Rabu, 22 Maret 2017

KRITIK DARI DALAM NEGERI DAN ATAU LUAR NEGERI



Sekarang ini, bukan jaman kesatuan. Kesatuan telah menuju pada perpecahan antar keluarga, teman, sahabat, dan simbol kebinekaan, kita mengkhianati oleh kita sendiri. Apa gunanya kalau bicara kesatuan? Sementara di pihak lain, sedang menertawai kita? Itu tidak hanya di dalam negeri. Di luar negeri lebih menertawai sikap kita. Bahkan, mereka ingin menelanjangi kita karena pegawai di dalam negeri banyak miliki ternak tikus. Pegawai kita oleh rakyat juga disebut korupsi. Menurut mereka juga, penegakkan hukum kita pun masih lemah.
Orang kita lebih pintar atau orang luar negeri? Itu dijawab oleh masing-masing pihak, bukan saya. Di pihak kita, kalau orang yang suka mengkritik pada pegawai yang diduga korupsi, eh, si pegawai itu balik membantah atau menantang atas tuduhan itu.  Padahal, ia resmi dinyatakan terdakwa korupsi. Begitu kritik masuk dari luar, si pegawai membantah dan marah pada kritik dari pihak luar tanpa melihat ketelanjangannya sendiri. Oleh karena itu, kebiasaan ini, pegawai-pegawai kita tidak keras kepala dan tidak sombong.

                                                                                                                                                                                                                                                                           Yogyakarta, 2017

Tidak ada komentar: