Bagaimana Tarian Oksang Dipercayai Oleh
Masyarakat Ngalum Di Pegunungan Bintang?
Oksang adalah tarian tardisional dari masyarakat suku Ngalum di Pegunungan Bintang, Papua. Tarian ini sekligus menunjukkan ciri khas masyarakat suku Ngalum yang berunsur Ok berdasarkan penamaan tempat di wilayah ini, seperti Oksibil, Okbab, Okyop dan nama kampung Ok lainnya. Mereka adalah pemilik tarian ini. Bagi orang baru akan terkejut ketika menyaksikan secara langsung tarian ini dimainkan. Karena tarian ini hanya dimiliki oleh masyarakat suku Ngalum. Tarian merupakan tarian yang berbedah dari tarian-tarian tradisional dari daerah lain di seluruh tanah Papua. Cara permainannya sangat dinamis dan rapi. Ini terlihat pada gambar di atas.
Secara adminitratif, Pemda Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan daerah
pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya. Waktu itu beribu kota di Wamena. Di
Pegunungan Bintang terdiri dari dua suku besar yaitu Ngalum dan Ketengban.
Kemudian terbagi dalam sub suku kecil seperti Murob, Kambom, Batom, Kimki, Yepta, dan Lepki.
Kesemuanya ini memeiliki budaya serta bahasa yang berbeda-beda. Oksang berasal
dari dua suku kata yaitu Ok dan Sang, Ok yang berarti air, dan Sang
berarti dewa atau seorang pencipta (Attangki)
dalam bahasa Ngalum. Jadi, Oksang memiliki dua arti yaitu pertama, Ok artinya air; melambangkan kesucian, pemberi kesembuhan, pemberi berkat. Kedua, Sang adalah sebutan Tuhan sebagai sang
pencipta untuk diagungkan melalui tarian ini melalui lirik lagu yang sudah
diciptakan oleh-Nya.
Tarian ini merupakan tarian yang sangat sakrtal bagi masyarakat suku
Ngalum. Di seluruh tanah Papua, tarian Oksang jarang dipentaskan. ketika ada
vestival budaya tahunan setanah
Papua, disebutkan karena tarian yang sangat sakral dan dilarang oleh tetua adat.
Tempat pementasannya, dipentaskan di dalam rumah panggung yang dirancang dan dibuat sedemikian rupa dengan berbahan teknologi
tradisional seperti kayu, rotan, gaba-gaba. Masing-masing dengan mengukur tingkat elastisnya
sehingga ketika para penari serentak menggerakkan tubuhnya mengikuti irama gaya kaki para
penari. Para penari dengan selaras menggoyangkan tubuhnya sehingga membuat para
penonton menjadi perhatian penuh pada setiap gerakan yang dimainkan oleh
penari. Ditempat pementasan, dibuat juga tempat untuk para penonton yang dirancang normal
sehingga tidak terjadi goyangan yang dapat mengganggu konsentrasi keindahan dan
keasikan penampilan penarinya.
Sejak dulu, tarian ini
dipentaskan biasanya
diawali dengan tahap persiapan. Yang membedakan adalah tarian Oksang memiliki
nilai kesakralan bagi manusia asli Pegunungan Bintang. Mereka menyebut dirinya
sebagai orang Aplim Apom, sehingga bagi non Aplim
Apom tidak diperbolehkan menyaksikan. Diberikan pula aksesoris dan
busana tradisional sejak turun-temuru, seperti Okbul
(Koteka), Batom Mir (Tanah Merah), Nal Kulep (Bulu Cenderawasih) Kapnong (Gelang kaki) Yapet (Gelang Tangan) Takol Papi (Kapak Batu) serta aksesoris
lainnya.
Bagi orang Ngalum khususnya perempuan dan anak-anak yang belum mengikuti proses inisiasi, (pendewasaan), tidak diperbolehkan untuk mengetahui rahasaianya. Begitu pula suku-suku lain di luar Pegunungan Bintang untuk mengetahui rahasia dari Oksang tersebut. Kenapa perempuan demikian? Dengan makasud, bahwa tidak terjadi sesuatu yang membahayakan kehidupan manusia Ngalum. Dengan kata lain, mendapatkan mala petaka (kutukan) dari sang pencipta. Selain itu, aksesoris yang dihiasi pada tubuh seorang penari sebelum turun pentas, yakni tanah merah (batom mir), koteka panjang (okbul simit atau sangyum), gelang kaki (kapnong) gelang tangan, (yapet), yang berbahan dari kulit kayu, tali (nong), kampak batu (takol papi) dipegang dan disandar pada bahu, bulu burung cendrawasih, anting-anting di telinga, serta sepotong bambu di tangan.
Bagi orang Ngalum khususnya perempuan dan anak-anak yang belum mengikuti proses inisiasi, (pendewasaan), tidak diperbolehkan untuk mengetahui rahasaianya. Begitu pula suku-suku lain di luar Pegunungan Bintang untuk mengetahui rahasia dari Oksang tersebut. Kenapa perempuan demikian? Dengan makasud, bahwa tidak terjadi sesuatu yang membahayakan kehidupan manusia Ngalum. Dengan kata lain, mendapatkan mala petaka (kutukan) dari sang pencipta. Selain itu, aksesoris yang dihiasi pada tubuh seorang penari sebelum turun pentas, yakni tanah merah (batom mir), koteka panjang (okbul simit atau sangyum), gelang kaki (kapnong) gelang tangan, (yapet), yang berbahan dari kulit kayu, tali (nong), kampak batu (takol papi) dipegang dan disandar pada bahu, bulu burung cendrawasih, anting-anting di telinga, serta sepotong bambu di tangan.
Ketika tarian ini berlangsung dimainkan, diringi dengan lagu. Para penari
dengan lembut menggerakan tubuhnya, seakan-akan seorang penari menari dan
berada di dunia yang berbeda. Setiap lagu yang dinyayikan dalam tarian Oksang,
mengisahkan tentang perjalanan Sang
Attangki (Allah Aplim Apom) dalam menyebarkan alam semesta beserta isinya
sebagai hasil kreasi-Nya. Selain itu, lagu mengisahkan tentang keagungan Attangki (Allah) yang memberikan dan
mengurapi bahan makanan serta manusia Aplim-Apom sendiri. Lagu-lagu yang
dinyayikan memiliki hubungan keterkaitan antara lagu yang satu dengan lagu-lagu
berikuitnya sesuai arah perjalanannya sang pencipta menyebar dan menempatkan
suku-suku serta ciptaan-Nya di seluruh negeri Aplim Apom Pegunungan Bintang. Dikarnakan,
tarian Oksang biasanya digelar atau dipentaskan pada sore atau malam hari.
Jumlah pemain dalam tarian Oksang berkisar 20-30 orang penari, sesuai kapasitas daya tampung dalam rumah panggung. Keaslian tarian Oksang dilihat dari banyaknya jumlah penari lebih dari 20-an orang, terlihat kurang memuaskan dan terlihat tidak begitu semangat. Maka tarian Oksang membutuhkan penari yang lebih banyak. Sebab tarian Oksang akan tampak terlihat nilai seninya kalau dimainkan oleh jumlah yang banyak. Tarian oksang di masa silam, para leluhur nenek moyang Aplim Apom sampai dewasa ini, masyarakat suku Ngalum diyakini bahwa dengan adanya pergelaran tarian Oksang bertujuan untuk meminta atau memohon atas kesuburan hasil pertanian, peternakan, dan menjaga kesehatan tubuh bagi manusia Ngalum kepada sang Attangki (Allah) sebagai sang pencipta.
Dipandang dari sudut kesaklaran terhadap tarian Oksang, tarian ini diharuskan ketika para remaja atau anak-anak yang sudah berumur dan sudah diinisiasikan diwajibakan mementaskan tari Oksang sesudah proses inisiasi selesai. Saat tarian itu berlangsung, perempuan baik mama-mama, anak perempuan, tidak dizinkan datang menonoton di panggung pementasan. Biasanya, setiap orang laki-laki setelah sudah inisiasi, ditengah-tengah kepala rambut, dikepang dari depan kepala hingga di belakang bawah leher. Ini menandakan bahwa, roh seorang laki-laki yang baik itu disembunyikan dalam kepangan rambut tersebut dan mengusir roh jahat. Apa bila dilihat oleh kaum perempuan, anak lelaki itu akan mendapatkan kutukan dan bisa meninggal dalam usia yang relatif mudah atau waktu kematiannya akan sangat singkat.
Dari sejak penciptaan, tarian Oksang masih dilestarikan sampai saat ini.
Tarian ini biasanya dimainkan kalau ada seseorang yang ingin memenuhi kebutuhan
ekonomi. Dalam tradisi suku Ngalum, orang tersebut akan mengundang dari kampung
A ke kampung B untuk mementaskan tari Oksang tersebut. Dalam bahasa Ngalumnya
disebut kurip. Alat-alat atau benda
yang dibawakan oleh kampung B untuk memberikan kepada kampung A atau yang
diundang berupa, rokok daun
(Tembakau), uansun (sejenis logam), atau sebagai alat pembayaran, gigi anjing (anon ningil) kampak batu, (takol papi), parang, tas (men/noken), serta busur.
Masyarakat
Ngalum mengadakan tarian Oksang tidak diberikan perjanjian atau berdasar kesepakatan.
Karena tidak terlepas dari kesaklran tadi. Maka tarian ini bisa diadakan
setahun sekali bahkan bisa dua tahun sekali tergantung dari keinginan
masyarakat
setempat kapan mau diadakan pementasan tari Oksang tersebut. Di sisi lain, tarian Oksang dipentaskan setelah masyarakat Ngalum menyelesaikan pembanguan rumah adat (ap iwol) bagi kaum laki-laki. Proses itu dilangsungkan dengan upacara bakar batu untuk pemberkatan bangunan atau rumah adat baru yang sudah dibangun. Bangunan atau rumah adat ini dibangun untuk memberikan pendidikan dasar atau inisiasi (Tena Kamil) kepada para kaum pria.
setempat kapan mau diadakan pementasan tari Oksang tersebut. Di sisi lain, tarian Oksang dipentaskan setelah masyarakat Ngalum menyelesaikan pembanguan rumah adat (ap iwol) bagi kaum laki-laki. Proses itu dilangsungkan dengan upacara bakar batu untuk pemberkatan bangunan atau rumah adat baru yang sudah dibangun. Bangunan atau rumah adat ini dibangun untuk memberikan pendidikan dasar atau inisiasi (Tena Kamil) kepada para kaum pria.
Dengan dibangunnya rumah adat (bokam iwol) serta pagelaran tarian masih berhubungan dengan maksud
untuk memperbaikai situasi ekonomi, pemulihan kesehatan, memohon
kesuburan akan hasil perkebunan, peretenakan dan tanah kepada sang pencipta (ATTANGKI). Selain itu, dengan tarian Oksang masyrakat Ngalum ketika dipentaskan,
para penonton khusus seorang wanita punya daya pikat atau daya tarik tersendiri
terhadap seorang penari laki-laki untuk menjadikan calon suaminya. Dengan kata
lain, tempat pementasan tarian Oksang merupakan tempat mencari jodoh khususnya bagi
kaum perempuan dalam bahasa Ngalum disebut namal
unor atau mengejar dari belakang untuk mendapatkan lelaki itu sebagai suaminya.
Oksang Sebagai Penggerak Kekayaan Budaya
Masyarakat Pegunungan Bintang Di Masa Kini
Berkembangnya dunia kepariwisataan di
Indonesia, Pegunungan Bintang juga tidak ketinggalan dengan budayanya. Salah
satu dari kekyaan budaya daerah ini adalah tarian Oksang. Tarian ini sangat tertutup
dan belum diketahui oleh masyarakat luas. Tidak hanya itu, di Pegunungan Bintang
juga banyak memiliki tarian-tarian lain seperti, tarian Bar, Yimne, Yasi,
Yambir, Etol, Amsang serta tarian lainnya. Meskipun demikian, kesemuaan dari tarian
tersebut, yang paling terkenal adalah tarian Oksang sendiri. Maka tarian ini,
masyarakat etnis Ngalum dengan berkembangnya dunia kepariwisataan, ingin melestarikan
tarian ini, agar tidak punah.
Sostenes Uropmabin, Staf Dinas Kepariwisataan, bahwa tarian ini dulunya disebut dengan tarian yang sangat sakral bagi masyarakat suku Ngalum. Sehingga dilarang dipentaskan dilapangan terbuka, mengingat kesaklaran itu, membuat manusia Ngalum akan mendapatkan hal yang buruk. Meskipun demikian, para tetua adat bersepakat dan memperbolahkan tarian ini dipentaskan dilapangan terbuka. Dengan tujuan, agar tarian ini dapat dilestarikan dan dijadikan sebagai daya tarik para wisatawan asing baik domestic maupun dari manca Negara bisa berkunjung dan mengenal budaya orang Ngalum di Pegunungan Bintang seketika ada penyelengaraan vestival budaya di PegununganBintang.
Sostenes Uropmabin, Staf Dinas Kepariwisataan, bahwa tarian ini dulunya disebut dengan tarian yang sangat sakral bagi masyarakat suku Ngalum. Sehingga dilarang dipentaskan dilapangan terbuka, mengingat kesaklaran itu, membuat manusia Ngalum akan mendapatkan hal yang buruk. Meskipun demikian, para tetua adat bersepakat dan memperbolahkan tarian ini dipentaskan dilapangan terbuka. Dengan tujuan, agar tarian ini dapat dilestarikan dan dijadikan sebagai daya tarik para wisatawan asing baik domestic maupun dari manca Negara bisa berkunjung dan mengenal budaya orang Ngalum di Pegunungan Bintang seketika ada penyelengaraan vestival budaya di PegununganBintang.
Tarian ini, baru kedua kalinya dipentaskan di gedung
studio rekaman milik UPT Museum Negeri Papua yang terletak di Expo Waena, Kota
Jayapura seolah-olah menjadi saksi bisu dari kelompok Tari Oksang, dari Distrik
Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang.Yang pada saat itu tengah menata diri sebelum
tampil pada ajang Pesta Budaya Papua XII tahun 2014. Sedangkan yang pertama
kali dipentaskan di ibukota Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang. Pada saat itu,
tarian Oksang hadir sebagai tuan rumah mengundang tarian-tarian lainnya mengadakan
perlombaan di lemba Oksibil (Sibil Banal bakon).
Pentingnya kesadaran akan suatu suku bangsa atas kulturnya perlu dilestarikan
agar budaya itu tidak hilang atau punah ditengah zaman modern ini. Sebab bangsa
yang besar merupakan bangsa yang memiliki budaya serta mitos-mitos yang
diyakini dan diceritakan dari nenek moyang hingga ke generasi berikutnya hingga
kini.
Tari Oksang sendiri menggambarkan ciri khas manusia suku Ngalum. Ketika
orang Ngalum menari tari Oksang, baginya akan menyebut dia adalah orang Ngalum atau
suku Ngalum. Diadakannya vestival seni tari di Pegunungan Bintang adalah menyadarkan
sekaligus mendidik orang Ngalum di Pegunungan Bintang khususnya para generasi mudah
masa kini agar belajar serta mempraktekan tarian Oksang di masyarakat. Namun untuk
mau belajar tarian Oksang, tidak segampang membalikan telapak tangan. Karena tarian
ini bisa dimainkan kalau bagi pria yang sudah tamat dalam proses inisiasi adat.
Tanpa orang mendapatkan inisiasi, tarian ini sangat sulit untuk dimainkan atau dipraktekkan.
Sekalipun dia orang dewasa, anak muda maupun anak kecil yang berumur 12 tahun.
Tarian ini sedang direncanakan akan dipentaskan di Melanesian Vestival Culturer di Kannaky,
New Caledonia di Pasifik Selatan yang
akan berlangsung pada tahun 2018. Ini baru pertama kali tari Oksang akan dipertunjukan
di tingkat Internasional. Dengan tujuan mempererat sesama ras Melanesia untuk bersama-sama
melestarikan serta menghidupkan nilai-nilai kemelanesiaan di kawasan Pasifik dengan
berjuluki dalam bahasa rumun Melanesia yaitu‘’Wantoks, Wapela graund na wanpela tumbuna’’.
![]() |
| Doc: Wengyepmut Opki |
Oleh: Wengyepmut Opki
Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia
Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar