari anak tersebut atau sebaliknya. Orang tua adalah kunci atau pondasi untuk mendidik anak, di situlah peran orangtua berlaku tak ada henti-hentinya sampai dia benar-benar menjadi anak yang dewasa. Jika orang tua membiarkan begitu saja sampai anak tersebut belajar sesuatu hal tanpa ada pengontrolan, maka orang tua akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosional anak yang timbul ketika ia berbenturan dengan pendapat orang tua.
Jangan pernah kita lari dari masalah, karena kalau kita lari dari masalah, maka masalah itu tidak akan pernah kita selesai. Orang Papua menghadai dengan monster besar. Dan salah satu masalah mendasar kita adalah bagaimana kita berpikir dan menyelamatkan generasi Papua menjadi manusia yang mengerti akan harkat dan martabat manusia Papua sebagai manusia yang bermakhluk mulia sederjat dengan manusia-manusia lain di dunia. Kita juga perlu hidup, bernapas dan berinteraksi dengan individu dan kelompok di sekitar lingkup yang kecil maupun kepada lingkup yang besar. Kita perlu belajar dari diri kita sendiri sebelum melangkah ke fase berikut untuk belajar dengan orang lain.
Orang Papua perlu tahu bahawa, TNI yang ditempatkan di seluruh tanah Papua, diluar penampilan mereka sangat Halo Hai. Akan tetapi kita tidak tahu, apa isi hati mereka yang sebenarnya. Karena, sifat mereka diibaratkan dengan cicak yang melepaskan ekor dari serangan musunya lalu lari menyembunyikan tubuhnya. Setelah ekornya mengalami metamorfose, dan terbiasa seperti semula, ia mulai kembali menjadi cicak yang jinak. Secara tidak langsung menjadi orang yang baik hati, menarik perhatian dengan apa yang dia bawa dijadikan sebagai umpan, dan kau jadi ikannya. Lama-kelamahan, dia menjadikan kau sebagai permen semata. Sesungguhnya, orang-orang seperti itu bukan bagian dari tubuh dan darahmu. Orang-orang tersebut sebagai media perantara untuk mengumpul makanan dari kamu untuk memberikan makan kepada ikan hiu.
Kita diibaratkan sebagai ikan dan dia sebagai mangsanya. Dia itu tidak mengenal rasa malu, kawan-kawan. Apa yang kamu ciptakan, tidak ada gunanya  baginya. Karena saya sudah mengatakan di atas bahwa sesungguhnya dia tidak mencintai orang Papua atau mencintai tanah Papua. Dia merupakan gurita yang selalu menelan kehidupanmu. Bahkan dia memiliki banyak istri simpanan dimana dia bertugas. Dengan kata lain, namanya tentara, itu tidak mengenal kapan saya mati, kapan saya makan, dimana istri dan anak mereka, sedang apa dan lain sebagainya. Bagaimana seorang prajurit meninggalkan istrinya, misalnya tentara Indonesia yang ditugaskan di Papua. Seketika dia ingin menghilangkan rasa napsu birainya, dan pulang ke Jawa untuk bersenang-senang bersama istrinya, ia harus berpikir dua atau tiga kali lipat. Takut dipecat, gaji dipotong, pikir tiket PP dan sebagainya, repotlah sudah. Kemudian, prajurit tersebut apa yang dia harus lakukan ditempat tugasnya, terpaksa dia harus mencari kesempatan dalam kesempitan.
Bagi tentara yang ditugaskan di kampung-kampung atau pedalaman, sasaranya kepada anak-anak sekolah atau remaja, baik SMP maupun SMA. Sedangkan di kota-kota, langsung saja ke barr atau diskotik dan menutup mata langsung tidur seakan-akan berada di dalam taman firdaus. Oarang-orang seperti itu adalah mereka membawa sejuta penyakit. Kita perlu sadar bahwa orang-orang asing seperti itu bukanlah mendatangkan kedamaian, justeru mendatangkan kematian. Menggangu kehidupan kita, sebagaimana yang kita lakukan yang terbaik, namun mereka datang menimbulkan sejumlah persoalan yang kita tidak diinginkan. Karena sesungguhnya mereka bukanlah bagian dari kita. Maka dari itu, kita perlu hindari dari praktek-praktek kolonialisme, neokolonialisme imperialisme, maupun kapitalisme yang tentu merugikan bagi kita. Pengalaman-pengalaman ini menjadi tugas kita semua, terutama pemerintah turut andil dalam tindakan-tindak ketidakmanusiawian yang dilakukan oleh aparat TNI, maupun oknum-oknum tertentu yang mengacaukan kehidupan bermasyarakat yang ingin memuaskan diri mencari kesempatan dalam kesempitan. Persoalan-persoalan ini, pemerintah tidak harus menutup mata, duduk manis, menelan uang rakyat, dan membohongi rakayat.
Kalian duduk di kursi empuk karena ada rakayat, kalau bukan rakayat, siapa lagi yang mendorong kalian untuk menjadi pejabat.   Abraham Lincholin berpendapat bahwa, ‘’Demokrasi adalah dari rakyat oleh rakayat dan untuk rakyat’’. Namun, dalam prakteknya dari rakyat, oleh rakyat, untuk pejabat. Kemudian itulah yang terjadi, sementara masyarakat menderita. Dari pengalaman seorang siswi SMK yang bernama Maria Gorety Mekiu dari Desa Bupul, Merauke, kemudian ia berkenalan, lalu berpacaran bersama seorang anggota prajurit TNI. Akhir dari pada itu ia mendatangkan penderitaan. Maukah supaya anakmu juga seperti itu? Kalau bagi saya tidak. Masa depan Ety pun sangat dirugikan, padahal masa depan bagi Ety sangat terbuka lebar untuk belajar menjadi manusia yang baik.
Akhir dari pada tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan beberapa hal penting bagi kita untuk tetap menjaga, mewaspadai dari ancaman yang merugikan kita, yaitu; Pertama, Orang tua harus benar-benar mendidik anak dari usia dini. Kedua, Pendidikan anak di rumah bersama orang tua merupakan suatu keharusan. Perlu mengajarkan ajaran kasih agar dia meniru apa yang orang tua ajarkan ke anak tersebut. Ketiga, pemerintah turut andil dan mengambil resiko melindungi rakayatnya, terlebih pada kaum perempuan agar tidak terjadi pelecehan seksual. Seorang pemimpin yang baik adalah berani mengambil resiko dan mengorbankan diri demi rakyatnya. Pendidikan orang tua di rumah sebagai tolak ukur bagi anak untuk menjadi dewasa.
Akhirnya tulisan ini menjadi bermanfaat bagi kita semua dan membuka mata kita untuk melihat perempuan-perempuan Papua untuk mengarahkan mereka ke jalan yang benar agar  tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh semua rakayat Papua di seluruh Tanah Papua. Ety sebagai bahan pembelajaran bagi kita untuk memperbaiki diri kita sendiri untuk membangun tanah Papua yang damai bebas dari segalah ancaman, masalah yang selalu kita hadapi saat ini. Saya menekankan kepada kita semua bahwa jangan main-main bersama TNI, karena mereka adalah api. Mereka membawa kesengsaraan. Mereka bukan manusia sungguhan. Tetapi mereka adalah manusia-manusiaan, tidak puya harga diri dan tidak punya rasa malu. Mereka hanya asal tebang pilih dan tidak tahu adat.



‘’Untuk mengubah hidupnya, ia harus mengubah caranya berpikir. Ia menemukan bahwa indra perasa bukan terletak pada lidah, melainkan pada pikiran. Ia mulai memandang setiap kesulitan sebagai peluang untuk pelayanan, sebuah tantangan yang bisa memancing sumber kecerdasan dan imajinasi yang lebih besar dari dalam dirinya. Untuk mengubah orang lain, terlebih dahulu kamu harus mengubah dirimu sendiri’’, (Mahatma Gandhi).

Bunga Dan Tembok
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok, tetapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji, suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di mana pun tirani harus tumbang

(Wiji Thukul: Solo, 87-88)

Tidak ada komentar: